The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Meeting Berdua


__ADS_3

"Rasakan itu, dasar anak tengik" celetuk Wiliam yang lantas bangkit dan hendak keluar dari ruang makan.


"Kursi rodanya, tuan" sang ajudan menawarkan.


"Kenapa gak bilang dari tadi. Kamu bawa aja. Aku mau sedikit olah raga" ucap Wiliam sambil berjalan perlahan.


"Hhhh..." keluh David yang merasa gadis pujaannya dan sang kakek sama sama membuatnya tak berkutik.


"Kamu tau apa alasanku tak mau menjalani rumah tangga dengan Lusi. Bahkan tak setitikpun dalam bayanganku sejak sekolah terfikir untuk mengenalnya. Entahlah, aku yang udah tau kemunafikan dia sejak dulu merasa sangat bodoh karena gak ngasih tau sifat asli dia sama kamu. Yang akhirnya aku yang dibodohi. Itulah sebabnya aku gak pernah mau nyentuh dia meski status ku adalah suami sahnya saat itu, dan aku berkewajiban untuk memenuhi nafkah batin nya selain nafkah materi.


Ke ragu raguanku padanya yang membuatku tak mau menyentuhnya. Bahkan aku merasa senang kala janin itu gugur"


"Lalu bagaimana denganku? apa yang akan kakak lakukan denganku setelah menikahiku?" tanya Stella polos.


"Tentu saja aku akan menghajarmu habis habisan tiap malam dan tak akan pernah melepaskanmu" jawab David nyeleneh.


"Enak aja nikahin aku buat dihajar. Kakak gimana sih. Kalo mau ngehajar orang mah ya sana di sasana, kalo enggak, cari masalah sama preman aja gih. Bukannya diniatin buat disayang sayang malah mau dihajarin. Ogah kalo gitu nikah sama kakak" gerutu Stella membuat David terkekeh.


David merangkum wajah Stella dan menghadapkannya pada wajahnya.


cupp


David mengecup dalam bibir Stella membuatnya terkesiap.


David lantas meneruskan kecupan itu menjadi ciuman yang panjang. Menikmati bibir manis yang selalu dirindukannya.


David menciumnya dengan penuh perasaan, tak peduli ciuman Stella kaku karena tak pernah disentuh lelaki lain. Dia justru senang kalau hanya dia yang pertama dan hanya dia yang pernah menciumnya.


David menghentikan aksinya kala merasa Stella hampir kehabisan nafas.


"Kak.." seru Stella sambil terengah dan menghirup udara sebanyak banyaknya.


"Ya sayang?"


"Aku deg degan" celetuk Stella polos.


David terkekeh lalu me lap bibir Stella dengan jempolnya.


"Kamu suka?" tanya nya yang diangguki Stella dengan cepat.

__ADS_1


"Mau lagi?" David menawarkan sambil kembali mendekatkan wajahnya.


"Malu... diliatin kakek" bisiknya sambil menunduk.


"Hah?" David menoleh kearah pandangan Stella.


"Dasar bocah tengik. Kamu mau menodai Stella-ku duluan sebelum sah? kamu berani mengotori rumah ini dengan perbuatan bejatmu? sini kamu bocah sialan" geram kakek yang mengejar David dengan kursi rodanya. Meski menggunakan tombol pengontrol dibagian tangan kanannya, tetap saja kecepatannya tak bisa mengejar langkah David.


Stella tergelak melihat aksi kejar kejaran cucu dan kakek yang mengangkat tongkatnya tinggi dan berharap bisa mendaratkannya di kepala sang cucu.


Tak dipungkiri jika Stella memang menginginkan berada dalam keluarga ini dengan hubungan yang pasti.


Dia lantas memutuskan dalam hatinya untuk menjalani kehidupan yang Tuhan rancangkan untuknya.


Mungkin inilah saatnya dia mendapatkan hadiah atas kesabaran dan usahanya selama ini. Sebuah hadiah yang Tuhan berikan karena telah menjalani ujianNya dengan baik.


Waktu telah ditetapkan. Stella dan David akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Dalam 1 bulan lagi adalah hari pernikahannya. Waktu yang lama bagi David, tapi dekat bagi Stella yang gugup. Apa lagi saat dia dengan penasaran berselancar di dunia maya dan bertanya dalam diam pada mbah sok tau.


