The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Lelaki Idaman


__ADS_3

"Stella, kemari" titah David melalui interkom.


tok tok


"Ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Persiapkan dirimu, mulai malam ini kamu ikut saya pulang ke rumah besar"


"Haaaaah..."


Stella dan Lusi terperangah bersamaan.


"Kenapa harus bawa cewek kampung ini sih, sayang. Apa kata-"


"Baik, tuan" jawab Stella mantap.


"Bagaimana dengan bibi saya, tuan. Dia sendirian dirumah" lanjut Stella.


"Tenang saja, aku sudah membelikan tiket liburan ke bali beserta uang saku. Dia bisa sepuasnya berlibur selama dia mau. Dia pegawai yang loyal, pantas diberikan reward" ucap Wiliam menenangkan.


"Kakek.. kenapa kakek juga setuju? dia bukan siapa siapa, dia bahkan tidak ada hubungannya dengan keluarga kita" sergah Lusi tak terima dengan dukungan Wiliam terhadap Stella.


"Dia itu cucuku juga. Terserah aku mau mengijinkan siapapun untuk datang kapanpun aku mau"


"Tapi.. aargh.. kalo gitu.. kenapa kakek gak ijinin Deri buat dateng? dia kan sahabat David, seharusnya kakek juga menganggapnya sebagai cucu kakek dong" Lusi mencoba negosiasi. Dia juga harus mendapat keuntungan lain bukan.


"Heh, dia boleh datang kapanpun dia mau" ucap Wiliam sambil membuang mukanya.


"Benarkah?" ekspresi Lusi tiba tiba sumringah. Selama ini mereka selalu menyewa kamar hotel untuk bertemu, dan Lusi yang harus membayar. Dia tak mau mengeluarkan uang lagi untuk laki laki pecundang itu. Jika saja kebutuhan biologisnya terpenuhi, dia sudah lama membuang lelaki itu.


"Tentu saja, dia boleh datang kapanpun untuk membawamu pergi selamanya dari kediaman Wiliam" lanjut kakek dengan seringaian.


"Apa? t tapi..-"


"Baiklah, kalau begitu kakek pulang dulu. Kakek tunggu dirumah ya, Stella cucuku" pamit Wiliam ramah pada Stella yang dibalas senyuman hangat.


"Baik, kakek. Hati hati dijalan" tak lupa Stella mencium punggung tangan Wiliam.


Sang ajudan yang sedari tadi hanya berdiri mematung mendorong kursi roda dan membawanya keluar dari ruangan untuk pulang.


"Apa kau akan terus berada disini sampai sekuriti menyeretmu keluar?" teriak Wiliam pada Lusi.


Lusi gelagapan dan tak rela membiarkan suaminya berduaan didalam ruangan, apalagi mereka sepanjang hari akan bersama.


Akhirnya Lusi dengan berat hati mengikuti Wiliam pulang.


"Kamu..."


"Saya kembali dulu, tuan" Stella pamit kembali pada mejanya tanpa menunggu David menyelesaikan kalimatnya.


"Hhhh... dia masih marah padaku" David merengek sambil menengadahkan kepalanya pada sandaran kursi.


Stella bersandar pada pintu kokoh setelah menutupnya rapat, lalu dia memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Huhh... tahaaaan... tahaan.." lirihnya.


Stella melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.


Beruntung sekarang tidak satu ruangan lagi jadi dia bisa fokus.

__ADS_1


"Stella, apa pak presdir ada?" tanya seorang wanita berusia cukup matang namun masih terlihat cantik dengan polesan make up yang berharga fantastis sehingga bisa menyamarkan keburukan fisiknya. Tentu saja tak bisa menyamarkan atau bahkan menutupi keburukan hatinya.


Wanita itu bersikap sangat angkuh dengan dagu yang dia angkat tinggi tinggi, sampai sampai Stella mengikuti gerak geriknya.


"Ada. Apa ada kepentingan mendesak? jika ingin menyampaikan proposal silahkan simpan disini untuk saya periksa sebelum di acc tuan presdir"


Yap, Stella mengucapkannya dengan mengangkat dagu dan sedikit membuka mulutnya, sehingga dia tampak seperti wanita elegan nan angkuh.


Wanita yang bernama Weli dan menjabat sebagai Direktur Operasional dan berstatus single itu melihat sikap Stella. Dia lantas semakin meninggikan dagunya. Dia tak boleh lebih rendah dari siapapun, terlebih seorang sekertaris.


"Aku harus menyampaikannya sendiri karena ini bersifat pribadi"


"Maaf, jika urusan pribadi bisa anda bicarakan sepulang kerja.


Sumpah, pegel bu. Ibu gak pegel apa?" ucap Stella sambil menggerakan kepalanya untuk menetralisir rasa pegal.


"Huh.. bukan urusanmu" jawabnya yang langsung berbalik dan berjalan kearah pintu ruangan presdir.


"E eh, bu.. ibu gak boleh seenaknya. Pak presdir tidak ingin ditemui jika tidak ada janji terlebih dahulu" Stella menghadang Weli di pintu yang belum sempat dibuka dengan cara merentangkan kedua tangannya.


"Minggir. Kamu hanya sekertaris" hardiknya dengan mencoba menggeser tubuh mungil Stella.


Namun tubuh mungil itu kokoh menancap pada lantai karena tak sedikitpun bergeser.


Weli mengacungkan telunjuknya pada wajah mulus Stella dengan make up natural.


