
Semua sontak melirik pada arah yang ditunjuk kemudian serempak mengejar dan menangkap orang yang mencurigakan itu. Menyeretnya kehadapan sang eksekutif untuk diadili.
"Dia, tuan. Yang pertama bikin gerah kita kita" seru orang yang berhasil menangkapnya. Tampak menundukkan kepala, sedikit terlihat beberapa lebam ringan karena sepertinya dia sempat memberontak dan melawan karena menolak untuk diajak baik baik.
"Divisi apa?" tanya David padanya. Namun yang ditanya hanya bergeming.
"Apa ada yang mengenalnya?" David melempar tanya pada kerumunan. Tak ada yang mengaku mengenalnya karena mereka hanya saling melirik dan mengedikkan bahu.
"Hmmm... penyusup ternyata" gumam David yang bisa didengar orang orang yang berada dekat dengannya.
"Pak, tolong bawa dia ke ruang keamanan" titahnya pada sekuriti.
"Untuk yang lain, harap tenang dan bersabar. Kami sedang melakukan penyelidikan tentang masalah perusahaan. Yang pasti, saya selaku pimpinan akan mengusahakan apa yang memang menjadi hak kalian. Tapi saya minta kerjasama kalian yang berjumlah ratusan untuk bersabar. Karena kami harus mencari dana talang yang tidak sedikit untuk membayar keringat kalian" kompromi David menenangkan para karyawan yang akhirnya mereka kembali ke tempatnya masing masing.
David melangkah masuk gedung perusahaan dan langsung menuju ruangannya yang selama ini kosong namun rajin dibersihkan.
"Pak Andi, tolong bawakan baju ganti" pintanya pada sang asisten. Dia ingin membersihkan diri dari lemparan telur sebelum memulai pertemuan direksi.
David mencuci sapu tangan kesayangannya dengan sabun mandi. Dia tak mau mempercayakannya pada orang lain karena tak mau jika benda yang kini menjadi kesayangannya hilang dengan berbagai alasan. Terlalu berharga untuk disentuh orang lain, pikirnya.
Selesai membersihkan diri, masih mengenakan handuk di pinggangnya David teringat dengan landak kecilnya.
__ADS_1
Dia meraih ponsel yang tergeletak di meja nakas di samping sofa bed yang ada di ruang istirahat direktur.
Lama Stella mengangkat panggilan video darinya membuatnya gusar.
"Ayolah sayang... apa yang sedang kamu lakukan" gumamnya sembari mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.
"Halo sayang.. maaf aku tadi lagi.. mas abis ngapain kok mandi? jangan macem macem ya, baru juga pisah berapa jam masa udah-"
"I miss you, honey. Tadi aku dilempar telur jadi mandi" potong David yang sangat gemas dengan kecurigaan sang istri.
Stella tampak terkejut, lalu mengusap layar. Ingin rasanya menghiburnya secara langsung. Namun apa daya. Jarak yang memisahkan mereka hanya mampu membuat mereka saling mendo'akan keselamatan.
"Mas baik baik aja?" lanjut Stella.
Stella balas tersenyum merasa lega jika suaminya baik baik saja.
"Pakai baju dulu gih, nanti masuk angin. Aku gak mau kalo mas sakit"
"Eum senengnya diperhatiin istri. Iya ini lagi nunggu pak Andi ngambilin baju di mobil. Tapi lama"
tok
__ADS_1
tok
Terdengar suara ketukan di pintu.
"Tuh pasti dia. Sebentar ya sayang" ucap David tanpa mematikan panggilan videonya. Dia bahkan mengarahkan kamera pada ponselnya kearah pintu agar istrinya tak bertanya tanya siapa yang datang.
"Siapa kamu?" tanya David ketus saat membuka pintu.
"Ini.. sa saya mengantarkan pesanan pakaian bapak dari pak Andi, k katanya saya disuruh bantu pakein juga pak" ucap seseorang dibalik pintu yang mana adalah suara wanita.
David tidak membuka lebar pintu itu kala melihat bahwa yang datang ternyata bukan orang yang ia tunggu, melainkan seorang wanita berusia 30an.
"Apa apaan kamu. Mana pak Andi" tanya David kembali sembari bersembunyi dibelakang pintu agar si wanita tak melihat pahatan tubuhnya yang sempurna.
"Sudah saya bilang, beliau yang menyuruh saya. To..long buka pintunya pak" si wanita memaksa untuk mendorong pintu agar bisa masuk ke dalam ruangan.
Stella yang mendengar dan menyaksikan cukup panik dan marah dengan kelakuan para wanita diluaran sana. Kenapa mereka seolah terhipnotis dan kelaparan jika melihat sosok suaminya yang memang..
Pelukable
Loveable
__ADS_1
Kan bikin sebel.