
Waktu cepat berlalu. Usia kehamilan Stella sudah dipenghujung waktu HPL.
Stella yang tak mau mengetahui jenis kelamin calon bayinya merasa kecolongan kala sang bibi tanpa sepengetahuannya membisikan permintaan pada dokter spesialis kandungan saat menemani Stella memeriksakan kehamilan.
Stella kecewa karena sang bibi juga tak bisa membungkam mulutnya untuk tak memberi tahunya.
Namun bibi Mey tampak tak peduli. Justru semakin antusias berbelanja keperluan calon bayi perempuan yang pastilah sangat cantik, seperti saat ini dimana mereka sedang berada di toko pakaian bayi di sebuah Mall.
Stella sempat menyayangkan telah membuang, atau lebih tepatnya menyumbangkan pakaian lucu dan modis pilihannya untuk Yoda saat itu. Jika dia tahu akan hamil dan melahirkan seorang putri, mungkin dia akan menyimpannya dengan apik.
"Eits, gak boleh dikasih yang bekas dong. Semuanya harus baru. Hargai perasaannya meski masih sebiji kacang, tapi dia bisa merasakannya" petuah yang bibi Mey sampaikan sambil memilah beberapa potong pakaian anak perempuan yang tanpa sadar sudah memenuhi troley.
"Bibi.. ya ampun bi, yang mau punya anak siapa yang riweuh siapa. Kalo anaknya gak jadi perempuan gimana?"
"Hush.. ngaco kamu kalo ngomong gak boleh sompral"
"Lagian awal lahir ya gak mungkin langsung dipakein leging, bi"
__ADS_1
"Gak pa pa. Kan bisa disimpen buat nanti kalo gedean"
"Lagian bibi gereget sama hasil cetak Stella. Kan udah bisa cetak sendiri, bi. Tinggal cetak lagi biar puas tuh diunyeng unyeng sendiri anaknya"
plak
Meyra menampar lengan atas Stella gemas.
"Dipikir spanduk, apa, cetak cetak segala"
Yap, Meyra berhasil mempunyai anak dari pernikahannya bersama Rudolph. Di usianya yang sudah setengah abad akhirnya dia merasakan menjadi wanita seutuhnya.
Beruntung Meyra bercerai dari mantan suaminya yang ternyata memiliki kelainan seksual yang adalah seorang biseksual. Tak terbayangkan jika dia bertahan, akan mengidap penyakit seperti apa kala membayangkannya.
Sedangkan saat baru menikah dengan Rudolph, hanya selang 2 bulan dia sudah mendapat kabar baik tanpa ia duga. Hanya saja usianya yang sudah memasuki masa resiko tinggi untuk hamil mengharuskannya untuk total bed rest.
Dan kini anak laki laki nya sudah berusia 7 tahun.
__ADS_1
"Bi.."
"Apa sih? Diem pokoknya gimana bibi aja. Bibi pengen puas puasin belanja buat cucu bibi yang cantik"
"Bi.. aduuuh... BIBI MEEEEY...." Stella berteriak histeris kala melihat cairan keluar dari sela kaki nya.
"Stellaaa.. ya ampun ketuban pecah, tol.. tolooong..."
Dengan sigap para karyawan toko membantunya menempatkan Stella di sofa khusus menunggu dengan kain yang merupakan taplak meja digunakan untuk menutupi tubuh bagian bawah Stella, sementara pegawai lain dengan sigap menelpon rumah sakit bersalin dan memberitahukan kondisi salah satu pelanggan tokonya yang akan melahirkan saat itu juga.
"Jangan dulu ngeden ya bu. Sebentar lagi ambulan datang" ucap salah satu pegawai yang baru saja melakukan panggilan pada rumah sakit bersalin.
Meyra sudah menghubungi David dan Wiliam mengenai kondisi Stella. Namun sayang, David yang sedang dalam perjalanan pulang terjebak kemacetan parah karena kecelakaan tunggal yang berada di jalur menuju mall tersebut.
Pihak toko dengan segera meminta pelanggan lain untuk keluar dan menutup toko nya demi menolong wanita yang tengah berjuang menahan kelahiran sang anak yang tampaknya akan keluar saat ini juga.
"Bibiii.. aku udah gak kuat, biii..." pekik Stella yang merasa tak kuat untuk menahan sang bayi agar tak keluar sebelum paramedis datang.
__ADS_1
"Mereka datang mereka datang