The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Membimbing


__ADS_3

MON MAAP BARU BISA UP LAGI BEIBZ


SEHARIAN KEMAREN ISTIRAHAT PASCA SUPORTERIN ANAK DI FINAL PORPROV


MAKASIH BUAT YANG MASIH SETIA NUNGGU KELANJUTAN CERITA STELLA - DAVID


SEMOGA SESUAI HARAPAN READERS


JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK POSITIF YA


HAPPY READING🤗😘


Stella dan David pulang ke rumah besar setelah memastikan Lusi sudah pergi dari kediaman Wiliam dengan dramatis.


Selain Lusi yang menangis meraung sambil bersimpuh di kaki Wiliam, juga ibu nya, Imelda Frost, yang juga meramaikan aksi dramatis sang anak semata wayang nya.


"Kenapa aku harus ikut pulang kesini?" tanya Stella bingung.


"Jangan banyak tanya. Lagian kan kamu cucu kakek Wiliam juga" jawab David tak mau dibantah. Sambil membereskan pakaian Stella tanpa izin dan menaruhnya di lemari pakaian yang berada di lantai 2 bersebelahan dengan kamarnya


"Oh iya, ya. Kita udah jadi saudara kalau gitu" balas Stella membuat pergerakan tangan David yang menata pakaian juga barang barang Stella diatas meja rias terhenti.


"Apa maksudmu kalau kita bersaudara?" tukasnya dengan nada tak suka.


"Kan aku udah diangkat jadi cucu kakek, jadi.."


"Cucu menantu. Titik" potong David dengan cepat. Dia selalu tak habis pikir dengan perkataan Stella yang selalu membuatnya tak berkutik.


"Enak aja cucu menantu. Calon-"


"AAMIIN.."David dengan cepat meng-amin-kan ucapan Stella yang merupakan do'a dan berharap diijabah sang Maha Kuasa.


Stella memajukan bibirnya mendengar David bereaksi seperti itu dan membuatnya tak bisa berkata apapun.


"Ayo calon. Kita makan" tukas David dengan senyum mengembang sembari menggandeng tangan Stella yang menurut dan mengikuti langkah David ke ruang makan.


"Kakek, apa kabar?" sapa Stella pada Wiliam yang baru bangun dari tidur siangnya dan sudah berada di meja makan untuk makan bersama kedua cucu kesayangannya.


"Kakek baik, sayangku. Lebih baik malah. Ayo kita makan, kakek sudah sangat lapar. Hei, lepaskan tanganmu itu anak nakal" ucap Wiliam pada David yang sedari tadi menggenggam erat tangan Stella.


"Gak mau, nanti diambil kakek" jawab singkat David yang menarik kursi di sebelah kanan Wiliam untuk Stella lalu menarik kursi disebelahnya untuk dirinya.


"Kak, gimana aku bisa makan kalo kek gini?" tanya Stella sambil mengangkat sebelah tangan yang digenggam erat David.


"Aku bisa menyuapimu" jawab David santai.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kakak saja" Stella pasrah untuk saat ini. Meski dia yakin kalau David akan kesulitan menggunakan sebelah tangannya untuk mengambil ini dan itu.


"Sayang, berdiri dulu. Aku mau ngambil sayur yang disana" pinta David saat kesulitan meraih sayur asem yang sedikit jauh darinya.


"Males ah harus duduk berdiri terus. Kakak aja yang ambil sendiri" tukas Stella yang mulai jengah dengan tingkah David.


"Bentar aja. Nanti pegangannya lepas"


"Anak ini benar benar harus diberi pelajaran" gumam kakek yang kesal dengan tingkah cucu semata wayangnya.


"Ya lepas aja dulu, bentar ini kok" jawab Stella enteng.


"Gak mau. Nanti kamu kabur lagi"


"Kabur kemana? disini kan enak. Mau makan tinggal makan, baju tinggal pake, rumah udah ada yang bersiin, mo shoping dibayarin, dianter pula. Mana ada cewek yang nolak semua yang kamu punya?"


"Ada"


"Siapa? berarti cewek itu be-"


"Ya kamu. Cuma kamu yang nolak segala sesuatu yang aku punya. Iya kan?"


"Sok tau"


"Emang tau. Ya udah, gak usah pake sayur. Sini aku suapin. Aaaaaa...."