Yap, mbah gugel.


Stella sempat melempar laptopnya dengan bantal kala menyaksikan tayangan ples ples pasangan setelah sah menikah.


Jantungnya berdetak tak karuan.


Entah berapa liter air liur yang dia telan karena tayangan dewasa itu.


Setelah dirasa cukup mengerti, Stella mengatur nafasnya dan memotifasi diri jika dia harus siap mengesampingkan rasa malu pada lelaki yang nantinya sudah sah menjadi suaminya dan berhak memiliki dan bebas melakukan apapun terhadap tubuhnya karena dia sudah menjadi haknya sang suami.


"Sialaaaan...." Stella mengumpat dalam bantal saat dia membenamkan wajahnya pada bantal.


"Kenapa bayangan itu gak bisa ilaaaang..." keluh Stella saat bayangan tayangan ples ples itu selalu muncul dalam kepalanya. Terutama saat mandi dan dia melihat tubuh polosnya sendiri dalam cermin.


Sekarang dia mengerti kenapa anak kecil tidak diperbolehkan menonton tayangan dewasa, karena bisa merusak otak suci mereka.


Stella dan David masih bekerja meski tanggal pernikahan mereka sudah hampir dekat.


"Stella.."


"Astaghfirullah, i iya t tuan" suara baritone David mengejutkan Stella. Saat David berjalan mendekat, Stella membayangkan David melangkah kearahnya dengan bertelanjang dada menampilkan perut kotak kotaknya, seperti yang ditampilkan tayangan dewasa yang kini membayangi kesehariannya.

__ADS_1


Dia lantas spontan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu melihat bayangan dada bidang David yang penuh keringat.


"Huhuuu... semua itu menyiksaku.." tangis Stella membatin.


"Kamu kenapa? sakit?" tanya David yang terheran dengan tingkah Stella beberapa hari ini.


Dia menurunkan tangan Stella yang menutup wajahnya, ingin memastikan jika calon istrinya tidak sakit karena wajahnya memerah.


"Sa saya gak papa, t tuan.. a apa yang anda butuhkan?" tanya Stella gugup setelah reflek menepis tangan David lalu berdiri dengan kepala menunduk.


"Apa kamu sudah memesan hotel" tanya David kemudian.


"A apa? hotel? b buat apa t tuan, nikahnya kan 2 minggu lagi, pasti udah dibooking pihak WO" jawabnya gugup sambil berkeringat. Dia membayangkan David akan melahapnya saat ini di sebuah hotel.


"Tentu saja untuk meeting" jawab David sambil mengerutkan kening.


"Kamu.."


"A apa tak sebaiknya meetingnya di restoran saja, t tuan?" Stella masih gugup. Membayangkan meeting ples ples dengan sang bos di sebuah kamar hotel.


"Tentu saja di resto hotel bintang 5" jawab David masih menduga duga dengan sikap aneh sekertarisnya ini.


Hingga dia menyadari sesuatu.


"Apa kamu membayangkan kita meeting dalam kamar dan melakukan-"


"Ah.. t tidak tuan, mana mungkin saya berfikiran kotor seperti itu" sergah Stella dengan keringat bercucuran karena David berhasil menebak pikirannya.


"Tapi sepertinya itu ide yang-"


"T tidak, tuan. I itu ide yang sa sangat buruk. Sa saya akan pesankan sekarang" ucap Stella memotong perkataan David yang mulai menjurus.


"Baiklah. Pesankan yang president suite ya, dengan single bed king size biar bisa bebas bergerak" goda David saat Stella melakukan bookingan pada hotel yang dituju.


"Baik" jawab Stella yang lantas mengikuti arahan David tadi.


"Fuhh.. sudah siap tuan. Seperti yang anda inginkan, bookingan untuk siang ini president suite dengan single bed king size" Stella dengan tenang mengulangi bookingannya pada hotel barusan.


"Hah? ini kan kamar, tuan. Ke kenapa pesan kamar?" lanjut Stella bertanya saat menyadari pesanan yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


"Tentu saja untuk meeting kita berdua"


__ADS_2