
Lusi seketika bungkam. Namun matanya mendelik sebal kearah Stella yang tengah tersenyum pada Wiliam.
"Dasar penjilat" sarkasnya dalam hati.
"Apa aku harus terus menahan tombol ini?" ucap David dengan datar.
"Ah iya. Mari kek, Stella bantu" ucap Stella mengambil alih pegangan kursi roda dibelakang dari ajudan Wiliam sambil menganggukan kepala padanya.
Stella membawa masuk Wiliam kedalam lift dan memutarnya kemudian.
Wiliam berada ditengah dengan Stella dibelakangnya, sedangkan David berada dekat tombol lift dipepet Lusi yang terus memandanginya dengan senyum menggoda.
Namun David bergeming. Dia tak mau menoleh sedikitpun kearah istrinya itu.
"Stella, cucuku. Kapan kamu akan menengok kakek ke rumah? apa kamu melupakan kakek?" tanya Wiliam disela keheningan dalam lift.
"Maafkan Stella, kakek. Jika saja seseorang tidak memberikan tugas yang menumpuk setiap harinya, Stella pasti mengunjungi kakek saat libur kerja. Jadinya waktu libur Stella malah dipake untuk tidur seharian dirumah, kek" keluhnya mendramatisir membuat Lusi lagi lagi mencebik.
"Apa dia selalu mengganggumu?" lanjut Wiliam.
"Selalu, kek. Kayaknya kalo Stella gak keliatan matanya udah habis kantor ini diubrak abrik" jawab enteng Stella mengadu membuat David meliriknya melalui sudut matanya.
"Apa kakek perlu memberikan pelajaran padanya?"
"Tentu saja. Kalau bisa pecat aja kek, dari posisi presdir. Biar Stella aja yang gentiin. Biar kayak di filem filem itu kek"
Wiliam terkekeh dengan penuturan Stella yang lucu menurutnya.
"Hei, membicarakan orang itu harusnya dibelakangnya. Lagian niat kok diumbar" sergah David dengan datar.
"Kalo membicarakan orang dibelakang itu namanya munafik, trus kata ayah Stella, lebih baik berkata jujur meskipun menyakitkan dari pada memendam trus nusuk dari belakang. Iya kan kek?" sindir Stella.
Wiliam tak hentinya terkekeh. Namun seseorang yang seolah tak kasat mata mengepalkan tangannya dengan perasaan amarah tertahan.
Jika saja bukan karena keinginannya yang ikut dengan Wiliam ke kantor demi melihat aktifitas suami dan mantan sahabatnya itu, dia tak mungkin mau datang bersama pria tua itu. Karena sekuriti dan bagian front office sudah membloknya agar tak bisa masuk kantor ini.
Mereka tiba di ruangan presdir. Stella memerintahkan OB untuk membuat minuman karena dia harus merekap jadwal hari ini.
Stella kini menempati meja Meyra diluar ruangan, membuat David gelisah karena tak bisa melihatnya. Selain itu kehadiran Lusi membuatnya tak nyaman.
Saat Stella tengah menyusun ulang jadwal dan melakukan beberapa konfirmasi pertemuan yang harus dilakukan hari ini, David tak tahan jika tak melihatnya.
"Stella, buatkan aku kopi" titahnya melalui sambungan interkom.
"Biar aku saja" sergah Lusi inisiatif. Dia ingin memperlihatkan baktinya pada sang suami dihadapan Wiliam.
David tak menggubris dan membiarkan Lusi pergi ke pantry.
__ADS_1
"Ada apa kakek kesini? kenapa bawa wanita it juga?" tanya David akhirnya yang sedari tadi menyimpan pertanyaan itu.
"Kalau kakek gak kesini lantas kapan kamu akan menemui kakek. Dasar cucu durhaka" gerutu Wiliam.
"Salah sendiri miara cewek jadi jadian. Males kan jadinya" keluh David.
"Dia itu masih istrimu. Ingat itu"
Lusi yang baru masuk dengan berjalan hati hati membawa nampan dengan secangkir kopi yang terlihat sedikit tumpah karena airnya yang terlampau penuh tersipu malu kala mendengar Wiliam membelanya.
"Sayang, ini kopi mu. Aku membuatnya dengan penuh cinta" ucap Lusi dengan penuh percaya diri.
"Stella, mana kopiku?" David mengulang permintaannya melalui interkom.