Wiliam tengah menatapnya tajam saat David menoleh padanya.


"Kakek mana keberatan kalo kamu jadi cucu menantunya. Ya kan kek?"


"Apa? cucu menantu?" ekspresi Wiliam langsung berubah.


"Iya, kek. Besok David mau daftarin pernikahan dengan Stella. Kakek merestui kan?"


"Apa? menikah? besok?" tanya Wiliam yang cukup terkejut dengan pernyataan tiba tiba David.


"Ya udah, kita mau kawin lari aja kalo kakek gak mau restuin"


"Bocah sialan. Coba saja kalo berani. Kamu akan kehilangan benda pusakamu kalo berani kawin lari" ancam Wiliam membungkam David.


"Sayang, kamu benar benar mau menikah dengan David, cucuku?" Wiliam beralih pada Stella.


"Enggak. Kata siapa?" jawab Stella cuek membuat David meradang. Wiliam benar benar dibuat bingung.


"Kakek, ngapain ditanya? Keputusan David udah bulet. Secepatnya David mau nikahin Stella, terserah kakek mau setuju atau enggak. Kalo gak setuju, David bakalan bawa Stella pindah dari sini. Kakek pecat David juga gak peduli, David mau cari kerja di tempat lain. Yang penting David bisa bersatu sama Stella" dengan lantang dan tegas David mengungkapkan niat hatinya.

__ADS_1


"Udaah gak usah berapi api gitu. Siapa yang nentang memangnya?" jawab santai Wiliam.


"Hehe.. sudah kuduga kakek pasti setuju. Ayo sayang aaaaa... " dengan girang David kembali menyuapi Stella yang tengah memajukan mulutnya.


"Ga ada yang minta pendapatku gitu?" gumam Stella disela kunyahannya.


"Anak gadis gak boleh bantah. Bibi mey udah merestui. Aaaaa...." jawab David santai dan kembali menyuapi Stella.


Wiliam merasa melihat cucunya yang ceria dengan gadis ini. Meski tak sesuai usianya, David bak anak kecil yang bahagia karena busa mendapatkan mainan yang sangat diinginkannya.


"Tapi nanti bibi jadi sendirian" keluh Stella.


"Rumah ini punya banyak kamar, tentu saja dia bisa ikut tinggal disini" jawab Wiliam tenang.


Stella terdiam.


Menikah?


Hal itu bukanlah tujuan akhir Stella menempuh pendidikan tinggi. Tak ada sedikitpun pemikiran akan menikah.


Tapi...


Jika bukan menikah, lalu apa dia akan menghabiskan hidupnya bekerja keras dalam kesendirian?


"Sayang... kamu mikir apa?" tanya David dengan sebelah tangannya mengusap pipi Stella membuyarkan lamunannya.


Stella menggeleng, lantas meraih tangan besar yang mengusap lembut pipinya lalu menggenggamnya.


"Aku gak pernah membayangkan akan melalui hal semacam ini.


Pernikahan..


Bukanlah hal yang menjadi tujuanku. Aku bahkan tak tau harus bagaimana menjalani sebuah pernikahan. Karena dalam bayanganku, sepanjang ingatanku tentang ayah dan ibu, mereka selalu bertengkar. Entah apa yang mereka perdebatkan. Ibu bahkan sering memukul ayah dan meneriakinya.


Dan ayah juga gak pernah bercerita apapun, atau menjelaskan bagaimana sebuah pernikahan seharusnya dijalani.


Yang aku tau, pernikahan mereka berakhir dengan ibu yang meninggalkan ayah karena kemiskinan kami" Stella menerangkan tentang kegundahannya.


Wiliam yang mendengarkan tak mau ikut campur. Dia ingin pergi dan membiarkan Stella mencurahkan isi hatinya pada David sang cucu, namun dia juga penasaran dengan masa lalu Stella.


"Kamu jangan khawatir, aku akan membimbingmu" ujar David mengecup punggung tangan Stella untuk menenangkannya.


"Bagaimana cara kakak membimbingku? kakak saja gagal dalam pernikahan pertama kakak"


uhuk

__ADS_1


uhuk


"Gadis ini.." desis David yang tersedak air liurnya sendiri.


__ADS_2