The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Gadis Rendahan


__ADS_3

David tergelak melihat landak albino nya lari terbirit birit setelah dia membalas kejahilan sekertaris kesayangannya.


"Dasar amatir. Kamu mana bisa jadi wanita murahan" monolognya sambil masih terbahak.



"Stella.. kamu kenapa?" tanya Meyra saat melihat Stella tengah merutuki dirinya sendiri.


"Bibi boong, gak mungkin bos rese itu mecat cewek yang ngegodanya" rengek Stella dibalik pintu atasannya sambil menghentakkan heels nya.


"Emang kamu... hahahaha..... " Meyra terbahak dengan apa yang ponakannya coba lakukan dengan memindai penampilan absurd Stella.


"Gak akan mempan sama kamu mah, Stell... hahaha..."


Stella menangis sambil menelungkupkan kepalanya di meja kerja.


"Bibi jahaaaat...." ucapnya meraung menenggelamkan kepalanya diantara kedua lengan yang dilipat diatas meja sambil terus menghentakkan kaki.


"Ekhem.. Stella bersiaplah kita ada meeting diluar"


"Stella nya ga ada" jawabnya masih telungkup.


David dan Meyra mengulum senyum melihat kelakuan Stella yang mirip bocah.


"Mey, tolong pesankan restoran padang kalo bisa yang ada private room nya. Untuk menu nya tentu saja menu wajib masakan padang, rendang, lalap daun singkong, sambel ijo, otak, paru, kikil. Kalo Stella gak bisa, kamu aja gak papa. Sekalian makan siang" ucapnya mengabsen beberapa menu sambil melirik pada kepala yang setia telungkup.


Namun suara rengekannya tak terdengar.


"Baik, pak. Biar nanti saya siap-"


"Aku siap siap dulu" potong Stella yang langsung bangkit dan melangkah kearah toilet untuk me re-touch make up nya. Tak lupa dia mengibaskan rambut ekor kuda nya ke wajah David.


"Hahaha.... dia gak akan bisa lari dariku lagi, bi" gelaknya sambil melakukan tos hi five dengan Meyra saat Stella sudah terlihat masuk toilet.


David dan Stella berangkat dengan David sang bos berjalan di depan tentu saja.


Stella melangkah mantap dengan mendekap berisi dokumen untuk di bahas dalam rapat, rambut ekor kuda nya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Saat David menoleh padanya Stella segera membuang mukanya membuat David mengulum senyum.


Pemandangan itu disaksikan para karyawan yang berpapasan dengan mereka.


Kini semua karyawan mengenal sosok Stella sebagai sekertaris yang mampu menaklukan bos besar mereka.


Mobil hitam dengan harga 65M telah siap menunggu di depan pintu lobby.

__ADS_1



Stella membelalakan mata dan mulutnya kala melihat tampilan Bugatti Veyron yang kelewat mewah.


"Maaf tuan. Apa kita bisa menggunakan kendaraan lain?" sergah Stella saat sang supir membuka kan pintu untuk sang presdir.


"Kenapa? apa ada masalah?"


"Saya rasa mobil ini terlalu berlebihan untuk dibawa makan siang di restoran padang" Stella memberikan pendapatnya dengan nada datar sambil sedikit membungkuk agar orang orang melihatnya sangat menghormati sang bos.


"Apa tuan gak takut dipalak preman parkir?" bisiknya kemudian.


David sedikit mengulum senyum.


"Pak, ambil yang satu lagi" titahnya pada sang supir.


"Baik, tuan" sang supir menunduk dan mengikuti perintah majikannya.


Tak lama datanglah Mercedes AMG yang juga berwarna hitam.



Stella kembali ternganga.


"Ayok, masuk. Kita sedikit terlambat" ujar David sambil melihat arloji dan masuk tanpa mengindahkan tatapan takjub Stella.


"Tuan, apa ti-"


"Ini mobil murah. Kamu tenang saja"


Supir segera melajukan mobil seharga 3M itu.


Stella melipat mulutnya namun tidak hatinya yang terus mengumpati presdir rese nya.


Mereka tiba di depan sebuah restoran mewah bergaya prancis.


Dari dekorasinya saja bisa ditebak harga 1 porsi makanan ditempat itu pastilah berharga ratusan ribu.