"Tapi tuan-"
"Ma na ko pi kuuu..." tegasnya.
"Segera, tuan"
"Kamu benar benar menyusahkan" tukas Wiliam yang tak percaya dengan kelakuan cucunya.
"Sayang, kenapa kamu gak coba-"
"Aku gak minum kopi buatan sembarang orang. Bahkan buatan bibi Mey pun aku tak minum" sanggahnya memotong bujukan Lusi.
David menoleh padanya dengan tatapan tajam.
"Aku rela diapa apakan olehnya"
"Stellaa..."
ceklek
"Siap, tuaaan..."
Stella melangkah mantap sambil membawa nampan dengan sebelah tangannya. Tak ada setetespun cairan yang tumpah keluar dari bibir cangkir. Menaruhnya dengan elegan lalu berbalik dan melangkah.
"Tunggu" sergah David membuat Stella menghentikan langkahnya.
"Apa kamu menaruh sesuatu didalamnya?" tanya David membuat Stella membalikan tubuh menghadapnya.
"Menurut tuan?"
David mendelik kearah kopi memberinya kode untuk mencicipinya terlebih dahulu.
"Hhhh..."
__ADS_1
Stella menghela nafas malas, lalu meraih cangkir itu dan mencicipinya lalu melihat jam tangan seperti menghitung waktu.
"Lihat, tak terjadi apa apa denganku, tuan" ucapnya.
"Bagus"
David lantas meraih cangkir itu dan meminumnya tepat ditempat Stella menempelkan bibirnya untuk mencicipinya, membuat Lusi terperangah membuka mulutnya lebar lebar.
"Kamu... kalian.."
"Boleh saya meneruskan pekerjaan saya, tuan?" Stella meminta izin.
"Hmm" jawab singkat David sambil mengibaskan tangannya.
"Kakek, Stella kerja dulu ya. Kalau ada yang kakek butuhkan panggil saja Stella" pamit Stella dengan sopan.
Wiliam terus mengembangkan senyum kala Stella berbicara dengannya. Tangan keriputnya menepuk punggung tangan Stella lalu mengangguk.
Stella pun melangkah keluar setelah mendapat izin dari keduanya lalu sedikit menundukan kepala pada Lusi tanda menghormatinya sebagai istri atasan.
Namun apa yang dilakukan Lusi membuat Wiliam mengernyit karena Lusi membuang mukanya saat Stella berusaha menghormatinya.
"Sayang, kamu kapan pulang ke rumah, aku kangen. Bukankah suami istri tidak boleh pisah ranjang apalagi pisah rumah?" keluhnya manja.
"Ck, bukankah perjanjiannya aku hanya menikahimu karena kamu hamil? kamu bahkan tidak menjaga kandunganmu, untuk apa aku mempertahankan hubungan yang bahkan aku tak meridhoi nya. Sebenarnya sudah tak ada yang bisa dipertahankan dari pernikahan ini. Kalau kamu memang berniat memintaku bertanggung jawab atas apa yang aku bahkan ragu telah melakukannya, kamu seharusnya menjaga janin itu dengan baik jadi kamu bisa tetap mempertahankan pernikahan" jawabnya tegas.
"Namanya juga istri hamil ditinggal sendiri. Makanya kamu pulang, bikin aku hamil lagi"
"Heh. mimpi, kamu. Sampau kapanpun aku gak akan pernah mau menyentuhmu, wanita licik"
"Kakek.. kenapa diam saja? bukankah kakek juga menginginkan David pulang ke rumah?" rengek Lusi pada Wiliam.
"Hhh... pulanglah, nak. Kakek kesepian. Cucu menantu kakek juga sibuk jalan jalan terus, pulang larut terus, kakek gak keurus" bujuknya sambil menyindir Lusi yang kini menundukan kepala.
"Tapi aku ada syarat. Dan itu tak bisa dibantah. Ya atau tidak sama sekali"
"Baiklah, terserah kamu. Yang penting kamu pulang" tukas Wiliam mengalah demi kembalinya sang cucu ke rumah besar.
"Yess.. akhirnya aku bisa melancarkan rencanaku untuk menjebaknya" girang Lusi dalam hati.
"Stella, kemari" titah David melalui interkom.
tok tok
"Ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Persiapkan dirimu, mulai malam ini kamu ikut saya pulang ke rumah besar"
__ADS_1
"Haaaaah..."