
Seluruh sekolah mengetahui perihal meninggalnya ayah Stella. Namun tak ada satupun yang mau menghampirinya untuk mengungkapkan rasa bela sungkawa nya. Mereka memilih berbisik di kejauhan.
Seperti biasa Stella tak peduli. Dia tak takut dijauhi. Toh tugas dia hanya belajar dan mendapat nilai sempurna. Masalah adab dan tata krama dia memilikinya karena sang ayah mendidiknya dengan baik. Hanya saja orang orang yang menutup mata hati untuk mengenal Stella lebih jauh.
"Stellaaaaa..... huhuuu.... sobat gue yang paling baik seduniaaa.. elu jahat, kenapa gak ngasih tau aku kalo ayah kamu.."
Stella tersenyum. Hanya Lusi satu satunya yang peduli padanya dia pikir.
"Lu kan tau gue gak bisa ngehubungin siapa siapa"
"Tapi kan gue pengen jadi orang yang selalu support elu, yang nguatin elu kala kesusahan. Gue turut berduka, ya"
"Iya makasih banget perhatiannya"
"Tapi.. kalo elu gabisa ngehubungin gue, siapa yang ngehubungin guru guru?" pancing Lusi.
"Kak David" jawab pelan Stella sambil melirik kanan kirinya, takut ada yang mendengar. Bisa berabe kan.
"What? Kak David kenapa bisa sama elo?" kaget Lusi dengan meninggikan suaranya. Meng atensi para bisikers yang sedang berkumpul di pojokan.
"Lusi, gak usah pengumuman juga bisa kan. Ah nyesel ngomong sama elu mah. Mulut toa gitu gak bisa diajak kompromi" gerutu Stella yang tak mau kembali diganggu para David lovers.
"Ups, sori. Tapi lu jelasin ke gue kenapa bisa ada kak David? apa kalian gak sengaja ketemu? apa dia lagi sakit? apa dia.."
Stella memicingkan matanya dengan berondongan pertanyaan Lusi.
"Lu jawab sendiri deh. Cape gue denger pertanyaan elu kek kereta api" keluh Stella membuat Lusi melipat mulutnya.
Akhirnya Stella menceritakan kronologi keterkaitan David dan musibah yang Stella alami. Lusi manggut manggut dan sesekali terisak, namun hatinya dongkol karena David semakin dekat dengan Stella. Terlebih tadi pagi dia melihat Stella turun dari mobil David, itu berarti laki laki itu menjemputnya.
Jam istirahat tiba
Seperti biasa Stella akan menghabiskan waktunya di perpustakaan dengan Lusi sedikit memborong makanan untuk menemani mereka belajar.
Dan David langsung duduk di sebelahnya dengan membawa jus jeruk.
"Aku gak ngerti soal yang ini" tanpa basa basi dia membuka halaman berisi soal yang tak dia pahami.
Stella melirik 2 cup jus, sedangkan mereka bertiga.
"Apa bayaran ini sepadan untuk 1 soal?" tanya David yang mendorong 1 cup tepat didepannya.
Stella menggeleng
"Dua, atau gak sama sekali" Stella bernegosiasi yang akhirnya David menghela nafas lalu menyodorkan 1 lagi yang kemudian Stella dorong kearah Lusi.
Stella lantas membantu David memecahkan soal yang menjadi teka teki bagi David. Namun Stella bisa memahaminya dalam sekejap.
Saat David mencoba mengerjakan soal, Stella menyeruput jus hingga 1/3 nya karena melihat David yang tampak masih bingung dengan urutan pengerjaannya.
Stella menjelaskan sekali lagi dan David menyeruput jus yang tadi Stella minum.
"iiii... itu bekas aku.." lirih Stella yang langsung melipat mulut dengan jantung berdetak karena teringat perkataan Lusi tentang ciuman tak langsung.
"Hehe.. sori.. mikir bikin haus" balasnya cengengesan.
"Nih punyaku masih banyak" tawar Lusi.
"Enggak, makasih. Itu kan bekas kamu. Terus ini gimana?" David segera mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
Stella sedikit kikuk dengan situasi. Lusi yang terlihat murung dan David yang tampak tak peduli dengan apapun selain yang jadi fokusnya saat ini.
