
Stella memapah Wiliam untuk duduk di sofa. David merasa tak nyaman dengan kehadiran sang kakek yang sangat mengganggu kesenangannya.
"Apa kakek ada keperluan dengan tuan presdir?" tanya Stella lembut.
Wiliam tersenyum. Dia menampilkannya lagi. Sesuatu yang langka membuat Meyra mengabadikan nya dengan ponselnya.
"Stella, beliau ini adalah Ketua Komisaris. Tuan George Wiliam"
"Ah, maaf.. maafkan saya, tuan. Saya lupa mengenali anda" Stella langsung berdiri dan kembali membungkukan tubuhnya berkali kali.
"Sudah sudah. Jangan berlebihan begitu. Bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya Wiliam masih dengan senyumnya. Dia menarik Stella agar kembali duduk.
"Seperti yang anda lihat, tuan. Saya masih menyesuaikan. Lagi pula saya hanya sementara disini. Iya kan bi?" tanya Stella memastikan pada sang bibi yang malah melihat keatas.
"Kenapa hanya sementara? kamu diterima disini, sayang. Apa gajinya terlalu kecil? jangan khawatirkan itu. Kakek pasti memberikan gaji sesuai gelar pendidikanmu"
"Sayang?" lirih Stella.
"Tolong panggil saya Stella, tuan. Saya sedikit tidak nyaman dengan panggilan sayang"
"Ah, tidak usah malu. Atau begini saja, kamu jadi cucu kakek saja biar terbiasa dengan panggilan itu"
"Mana bisa, tuan. Saya tidak sepadan dengan anda"
Wiliam lantas murung, membuat Stella tak tega.
"hhh.. baiklah jika tuan memaksa"
"Kakek.. panggil kakek"
"i iya, kakek"
"Bagus. David, mulai bulan depan gajimu berikan padanya"
"Hah?"
Stella dan David terkejut bersamaan.
......................
"Tuan meeting untuk besok, klien kita minta dimajukan sore ini karena beliau harus kembali nanti malam. Apakah bisa?" tanya Meyra membacakan agenda meeting dadakan.
"Sore? perusahaan mana?"
"PT. WU Energy, tuan"
"Tetapkan jam 5"
"Baik"
Meyra kembali ke meja depan pintu ruangan, sedangkan Stella diperintahkan diam di dalam.
David memerintahkan OB untuk memindahkan 1 set meja kerja agar Stella bisa bekerja 1 ruangan dengan alasan penyesuaian akselerasi pekerjaan juga membantu menganalisa proposal dan berkas yang Meyra berikan sehingga David hanya tinggal menandatangani dan pekerjaan cepat selesai.
"Apa kamu bisa bahasa mandarin?" tanya David.
"Mandarin, portugis, Jepang, Korea tentunya, mmmm satu lagi Perancis" jawabnya pasti.
'Sialan dia semakin hebat' batinnya.
__ADS_1
"Ikut saya meeting sore nanti"
"Baik"
*othor cuma bisa bahasa kalbuπ
Tiba waktunya, David dan Stella masuk ke ruang meeting dimana Meyra sudah menunggu mereka setelah menyambut klien dari perusahaan yang berpusat di China.
Seorang CEO muda seumuran David yang cukup tampan dan tak kalah dingin nya dengan David.
"Tuan Chen, apa kabar?"
"Kabar baik, tuan David"
Mereka membuka obrolan dalam bahasa inggris yang Stella mengerti. Stella hanya terdiam memperhatikan dan menunggu sinyal dari David.
"Ah iya, kenalkan ini asisten pribadiku Stella. Dia yang akan mewakiliku jika aku berhalangan suatu saat"
"Halo, saya Wu Chen" sapanya mengenalkan diri namun ada semacam tatapan tak biasa.
"Halo, saya Stella" balas Stella dengan senyum khas nya. Namun Stella berganti mode jutek kala melihat tatapan tak biasa dari Wu Chen. Dan David memperhatikan perubahan itu.
'Gadis pintar' batinnya.
"Baiklah kita mulai pembahasannya" David memberi kode agar mereka tak lama berinteraksi.
Stella dengan lancar menerjemahkan apa yang disampaikan Wu Chen, juga sebaliknya. Hingga kata sepakat meluncur dari mulut kedua belah pihak.
huhhh
Stella menghela nafas lega. Akhirnya selesai juga. Ternyata ilmunya tak sia sia saat dia dengan iseng mempelajari berbagai bahasa dalam waktu bersamaan.
"Tolong sampaikan pada atasanmu, apakah aku bisa meminjam mu satu hari" ucap Wu dalam bahasa mandarin.
