The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Tukang Ngadu


__ADS_3

"Aaaaarrrgghh...."


David berteriak dan kembali mengamuk di dalam ruangan eksklusif nan nyaman itu.


Semua yang ada diatas meja berhamburan jatuh ke lantai.


David terus berteriak meluapkan amarahnya. Sesuatu yang sudah lama ia kubur selama diasingkan ke Belanda, kini kembali muncul.


"Tuan.. ya ampun, tuan presdir tenanglah.. akan aku panggilkan ketua Wiliam" tukas Meyra sambil menyodorkan air minum.


"Dimana dia bi.. dimana Stella" tanya David dengan tangan bergetar memegang gelas berisi air mineral hingga isinya hampir tumpah.


"Stella sudah pulang, tuan. Tapi tadi anu.. dia.. tuan Deri.."


"Apa.. apa yang Deri lakukan?" matanya langsung menyorot tajam.


"Justru tuan Deri yang diapa apakan"


"Apa maksudmu?"


"Tuan Deri dilarikan ke rumah sakit karena dibanting Stella, tuan"


"Apa? dia melakukannya?"


"Maafkan keponakan saya t-"


"Dia benar benar melakukannya? hah.. landak albino ku bisa melakukan hal itu padanya. Bagus, bi.. sekarang panggil dia kemari"


"Apa? t tapi tuan, perutnya.. istirahat.."


"Ah lupakan.. biar aku yang kesana"


Mood David tiba tiba berubah baik.


"Tapi tuan, setengah jam lagi ada meeting penting di restoran hotel Z, tuan"


"Apa tidak bisa ditunda?"


"Tuan sudah menundanya minggu kemarin"


"Aarghh sial. Jam berapa ini?"


"Baru jam 10, tuan"


"Pulang kantor masih lama..hhhh"


"Apa.. apa tuan mengingat Stella?"


"Mana mungkin aku tidak-" jawab spontan David membuat Meyra memicingkan matanya.


"Anda membohongi kami, tuan?" Meyra menyelidik.


"Hhhh... apa yang harus aku lakukan bibi Mey. Dia sepertinya melupakanku" ucap sendu David.


"Dia menderita insomnia akut, tuan. Saat dia melakukan kegiatan di siang hari, dia melakukannya dengan semangat. Dia mengisi seluruh waktunya untuk mempelajari berbagai hal. Tapi dia akan sulit tidur kala malam menjelang.


Dia pikir, dengan melakukan segala hal yang membuat tubuhnya lelah seharian akan membuatnya terlelap kala malam.


Tapi ternyata tidak, tuan. Dia sering menelponku untuk menanyakan kabar tuan,

__ADS_1


dan menangis


Dia sangat tersiksa, tuan"


David menitikan air mata kala mendengar penuturan Meyra tentang kondisi Stella selama ini.


"Bagaimana bisa dia-"


"Dia rutin pergi ke psikiater untuk menghilangkan memori tentang anda, tuan. Dengan metode hipnoterapi rutin. Dia benar benar terpukul. Dan sepertinya, metode itu juga sedikit merubah kepribadiannya. Terapis itu berhasil mensugestinya menjadi pribadi yang lebih berani. Cuma ekspresi nya yang bully-able gak bisa dirubah dari wajahnya"


"Aku gak tau gimana caranya menyingkirkan Lusi. Dia itu wanita licik. Seluruh keluarganya licik. Aku kasian sama kakek, dia sudah terlalu tua untuk terus memikirkanku.


Menurut bibi, kalau Stella inget David apa dia bakalan ngejauh lagi?" David mengungkapkan kekhawatirannya.


"Tuan minta lah petunjuk Tuhan. Dia yang Maha menguasai segala sesuatu. Saya tidak yakin apa yang akan terjadi nanti. Tapi saya juga menghawatirkan itu, tuan. Saya harap, tuan jangan berlebihan memberinya perhatian. Status tuan saat ini sangat tidak pantas untuk memberinya perhatian" ungkap Meyra memberikan pendapatnya.


"Stella sayang. Gimana udah baikan?" tanya Meyra saat tiba di apartemen sepulang kerja.


"Udah minum obat, bi. Tapi kenapa perutnya kerucukan teruuus" rengek Stella.


"Apa kamu sudah makan?"


Stella menggeleng.


