The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Secret Admirer


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Stella, David terdiam memikirkan cara mematahkan ancaman Lusi.


Namun Stella menganggapnya lain.


"Kakak marah sama aku?"


"Enggak" jawabnya ketus.


"Iya, kakak marah. Maaf" ucap Stella sambil menundukan kepalanya. Dia memang tak bisa menolak jika ada yang menanyakan tentang pelajaran padanya. Dan selalu berakhir dengan pemberian sesuatu dari mereka yang merasa terbantu.


Stella yang di didik agar menjadi pribadi yang ramah tak bisa menampilkan wajah judes atau garang. Jadi dia akan membalas kebaikan orang orang terhadapnya setidaknya dengan senyum.


ciiit


"Astaghfirullah, kak.. kaget aku. Jan nge rem ngedadak dong. Kan bahaya. Gimana kalo- hmmpp..."


David tak bisa menahannya lagi. Dia membuka seat belt dan langsung mencium bibir Stella yang tengah protes padanya.


deg deg


deg deg


plok


David melepas bibirnya dan menatap Stella lekat.


"Aku cemburu"


Wajah Stella memerah. Jantungnya tak bisa dia kontrol.


"A apa maksud kakak?" lirih Stella masih mencoba menetralkan jantungnya yang sebentar lagi naik ke kerongkongannya.


"Aku suka sama kamu. Dan aku gak suka kamu senyum sama laki laki lain selain aku"


"T tapi-"


"Kamu pacar aku. Jadi udah gak boleh lirik lirik cowok lain" tukasnya tak mau dibantah. David lalu kembali melajukan mobilnya.


"Kapan aku setuju jadi pacar kakak. Lagian siapa yang lirik cowok lain" protes Stella dari sekian protesannya sepanjang perjalanan yang diiringi tawa mereka.


David akhirnya memutuskan mengambil langkah sebelum Lusi mendahuluinya. Dia yakin Stella orang yang menghargai kejujuran selama dia menyesali perbuatannya dan tidak mengulanginya.


Sebesar itu hatinya membuat David tak tega membohonginya. Dia rela kehilangan mobil bersejarahnya. Bersejarah karena mobil itu yang mengantarkannya untuk dekat dengan Stella, serta kenangan kebersamaan mereka melekat pada mobil itu.


Dia pikir mereka bisa membuat kenangan kembali pada mobil lain.


David menceritakan semuanya pada Stella dan berharap Stella mau memaafkannya.


Tanpa dia duga, Stella malah memberikan senyuman manisnya.


"Kamu.. gak marah?" David bertanya ragu ragu.


Stella menggeleng. Lalu memberikan pernyataan yang diluar ekspektasinya.

__ADS_1


"Aku seneng kalo aku bisa jadi pusat perhatian kalian. Bahkan aku dijadikan bahan taruhan kalian"


"Gitu doang? gak ada maksud buat jambak aku gitu? atau mencak mencak aku gitu? trus nasib mobil kita, kamu gak ngerasa sayang gitu mobilnya diambil orang?" David terheran dengan reaksi simple Stella.


Stella tertawa ringan.


"Biar apa, kak? aku bukan orang yang suka ribut. Kalo mau tetep sama aku, hayuk, kalo ngerasa bosen sama aku ya udah, aku gak mau maksain seseorang buat tetep sama aku"


David merangsek hendak memeluknya.


"Eit.. mau apa kak?"


"Peluk"


"Kata siapa boleh?"


"Kamu kan pacar aku"


"Kalo pacarnya mati karena jantungan gimana?"


David mengerti kalau jantung Stella berdetak kencang seperti dirinya kala mereka bersentuhan.


Mereka akhirnya hanya tertawa. Tidak perlu ada kontak fisik berlebihan bukan dalam hubungan sebelum menikah. Atau itu akan menjadi bencana bagi mereka, terutama bagi perempuan.


David tak salah menilai Stella. Gadis ini sangat patut untuk diperjuangkan. Dia berjanji tak akan pernah melepasnya. Dia juga tak akan pernah menyakitinya.


"Stell"


"Gue mo ngomong sesuatu sama elo" pinta Lusi.


"Ngomong aja sii" jawab Stella sambil memilih buku mana yang belum dia baca. Hingga dia menemukan 1 buku yang belum pernah dia lihat sebelumnya, namun tampak sudah lama melihat dari kondisi lembarannya yang sudah menguning dan sampul bukunya yang sedikit bergerigi di sisi sisinya.