"Apa kita tidak salah tempat, tuan?" tanya Stella kebingungan.


"Ini tempat kunjungan pertama kita. Aku sarankan jangan memakan makanan yang terlihat seperti rendang. Makan siang utama kita di tempat selanjutnya" ucap David sambil turun dari mobil.


Mereka berjalan mantap beriringan hingga masuk kedalam ruang VIP yang telah dipesan klien yang sudah menunggu.

__ADS_1


"Halo, tuan Wiliam. Senang bertemu kembali denganmu" sapa seorang wanita yang sangat cantik dengan penampilan elegan nan seksi.


Seketika Stella merasa perutnya mual kala melihat penampilan seperti itu dan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh sang presdir pada wanita itu.


" Halo Sharon" balas David yang menghindari ciuman pipi yang hendak dilakukan Sharon dengan agresif.


Stella mengernyit.


'Really?'


"Ekhem.. kamu selalu seperti itu. Sampai kapan kamu akan menunggu gadis kampungan itu?" tanya Sharon dengan senyum manis.


"Kita disini untuk membahas kesepakatan yang telah pendahulu kita tetapkan, bukan? Dan saya rasa ada poin poin yang harus diubah" jawab David datar.


Stella menyimak dengan laptop dan catatan kecil di depannya.


"Kurasa kesepakatan itu tidak ada masalah. Kita hanya perlu memperpanjang lamanya kontrak kerjasama. Bukankah selama ini tidak ada masalah?"


"Itu karena kakek saya yang memberi kebijakan. Dan sekarang saya yang berwenang untuk memberi keputusan dan saya keberatan dengan isi kontrak sebelumnya. Tidak banyak, hanya beberapa poin"


"Apa itu?"


"Stella tolong jelaskan" David tak mau menyiakan suara emasnya untuk wanita sok berkelas dihadapannya.


Stella menjelaskan poin poin yang David inginkan untuk diubah karena selama ini keuntungannya sangatlah tipis. Selain itu seluruh biaya operasional pihak William Corporation yang menanggungnya. Dan itu dilakukan selama 5 tahun terakhir atas kebijakan sang kakek yang bersahabat dengan presdir Finn Corp.


Namun saat ini perusahaan sudah berada dalam kebijakan David dan tentu harus mengutamakan keuntungan perusahaan demi kesejahteraan para pegawai.


"20%?"


"Ya betul. Itu tak sebanding dengan perusahaan anda yang tinggal duduk diam dan menerima keuntungan. Sedangkan kami disini yang berjibaku dengan segala kendala dilapangan juga kenaikan harga bahan baku" jawab Stella.


"Apa kamu sekertaris yang baru? kemana yang biasanya dan sudah tua itu?" tanya Sharon yang terlihat sedikit tidak nyaman dengan tatapan David pada Stella, meski hanya berupa perintah menyampaikan maksud perusahaan.


"Beliau stay di kantor, nona" Stella menjawab dengan tenang dan hati hati.


"Ah ya tentu saja. Butuh tenaga seorang yang masih muda untuk mengimbangi stamina atasan yang masih muda" komentar Sharon dengan menjeda.


" Apa kamu menjual keperawananmu?" sarkasnya membuat David geram mengepalkan tangan.


Stella tersenyum sambil menahan tangan David dibawah meja.


"Tidak perlu merendahkan diri untuk mencapai tujuan bukan? lagi pula kontrak 5 tahun tidak sepadan dengan keperawanan. Dan jika kontrak habis maka kita sudah tidak berharga lagi. Saya mungkin hanya sekertaris. Tapi posisi saya lebih penting dibandingkan anda. Dan kontrak saya bisa lebih panjang dari anda. Selain itu saya masih memiliki mahkota saya saat kontrak berakhir. Bukankah itu keuntungan ganda?"

__ADS_1


"Ternyata gadis rendahan ini besar mulut juga ya untuk ukurannya yang kecil"


"Gadis rendahan bergelar magister ini mengucapkan terima kasih atas sanjungan anda. Baiklah tuan, waktu habis. Kita masih ada jadwal lain" Stella memberikan kode untuk segera pergi tanpa menyentuh makanan yang telah disajikan sedari tadi.


__ADS_2