
"Siapa kamu memutuskan pertemuan ini selesai?" Sharon kesal dengan penuturan menohok Stella yang diucapkan dengan tenang.
"Apa kamu lupa kalau dia sekertarisku? tentu saja dia telah mengatur jadwalku agar pekerjaan bisa selesai dengan cepat. Lagi pula, anda tak ada niat untuk menyetujui permintaan saya. Jadi kontrak tidak bisa diperpanjang" jawab lantang David yang mulai jengah dengan tingkah mantan klien nya.
Sharon merangsek maju ingin menahan David agar tak lekas meninggalkannya. Tentu saja dia mempunyai rencana dibalik pertemuan ini.
Namun Stella yang membaca situasi melangkah maju didepan David.
"Maaf, gadis rendahan bergelar magister dan masih perawan mau lewat bawa orang penting. Anda yang murahan silahkan menyingkir" sarkas Stella yang mengejutkan David.
Stella bahkan menahan layangan tangan yang hendak menamparnya.
"Apa anda yakin menggunakan tangan kanan untuk melakukan hal sia sia? karena saya jamin anda tak bisa menggunakannya lagi. Anda mungkin harus menggunakan tangan kiri anda untuk makan" ancam Stella sambil mengeratkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Sharon yang mengaduh.
Stella lantas menghempaskan tangan itu dan menggeser tubuh Sharon dengan tubuhnya agar memberikan jalan bagi sang presdir.
Senyum manis Stella kembali mengembang kala mempersilahkan sang presdir untuk keluar setelah dia berhasil membukakan jalan. Lalu mendorong Sharon yang berada dibelakangnya dengan bokongnya.
"Sialan, dasar gadis kurang ajar. Gawat, bisa dimarahin kakek kalo gini" teriak Sharon yang cemas setelah mengumpati Stella.
"Terima kasih, ekhem.. gadis rendahan bergelar magister" ucap David saat berada didalam mobil sambil menahan tawanya.
"Berisik" desis Stella membuat sang supir terkejut.
Berani sekali gadis ini berbicara tidak sopan pada majikannya.
"Kita ke restoran ini pak, lalu bapak cari tempat parkir tertutup agar mobilnya aman" titah Stella memperlihatkan lokasi meeting selanjutnya yang diadakan di sebuah restoran masakan Padang yang cukup luas namun lahan parkirnya terbuka. Stella khawatir ada yang bertindak jahil pada mobil mewah sang bos.
Sang supir mengangguk tanda mengerti.
Stella menengadahkan sebelah tangan pada David.
"Apa?" tanya David.
"Minta uang buat pak supir. Dia juga kan harus makan siang sambil nunggu bapak meeting" Stella menjelaskan.
David hanya mengulum senyum lalu merogoh saku celana dan menarik 2 lembar uang berwarna merah.
Stella menarik 2 lembar dan menyerahkan 1 lembar lainnya pada sang supir.
"Selembar aja cukup buat makan siang sendirian. Laki laki kalo dikasih uang lebih larinya kemana mana" tukasnya membuat David lagi lagi mengulum senyum.
"Udah cocok jadi emak emak" batinnya.
mereka masuk ke ruangan private room dadakan yang hanya di sekat oleh penyekat berbahan kayu dengan corak ukiran kayu yang berlubang lubang, jadi sedikitnya bisa digunakan untuk mengintip.
"Klien dari mana yang mengajak pertemuan di tempat sederhana seperti ini tuan?" tanya Stella saat sebagian pesanan makanan sudah dihidangkan. Sedangkan mereka sudah menunggu selama 5 menit. Makanan khas Perancis yang tadi menggoda Stella membuat perutnya meronta kala kini dihadapkan dengan menu wajib masakan padang.
Sorot matanya berbinar kala sang waitres menyimpan rendang tepat berada didepannya.
__ADS_1
glek
Stella menelan ludah.
"Udaaah makan dulu aja. Masih lama kok datengnya"
"Kenapa gak ngomong dari tadi sih"
Stella langsung mencuci tangan di wastafel yang tersedia lantas melahap apapun yang ada didepannya.
Pertarungannya tadi sangat menguras energi.
Stella tertidur setelah menghabiskan 2 porsi nasi dengan berbagai lauk yang tersedia.