Saat pulang sekolah, Stella sudah melakukan salam perpisahan dengan Lusi yang langsung melesat dengan taxol nya. Stella melangkah seperti biasa kearah rumahnya terdahulu dengan kepala tertunduk.
Sendiri memang membosankan. Pikirnya. karena dia mulai terbiasa dengan keramaian Lusi yang selalu menghiburnya dengan segala tingkahnya.
tin
tin
Stella terkejut dan menoleh. Dia mungkin terlalu larut dalam lamunannya sehingga tak sadar berjalan agak ke tengah jalan. Untung saja tak diserempet.
tin
tin
Stella kembali terhenyak dan berjalan lebih ke pinggir trotoar lagi.
tin
tin
"Ya ampun, pak. Masa saya harus jalan di selokan?" protesnya pada mobil yang sedari tadi mengejutkannya dengan suara klason.
"Kak David?" dahinya berkerut kala melihat David tengah terkekeh di dalam mobil.
Stella mendekati dan hendak mengeluarkan protesan yang lebih menyeramkan menurutnya.
Entah apa dia bisa.
Karena selama ini dia tak pernah marah atau memarahi siapapun.
"Kakak ngerjain aku, ya"
David semakin terkekeh melihat mimik Stella yang tak bisa terlihat menyeramkan.
"Ya ampun, neng. Kursus marah gih biar nyeremin. Kalo gitu yang ada pengen ngigit jadinya hahaha..."
"Hhhhh... nasib anak baik ya gini" keluhnya yang lantas masuk ke mobil yang pintunya David buka kan.
"Lagian kamu ngelamunnya kelewatan. Kamu salah arah. Sekarang pulangnya lewat sini, gak bisa jalan kaki. Wajib pake mobilku"
"Enggak ah. Takut ditagih utang budi"
"Itu lagi yang dibahas. Aku gak suka"
"Tapi jadi ngerepotin kak David"
"Kata siapa? lagian kita searah kok"
"Banyak yang searah juga. Kenapa gak diajak sekalian aja?"
"Ck, sembarangan. Mereka udah punya kendaraan masing masing. Kalo gak mereka pake taxol"
"Tapi kan aku gak bisa terus ngandelin kakak. Kalo suatu saat kakak gak bisa nganter jemput aku gimana?"
"Insha allah bisa terus. Do'a in aja aku sehat terus. Lagian udah ampir ujian sekolah, aku gak boleh bolos kan"
"Ah, iya. Kakak hampir lulus"
__ADS_1
"Kenapa? sedih ya gak bisa liat aku di sekolah lagi nanti"
"Idih"
Mereka tiba di area apartemen Stella. David mengarahkan mobilnya ke basement.
"Kak"
"Hn"
"Kenapa parkir? kakak gak pulang?"
"Aku mau belajar sama kamu. Boleh kan? Ujian udah deket, aku gak mau keteteran nanti"
"Tapi bibi-"
"Aku udah minta ijin sama bibi Mey. Kalo gak percaya telpon aja"
"Aku gak punya-"
"Nih. Tinggal pencet tombol ijo"
David menyodorkan ponselnya sambil melepas sabuk pengaman"
"Ha halo.. bibi Mey"
"..........."
"Hah? t tapi bi-"
"..........."
"Trus bibi kapan pulangnya?"
"..........."
"Tapi kan gak baik, cewek sama cowok berduaan di rumah" Stella sedikit berbisik namun masih sangat bisa didengar David yang menyunggingkan senyum lantas keluar dari mobil.
"........."
"Bibi jahat" cebik Stella yang kemudian menutup sambungan telpon dan panik karena David sudah berdiri di depan lift.
"Kak, tunggu.." Stella berlari karena belum terbiasa naik lift.
David berbalik dan tersenyum menyambut kedatangan Stella yang berlari lincah kearahnya. Dia baru melihat sisi lain Stella yang ceria.
deg
deg
Jantung Stella kembali bermasalah. Terasa sesak seolah akan melompat melalui tenggorokannya.
"Ya ampun"
"Kenapa?"
"Bisa gak kalo kakak jangan senyum"
"Takut jatuh cinta yaa.."
__ADS_1