"Tuan, kata tuan Wu bisakah kapan kapan kalian keluar untuk minum" Stella menerjemahkan dengan arti yang lain.
"Tentu saja aku keberatan" jawab David.
Stella mengernyit.
"Kata beliau saya bukan barang yang bisa dipinjam dan saya cukup sibuk"
"Bagaimana jika aku memintamu" lanjut Wu masih menatap tajam David.
"Dia bilang anda arogan, tuan" terjemah Stella yang mulai jengah dengan godaan playboy cap kapal.
"Kalau begitu pergilah ke neraka" jawab David membalas tatapan tajam Wu.
Stella menghela nafas kasar lalu mengeluarkan senjata pamungkasnya.
"Kalau begitu perjanjian batal" terjemah Stella seolah menyampaikan apa yang disampaikan David.
"Apa?" tanya keduanya.
"Aku tau anda anda sekalian saling mengerti, tak perlu bantuan saya untuk menerjemahkan. Maaf, carilah mainan lain" tegas Stella yang langsung melangkah keluar dari ruangan diikuti Meyra yang merasa meeting sudah selesai.
"Kamu puas, Chen?" cebik David pada teman masa kuliahnya.
Wu Chen tergelak dengan dengkusan David.
"Hey, bro. Kupikir kamu gak normal. Ternyata kamu diam diam menyimpan berlian. Aku sempat takut kau akan melamar ku suatu saat" kelakar Chen mengejek David yang tak pernah mau melirik gadis manapun sewaktu di kampus. Bahkan dia menghindari kerja kelompok jika dalam kelompoknya ada anggota perempuan.
__ADS_1
"Sialan, kamu membuatnya takut"
"Takut? hey apa kau tak lihat dia berani menyanggahku? apa kau pikir dia itu kelinci lemah? coba saja kau lecehkan dia jika ingin tulangmu patah"
"Tau apa kamu tentangnya. Kalian bahkan baru bertemu"
"Hei, apa kau lupa berapa ratus wanita dengan berbagai karakter pernah ku kencani? aku pernah mencoba mengencani yang setipe dengannya, dan aku berakhir di rumah sakit"
David tertegun. Benarkah Stella nya seperti itu?
"Jangan banyak berfikir. Coba saja, dia bukan wanita sembarangan. Aku mana berani bermain main dengan wanita seperti itu"
Akhirnya Chen pamit dengan senyum mengembang. Berbeda saat kedatangannya yang terkesan dingin dan kaku.
"Mana Stella, Mey?" tanya David yang mengikuti sang kakek memanggilnya dengan nama.
"Dia sudah pulang, tuan. Maafkan dia tak pamit terlebih dahulu"
"Ya sudah. Kamu juga boleh pulang"
"Terimakasih, tuan"
"Mey.." panggilnya saat Meyra hendak memencet tombol lift.
"Apa dia marah?"
"Menurut tuan?"
"Siapkan kontrak kerja dengannya. Aku mau besok sudah ditanda tangani. Berikan gaji sesuai jenjang pendidikannya, dan.. ekhem.. sampaikan permintaan maafku padanya"
"Bukankah besok anda bertemu dengannya lagi?" Meyra sedikit menggodanya.
"Ya.. emm.. iya.. pokoknya begitu saja"
David segera masuk ke ruangan untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Heh.. sudah kuduga hatinya mengingatnya" cibir Meyra yang sedikit tenang jika emosi David tak terganggu.
"Apa dia marah? apa dia merajuk? apa dia akan mengundurkan diri?" David berjalan mondar mandir di dalam ruangan dengan gelisah.
"Argh.. bahan gak bisa tidur lagi nih"
"Bi.. pssst.. apa dia sudah pulang?" bisik Stella dari arah toilet lantai dasar. Dia memang menunggu Meyra di bawah.
"Apa yang kamu lakukan disana? kupikir kamu meninggalkan bibi yang sudah tua ini seorang diri" cebik Meyra.
"Mana mungkin aku durhaka sama bibiku yang cantik. Makan yuk, laper" rengeknya manja sambil mengusap perutnya.
"Mau apa?" tanya Meyra menjapit hidung mungil Stella.
"Pecel lele hehe... disana mana ada pecel lele"
"Boleh gabung?" tanya seseorang tiba tiba dari arah belakang.
MON MAAP BARU BISA UP
DI RUMAH PADA TUMBANG NIH
DO'A KAN OTHOR KUAT YA BIAR BISA RAJIN UP LAGI
KALIAN JUGA SEMOGA SEHAT SELALU
__ADS_1
MINTA VOTE NYA YA SAY KARENA KARYA INI IKUT LOMBA
πππ