"Denger ya, sekertaris kurang ajar. Aku akan membuatmu kena teguran tuan Wiliam karena mempersulitku dan menghalangi jalanku. Jadi aku sarankan, kamu cepat menyingkir sebelum aku berbuat hal yang akan membuatmu menyesal"


Stella membetulkan posisi berdirinya lalu menyilangkan kedua tangan di dada.


"Silahkan anda laporkan. Setau saya, ketua komisaris sudah tidak berwenang mengurusi pegawai karena semua sudah beliau serahkan pada presdir. Tapi jika anda bersikeras, silahkan dicoba" tantang Stella dengan tenang.


"Itupun jabatan anda yang akan jadi taruhannya" lanjut Stella membuat Weli menghentikan kelincahan jemarinya dalam mengoperasikan gawainya.


Weli berusaha menyingkirkan Stella dari depan pintu.


Namun nahas tangan nya malah diraih Stella lalu Stella mengunci tangan Weli kebelakang tubuhnya dan memepet tubuhnya ke pintu sehingga membuat suara gaduh.


brakk


"Dengar ya, ibu direktur yang terhormat. Saya mungkin sekertaris di lantai ini, namun kekuasaan saya melebihi anda anda sekalian. Jika saya bilang A, maka presdir pun akan bilang A. Anda paham?" desis Stella.


ceklek


David terkejut melihat Weli diintimidasi oleh Stella di pintu. Dia tak menyangka jika landak albino nya telah tumbuh menjadi landak dewasa yang bisa mengancam siapapun.


"Ada apa ini ribut ribut?" tanya David dengan mengerutkan alisnya.


"Silahkan sampaikan" ucap Stella masih mendesis.


"T tuan presdir.. i ini saya mau mengajukan proposal sekalian-"


"Kenapa tak kau serahkan pada Stella? bukankah sudah jelas jika segala sesuatunya harus melalui asisten saya?" potong David yang mencium bau janggal pada niatnya yang ingin langsung menemuinya.


"T tapi-"


"Stella, pesankan restoran untuk meeting siang ini" David langsung kembali masuk.


Stella perlahan melepaskan tangannya lalu melangkah menuju meja kerjanya untuk melakukan reservasi.

__ADS_1


Weli dengan secepat kilat menyelinap masuk dan mengunci pintu dari dalam.


"Sialan tuh emak emak dableg. Gak bisa dibilangin" kesal Stella karena kecolongan.


"Mau apa kamu?" tanya David dengan dingin sambil menautkan kesepuluh jarinya dan kedua siku menumpu pada pagangan kursi.


"David tolong aku" ucap Weli dengan nada memohon.


"David? kamu bahkan berani menyebut namaku?" sergahnya tidak suka.


"eee... pokoknya kamu harus nolong aku, plis. Anakku.. ini demi anakku"


"Hn?" David menautkan sebelah alisnya.


"Jadilah ayah dari anakku"


"Heh, bercanda kamu. Kamu tau statusku, bukan?" cebik David.


"Aku tau, aku tau statusmu. Aku gak masalah kalau hanya nikah siri. Yang penting anakku punya ayah. Plis.. demi anakku" pintanya memelas. Entahlah, apa yang membuat para wanita tergila gila padanya. Hanya Stella yang menolak pesonanya.


"Sarip, apa kamu bersedia?" tanya David pada lelaki tegap berseragam sedikit jauh berdiri di belakang Weli.


"Eeeee.... tadi konsepnya gak gini, neng Stella" ucap nya berbisik pada Stella.


Ruangan David ada semacam pintu rahasia yang terhubung dengan ruang meeting yang berada tepat disebelah ruangan presdir.


"A..apa.. d..dia..." Weli terbata.


"Yang penting anakmu punya ayah, bukan? Jika Sarip menjadi ayah anakmu, kamu menang banyak. Dia perjaka.. masih kan?" tanyanya seketika pada Sarip yang dibalas anggukan cepat.


"Gagah, cukup tampan, dan kamu bisa jadi istri sah nya tanpa ada embel embel pelakor. Kamu juga menyelamatkan martabatmu"


Sarip membetulkan posisi kerahnya dan sedikit merapikan rambutnya dengan tangannya kala David memujinya.


Stella melipat mulutnya agar tak menyemburkan tawa.


"Demi anakmu?" lanjut David.


Weli speechless dibuatnya.


"K.. aaarrgghhh..." Weli mengacak rambutnya kasar lalu melangkah menuju pintu dan membuka kunci.


"Mampirlah ke ruang HRD. Mereka punya sesuatu untukmu" ucap tenang David sambil memperlihatkan ponselnya yang sedang terhubung dengan manajer HRD.


David sudah tahu maksud kedatangan Weli yang sudah lama bekerja dan menunjukan loyalitasnya pada perusahaan. Namun kini peraturan utama perusahaan adalah dilarang menggoda Presdir dan ancamannya adalah dipecat secara tidak hormat.


Weli membulatkan mulutnya tak percaya jika dia benar benar dipecat.


" Bu.. nasib saya gimana bu?" Sarip mengejar Weli membuat Stella terbahak.


David senang melihat Stella tertawa, dia terus menatapnya.


"Udah ganteng, gagah, masih perjaka, pekerja keras lagi. Ugh idaman banget" monolog Stella pada punggung Sarip yang sudah menghilang dibalik pintu. Membuat David menyurutkan senyumnya.


"Gak berlaku untukmu. Cepet kerja" hardik David membuat Stella memberikan sikap hormat dan melangkah keluar tanpa menyurutkan tawa cantiknya.


MAAP YA BEIBZ


TADINYA MO BIKIN 2 BAB

__ADS_1


TAPI PALA BEBI KELEYENGAN


OMEGAT🤧🤒🤕😵


__ADS_2