"Itu sih namanya kelaperan. Bentar bibi bikinin makan"


Meyra merebus telur untuk mengisi perut Stella yang kosong agar tak shock saat diisi dengan makanan berat.


Sementara di luar pintu...


"pencet.. jangan.. pencet.. jangan..." David berperang dengan dirinya sendiri. Dia khawatir, tapi teringat pesan Meyra untuk tak berlebihan.


ceklek


Meyra segera menarik David menjauh dari pintu agar Stella tak mendengar mereka.


"Giman kondisinya, bi?"


"Cuma diare biasa. Ini bibi mau ke apotek beli persediaan obat"


"Saya mau ketemu, bi. Boleh?"


"Ngapain? Saya bilang jangan berlebihan"


"Cuma nengokin masa berlebihan, bi?"


"Berlebihan karena anda seorang presdir"


"Ya kan presdir yang bertanggung jawab atas kesehatan karyawannya. Ya bi, ya. Boleh ya" rengek David.


"Apa anda juga akan peduli pada saya? atau ratusan karyawan yang sakit? banyak loh hari ini yang gak masuk gara gara sakit. Bahkan ada yang sampe dirawat"


"Yaa... mereka kan.."


"Udah, sana sana. Jangan banyak modus. Syuh.. syuh.." Meyra menggiring David agar segera pergi.


"Tuan mobilnya dimana?" tanya Meyra yang masih berbisik. Padahal mereka sudah ada di lantai dasar dan terheran karena David hendak menyebrang jalan.


"Di basement lah. Bibi sama ponakan sama aja, gada takut takutnya sama atasan" jawab tenang David yang melenggang dengan gerutuan karena tak bisa menemui Stella dan harus menunggu hingga besok.

__ADS_1


"Hah, dia tinggal di seberang? dasar bos aneh. Kakeknya nyari nyari tempat tinggal dia, eh taunya ada didepan mata"


"Kok lama, bi. Stella kan laper" keluh Stella yang sudah meneteskan air liur menatap hidangan yang menantang di depan matanya.


"Ya ampun. Kenapa gak duluan aja makannya"


"Kan gak sopan, bi"


"Ya udah. Yok makan. Makan yang banyak biar kuat banting 10 buaya" sindir Meyra membuat Stella tergelak.


"Salah sendiri ngemodus sok kenal. Basi trik kek gitu"


Keesokan pagi David tak sabar menunggu kedatangan Stella. Sewaktu berangkat dia melihat Stella dan Meyra sudah melajukan mobilnya keluar dari area apartemen mereka. Tapi pada saat tiba di kantor David tidak menemukan keberadaan mereka berdua.


"Kenapa belum sampe? Apa telpon aja? ini jam ngantor loh, masa atasan dateng duluan dari bawahan? gak bisa dibiarin ini"


David menekan nomor Meyra sambil bersungut karena mereka belum juga sampai.


"Halo, bi. Kenapa belum sampai? ini udah jam.. jam.. eee.. setengah tujuh.." ucapan David yang menggebu melemah saat menyadari jika waktu masuk kantor masih 1,5jam lagi.


"Sarapan? sa.. saya juga belum.. sarapan.."


"......"


"Boleh, terima kasih"


David menelungkupkan kepalanya dimeja.


"Kenapa masih lamaaaa..." keluhnya.


tok


tok


Meyra masuk setelah mendapat persetujuan untuk masuk.


"Tuan, ini sarapannya"


"Dia mana bi, bukannya dia yang harus nyiapin buat saya?"


"Ck. Dia bukan istri tuan yang harus nyiapin sarapan dan segala keperluan pribadi tuan"


"Lalu apa bibi istri saya?" cebik David.


"Emang tuan mau?"


David bergeming. Lalu membalasnya dengan gumaman.


"Dimana mana yang namanya istri muda itu ya lebih muda"


"Yaaa siapa tau aja kepala tuan sedikit geser jadi mau yang udah reyot. Bisa jadi kan tuan ngincer harta saya"


"Harta apaan. Palingan juga cukup beli tusuk gigi" Meyra tergelak. Ternyata atasannya yang satu ini tak sekaku moyangnya.


"Panggil dia, bi"


"Udah, makan dulu aja. Nanti juga masuk sendiri"


"Tapi saya gak bisa makan kalo gak liat dia "

__ADS_1


"Jadi penasaran tuan Wiliam bakalan kek gimana liat kelakuan cucunya"


"Tukang ngadu" cebik David.


__ADS_2