
"Cukup, Imelda. Setelah selama ini kamu dan anakmu menipu dan memanfaatkan kami, sekarang kamu datang untuk mempermalukan cucu menantu ku?" raung Wiliam diatas kursi roda yang tengah didorong ajudannya. Meski sudah tak kuat berdiri lama, namun aura tegasnya masih terpancar dan terasa merinding kala mengaum.
"T-tuan Wiliam.. ah.. maaf, maksudku.. bukan seperti itu. Aku hanya ingin memastikan cucu menantu anda tidak akan mengecewakan anda" tukasnya sambil menunduk, namun tetap berusaha merendahkan Stella karena kesal posisi anak sambungnya direbut Stella. Meski Stella anak kandungnya, tapi bayangan Arya yang miskin tergambar di wajahnya sehingga membuatnya tak terima jika kini anak kandungnya berada diatasnya secara materi.
"Tentu saja dia tak akan mengecewakan keluarga besar kami. Karena kami sangat selektif tentang siapa yang akan bersanding dengan keturunan Wiliam. Jika saja cucuku tidak dijebak dengan jebakan murahan, mana mungkin cucuku mau dengan anak sambungmu" tukasnya dengan nada menyindir.
"Apa maksud anda, tuan Wiliam. Bagaimana bisa seorang terhormat seperti anda merendahkan anak kami yang berasal dari kalangan terpandang, sedangkan dia jelas jelas berasal dari kalangan bawah begitu anda sanjung. Apa jangan jangan dia yang sudah menjebak cucu anda untuk menyingkirkan putri kami sehingga David dengan tega menceraikannya" pekik Imelda mempertahankan harga diri keluarga suaminya. Jika tidak begitu dia akan ditendang keluar dari keluarga Frost.
"Heh.. lihat siapa yang mengaku sebagai ibu kandung cucu menantuku. Apa seperti ini yang namanya ibu kandung? alih alih meluapkan rasa rindu karena baru bertemu kembali dan meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan di masa silam, kamu malah terus mendesaknya dan merendahkannya. Semua orang disini tahu siapa yang rendahan, jadi berhentilah membuat ulah" dengan santai Wiliam berkomentar dan berbalik kembali ke meja nya.
Para tamu memang tampak saling berbisik dan memandang sinis padanya.
Imelda lantas tak bisa berkata kata lagi. Tadinya dia hendak melakukan negosiasi dengan Stella perihal uang bulanan untuknya sebagai ibu kandung. Lumayan untuk tambahan nyalon. Namun semua tak sesuai prediksi. Dia yang sudah melarang sang suami untuk hadir dan digantikan oleh nya kini malah pulang membawa rasa malu dan sesak yang luar biasa membangkitkan amarah yang tertahan. Bagaimana lagi caranya agar bisa tetap menikmati kemewahan yang diagungkannya.
"Kamu gak pa pa?" tanya David seraya mengusap lembut pipi mulus Stella yang kini tampak merah dengan cap lima jari.
__ADS_1
"Gap pa pa, kak. Segini gada apa apanya dibandingkan penderitaan ayah"
cupp
David mengecup lembut pipinya.
"Dah.. pasti sebentar lagi sembuh" ucapnya menghibur Stella.
"Kakak, tambah merah pipiku nanti" rengek Stella malu malu sembari memegang pipinya.
Tanpa mereka sangka, salah satu tamu yang sedari tadi menyaksikan drama itu dengan santainya mendekat pada pasangan pengantin yang tengah saling melempar canda sambil menghibur Stella yang sempat menjadi sasaran sang ratu drama.
"Wah wah.. selamat untuk kalian yang sudah dipermalukan di pesta kalian sendiri" ucap tenang Weli dengan gaun elegan dan make up tebalnya. Tak lupa sikap arogan yang membuat Stella pegal pada pangkal leher nya.
"Hhh... Satu lagi biang kerak" keluh David menggumam.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah berbesar hati dan mengesampingkan rasa malu, karena anda tidak diundang" sarkas David.
"Heh, aku gak masalah kalau tak mendapat undangan resmi atas namaku. Masih ada atas nama orang tuaku, kamu lupa? ah iya, satu lagi. Aku juga tak masalah jika harus menjadi pasangan tak resmi mu. Jaga jaga kalau istrimu itu sedang halangan atau sedang merajuk dan tak bisa melayanimu" ucapnya serak sembari memutari kedua pasangan itu.
Stella melipat keningnya.
"Maksudnya apa? apa kamu sedang menjajakan diri, nyonya yang terhormat? "Weli tertegun dengan pernyataan Stella"
"Gadis sialan" geramnya.
"Maaf, anda salah tempat jika ingin berjualan. Lagi pula, anda sudah cukup tua untuk saya jadikan pelampiasan. Lagi pula masih banyak anak gadis kolega ku yang mengantri ingin menjadi yang ke sekian. Kenapa saya harus memilih bunga layu?" sindir David yang dibalas cubitan di pinggang.
David sontak memejamkan mata menahan rasa panas akibat cubitan Stella.
"Tapi saya tak butuh yang lain karena saya sudah memilikinya. Dia saja belum aku habiskan" lanjut David yang langsung mengecup bibir Stella. Membungkam amarah sang istri yang hendak menyemburkan api.
__ADS_1