The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Tensoplas


__ADS_3

Rutinitas bekerja dimulai pagi ini. Pasangan baru itu bersiap untuk berangkat kerja setelah sarapan. Stella benar benar sigap dalam menyiapkan sarapan. Para asisten rumah tangga pun takjub dengan sifat tanggung jawab majikan barunya terhadap keluarga. Sangat berbanding terbalik dengan majikan lamanya, Lusi, yang hanya pergi ke salon dan club malam sebagai rutinitas hariannya. Tak jarang pula pulang dari club dalam keadaan mabuk. Sedangkan jika tak bepergian, dia hanya bersantai di pinggir kolam dan melakukan video call selama ber jam jam sembari memamerkan pakaian renang baru nya yang kesemuanya sangatlah minim.


Selain itu perlakuannya pada semua art sangatlah otoriter dan cenderung kasar jika melakukan kesalahan sedikit saja.


Hmm pada penasaran gak nih sama nasib Lusi🤔


"Kakek, kita berangkat kerja dulu ya. Nanti Stella usahakan pulang tepat waktu biar bisa masak makan malam"


cupp


Stella mengecup pipi Wiliam setelah punggung tangannya.


Hati Wiliam menghangat dengan perhatian dan kasih sayang cucu menantunya.


Dia bersyukur Stella inisiatif tinggal dengannya di rumah besar itu. Padahal Wiliam tahu jika David sudah membeli mansion mewah atas nama Stella sebagai hadiah pernikahan untuk istri tercinta.


Jangan tanya hadiah dari Wiliam, karena dia tak mau kalah dengan sang cucu dalam memberikan hadiah untuk Stella.


Dia membelikannya helikopter yang terparkir di halaman mansion.

__ADS_1


Entah apa yang dipikirkannya sehingga membelikannya burung besi itu.



Eurocopter EC155 yang dibanderol dengan harga 154m masih terbilang murah dibanding dengan koleksi mobil mewahnya yang bernilai hingga 300m.


"Tidak bisakah kamu tinggal di rumah saja, cucuku sayang?" pinta Wiliam basa basi.


"Ow kakek. Sepertinya Stella tak bisa melakukan hal itu saat ini. Kakek ingat gelarku akan tersimpan begitu saja dalam tumpukan berkas. Kakek sudah sangat banyak mengeluarkan beasiswa untukku, dan anggap saja ini adalah balas jasaku untuk kebaikan kakek selama ini" jawab Stella diplomatis.


"Kamu tau tentang asal muasal beasiswa itu?" tanya Wiliam heran. Apa cucunya yang memberi tahu, atau Meyra sang bibi yang merupakan mantan sekertarisnya yang membongkarnya?


"Tentu saja Stella tau, kakek. Stella mencari tahu agar suatu saat Stella bisa mengucapkan terima kasih pada dermawan itu. Dan inilah saatnya Stella menunjukan rasa terima kasih Stella pada pemilik yayasan" Stella mengedipkan sebelah matanya pada Wiliam karena rahasia ya berhasil ia ketahui.


"Nah, kakek tau. Mana mungkin Stella memberikan kesempatan pada ulat bulu untuk mendekati aset terpenting perusahaan" tukas Stella melirik sang suami yang melempar pandang kearah langit langit.


"Udah ayok, kelamaan. Jalanan macet nih. Kakek, David pamit kerja ya" David mencium punggung tangan Wiliam dengan takzim.


David menggandeng tangan Stella erat. Sesekali mengecupnya. Dia tak menghiraukan protes yang dilayangkan Stella karena malu. David benar benar semaunya, Stella pun pasrah. 'Ya sudah lah, dari pada dia mengecup tangan wanita lain' batinnya yang sebenarnya merasa sangat senang dengan perlakuan suaminya.

__ADS_1


Saat mereka tiba di kantor, mereka dikejutkan oleh sambutan para karyawan yang serempak bertepuk tangan dan bersorak sorai seraya meletupkan beberapa convetti sebagai simbol ucapan selamat pada pasangan pengantin baru yang legendaris di kantor ini. Bagaimana tidak, seorang presdir yang dengan tegas memberikan peraturan untuk tidak menggodanya, justru dia sendiri yang mengejar karyawan baru.


Selain itu Stella dikenal sebagai pribadi yang humble dikalangan para karyawan meski jabatannya adalah tangan kanan sang presdir.


Kesempatan ini digunakan para karyawati untuk menyalami David 'the untouchable CEO'.


Mereka berlomba menyalaminya, bahkan ada yang sudah mendapatkan bagiannya untuk bersalaman, namun ia kembali dalam antrian demi kembali memegang tangan kekarnya.


Kapan lagi mereka bisa menyentuh seorang David Wiliam.


"Neng- eh maap, bu Stella" sapa Sarip sang sekuriti.


"Iya, pak Sarip. Biasa aja panggilnya gak usah formal gitu. Lagian usia bapak lebih senior dibanding saya"


"Ah, mana bisa bu. Bisa disuruh baring di parkiran, saya kalo berani gitu. Anu.. eemm.." Sarip memotong ucapannya, bingung harus bagaimana menyampaikannya karena dia takut disalah pahami si raja rimba.


"Kenapa? mau minta tolong gantiin jaga lagi?"


"Eh, bukaaan.. bukan itu. Anu ini.. maaf saya cuma punya ini, barangkali ibu mau pake buat nutupin.." Sarip memberikan tensoplas jumbo pada Stella dan menunjuk pada leher.

__ADS_1


"Haa...." sontak Stella terkesiap dan menutup area leher yang ditunjuk Sarip dan meraih tensoplas yang disodorkan padanya. Dia pun berlari kearah toilet untuk melihat di cermin dan memasang tensoplas itu untuk menutupi jejak percintaan mereka tadi pagi.


"Dasar suami rese, udah tau mau kerja pake nge cap di tempat yang bisa diliat orang lagi, Aduuuh.. malu kan jadinya. Mana disuruh pake blouse kerah rendah lagi" gerutu Stella sambil meringis.


__ADS_2