"Kalo perut kekenyangan bisa bikin bodoh, kak" gumamnya dalam tidur.
David menoleh.
"Kak?" David sangat familiar dengan panggilan itu. Dia jadi teringat saat dulu mereka hendak belajar bersama namun menjadi acara belajar memasak dengan David sebagai tutornya.
David melirik pada kepala yang terkulai diatas meja makan yang sudah David perintahkan untuk dibersihkan, namun dia enggan untuk membangunkan Stella.
Setitik embun mencuat di sudut mata gadis itu.
"Stella.. kamu masih ingat padaku" lirihnya sendu. Tangannya melayang diudara kala ingin mengusap kepalanya. Namun takut mengganggu tidurnya.
"Tuan kenapa gak- bangunin- ini dimana?" tanya Stella saat menyadari kalau dia sudah berada di lain tempat. Seingatnya terakhir kali dia berada di restoran padang dan tertidur setelah kekenyangan makan.
"Sudah bangun? perlu bibi ambilkan sesuatu?" tanya Meyra. Mereka tengah berada di ruang istirahat karyawan yang disediakan di pantry.
"Bibi, kenapa Stella bisa ada disini? tadi kan Stella lagi.. meeting.. meetingnya gimana?" tanya Stella dengan panik dan bergegas bangkit menyibak selimut tipis.
"Meetingnya kan udah tadi di restoran perancis, kamu gimana sih? terus kamu gimana bisa pingsan, hah?"
"Pingsan? mana mungkin Stella pingsan. Orang Stella ngantuk gara gara kekenyangan makan"
Stella lantas terpikir akan sesuatu.
"Siapa yang bawa Stella kesini, bi?" tanyanya sedikit berbisik.
"Menurutmu?" Meyra balik bertanya sambil menyilangkan kedua tangan didada.
Stella menutup mulut menganganya dengan kedua tangan.
"Tidak mungkin dia yang menggendongku kan, bi?"
"Lalu menurutmu pak Komar yang harus menggendongmu, begitu?"
"Ya enggak gitu juga. Tapi seenggaknya kenapa Stella gak dibangunin aja?"
__ADS_1
"Mungkin kamunya yang kebo, daripada telat meeting cara cepet ya gendong" Meyra menjelaskan dengan mantap.
"Tapi pasti orang orang pada liatin Stella kan, bi"
"Tenang aja. Tadi si bos udah pake mode siluman, jadi gak keliatan kalo kalian gendong gendongan kek penganten baru" ucap Meyra mengejek Stella yang wajahnya mulai memerah.
"Aaargghh, dasar bego.. kenapa harus tidur disembarang tempat coba" rengeknya.
"Udaaah sana kerja lagi. Ntar dihujat pengagum bos lagi, leha leha mulu"
Stella lantas bangkit dan keluar dari pantry sambil menyembunyikan rasa malunya.
"Dasar kebo, bisa bisanya mati abis makan" lirihnya merutuki diri sendiri.
tok
tok
Stella langsung mendorong pintu setelah mengetuk.
"Tuan, maaf- lah.. kosong" Stella celingukan karena tak ada siapapun di ruangan eksklusif ini.
"Bi, tuan rese kemana?" tanyanya pada Meyra yang sudah berada di mejanya.
Meyra menunduk.
"Eh ditanya malah diem"
"Siapkan minum untuk 2 orang. Antarkan ke ruang rapat"
Stella terkesiap saat mendengar suara David yang tiba tiba ada dibelakangnya.
"B baik, tuan" Stella langsung meringis dan kembali ke pantry untuk membuatkan minum.
"Mulut sialan. Napa gak bisa ngontrol diri sih?" Stella menepuk bibirnya berkali kali.
tok
tok
Stella langsung membuka pintu kaca dan menaruh minuman yang ia buat didepan sepasang tamu yang duduk di kursi samping dekat kursi presdir nya.
"Dia.." ucapan tamu yang mana adalah seorang wanita terpotong kala melihat David menggerakan telunjuk dan jari tengahnya pada Stella tanda memintanya mendekat.
Stella mendekat dan membungkuk karena tampaknya sang bos hendak menyampaikan sesuatu yang tak boleh tamunya ketahui.
Stella mendekatkan telinganya.
"Aku mau susu.."
__ADS_1