"Secret Admirer" gumamnya. Dia jadi teringat dengan pernyataan David kemarin sore.


Dia lantas mengambilnya dan membawanya untuk dipinjam ke rumah.


"Lo tau gak kalo lo sebenernya jadi bahan taruhan David sama temen temennya?" Lusi membuka mulut karena melihat David yang tak menghiraukan ancamannya. Mereka malah tampak terlihat semakin dekat. Dan Lusi tidak menyukainya.


Bagaimana mungkin dia yang jauh lebih cantik dan lebih modis tidak dilirik sedikitpun oleh David. Apa matanya bermasalah? pikirnya.


Stella menghentikan langkahnya saat hendak duduk di kursi paling belakang di perpustakaan itu.


"Kamu tau dari mana?" tanya Stella yang kemudian melanjutkan langkahnya dan mendaratkan pantatnya di bangku kesayangannya.


"Ya aku denger dari mereka sendiri lah. Gak mungkin aku dengerin gosip bukan dari sumbernya langsung. Elo.. baik baik aja kan? jangan sedih ya beb.. masih banyak kok cowok lain yang-"


"Ngomong apaan sih? gue udah tau kali"


"Hah? lo udah tau?"


Stella mengangguk sambil membuka lembaran demi lembaran buku novel itu.


"Kok gak cerita sama gue?" Lusi kecewa karena dia kalah lagi.

__ADS_1


"Buat dighibahin sama elo? elu kan tau gue bukan orang yang suka ngomongin kelakuan orang. Apalagi mempengaruhi orang buat benci seseorang"


"Trus?"


"Terus apa?"


"Lo gak marah gitu?"


Stella menggeleng


"Emang harus ya? lagian kan itu awalnya sebelum dia kenal gue. Manusia itu kan emang gitu, suka menilai dari penampilan yang belum tentu isinya sesuai dengan penampilannya. Yang penting kan hasil akhirnya bagaimana dia memutuskan menilai seseorang itu berdasarkan hatinya" jawaban Stella membuat Lusi muak terus berpura pura.


"Gue ke toilet dulu ya" pamit Lusi yang langsung beranjak sebelum diangguki Stella.


Stella menggeleng lantas melanjutkan membaca yang menarik perhatiannya.


^^^*To S.^^^


^^^Seandainya kamu tak pernah berdiri didepan sana, mungkin aku tak pernah menyadari akan kehadiran sosokmu di sekolah ini*.^^^


^^^Sosok yang lain dari yang lain.^^^


^^^Sosok yang selalu membuatku ingin melihatmu barang sedetik saja meski dikejauhan.^^^


^^^Sosok yang kuyakin adalah pemberi kado termanis yang pernah kuterima meski tanpa membubuhkan nama.^^^


^^^Sosok yang mengajarkanku akan kesederhanaan dan kesabaran dibalik kegigihan akan usahanya.^^^


^^^Sosok yang kuyakin kalau kamulah masa depanku.^^^


^^^Will you be mine?^^^


^^^From 'D'^^^


Mata Stella berkaca kaca. Apakah ini dari orang yang dia fikirkan?


Stella lantas menambahkan sesuatu di bawahnya. Setetes cairan lolos dari matanya, dan membentuk noda bertanda hati pada kertas dan dia beri garis pinggir.


Senyum mengembang di bibirnya lalu ia tutup kembali.


Dia tak berniat membawanya pulang. Memilih menaruhnya kembali ke tempat semula, berharap dia mengambilnya kembali untuk membaca balasan darinya.


"Kak Deri.. aku butuh bantuan kakak.. tenang aja, pasti ada imbalannya" Lusi menghubungi nomer Deri yang pasti dimiliki hampir semua siswi pecinta cowok kece di sekolah.


Sepulang sekolah, seperti biasa David pasti menjemput Stella. Namun tampak ekspresi murung darinya. Stella bingung karena dia sedang tak berinteraksi dengan siapapun saat keluar gerbang.


"Kakak kenapa? marah lagi sama aku?" tanya Stella takut takut.


David menggeleng.


"Ini hari terakhir mobil ini jemput kamu" keluhnya.


"Yang penting hati kakak tetep sama aku"

__ADS_1


__ADS_2