
David merajuk, dia diam seribu bahasa. Dan Stella sangat bingung bagaimana membujuknya.
Bukannya dia ingin berjauhan dengan sang suami, hanya saja saat ini dia mendapat amanat dari sang kakek untuk mengurus perusahaan disini selama David pergi ke luar kota.
Wiliam sudah cukup lelah jika harus mengurus perusahaan.
Selain itu, Stella akan dibantu oleh Meyra jadi David tak perlu khawatir Stella berdekatan dengan karyawan lain yang mungkin adalah laki laki.
"Sayang.." Stella memeluk David dari belakang saat David tengah membuka dasi yang menjerat lehernya.
David tetap bergeming dan membuka setiap kancing yang ada pada kemeja kerjanya lantas melepas pelukan Stella agar bisa membuka kancing paling bawah lalu menanggalkan celananya dan berlalu ke kamar mandi.
Belum sempat pintu itu tertutup rapat, Stella menahan pintu itu dan ikut masuk.
David meliriknya sekilas lalu berjalan kearah shower dan mengguyur dirinya.
Dia bahkan lupa tak membuka **********. Entah sengaja.
Stella yang sudah melepas seluruh penutupnya bergabung dalam guyuran shower yang di atur dalam suhu hangat lalu membuka kain terakhir milik sang suami.
Stella mengambil sabun dan menyabuninya bak memandikan anak kecil.
David terdiam.
__ADS_1
"Sayang.. apa kamu marah padaku?" seru Stella sendu. Tangannya tak berhenti menyabuni apa yang harus disabuni. Dia bahkan sedikit memanjakan jaguar kesayangannya.
David menahan erangannya kala Stella memanjakan daging jadi itu.
David benar benar merajuk. Dia bertahan dengan keterdiamannya.
Tak kalah akal, Stella mempercepat tempo memanjakan sang jaguar yang sudah mengeras itu membuat David spontan meloloskan lenguhannya.
Dia langsung berbalik dan mengangkat tubuh mungil Stella dan menekannya ke tembok membuat sang jaguar kembali mengacak acak gua sempitnya.
Tak cukup disitu, David membawanya ke kamar dan kembali menghajarnya dalam keadaan basah.
Stella hanya bisa pasrah menerima hujaman hukuman enak dari David, selama David memaafkannya.
Stella membalik tubuhnya dan mengecup dalam bibir sensual itu. Menatap manik hazelnya untuk melihat binar cinta untuknya.
"Iya, sayang. Mas David ku" jawab Stella meyakinkan David dan membalas tatapan cinta itu.
tok
tok
"Tuan, tuan besar sudah menunggu" seru ajudan Wiliam dibalik pintu kamar. Dia sebenarnya sudah cukup lama berdiri di depan kamar, hanya saja saat hendak mengetuk terdengar suara suara tak lazim yang membuat otaknya berkelana disertai jakun yang naik turun.
__ADS_1
Batinnya bergolak antara kembali atau bertahan. Jika kembali maka nyawanya terancam karena majikannya mewanti wanti harus turun bersama tuan muda nya.
Tapi jika bertahan, maka batinnya yang tersiksa harus mendengarkan sengitnya pergulatan didalam sana yang otomatis mengaktifkan jiwa playernya.
Ya. Ajudan Wiliam yang bernama Rudolph ini usianya sudah memasuki kepala 5, dan masa lalu dia adalah seorang player handal yang sudah insaf karena putri semata wayangnya hasil dari penanaman investasi secara random meninggal karena dinodai secara bergiliran. Dari situlah ia bertobat lalu bertemu dengan Wiliam dan mengbdikan diri padanya.
Dia terheran dengan kondisi material bangunan mewah ini, mengapa tak bisa meredam suara yang ada di dalamnya. Namun entah memang dirinya yang sudah tak melakukan pelepasan sekian lama dan membayangkan jika sepasang manusia masuk kamar pastilah iya iya.
"Sialan, tenanglah boy. Atau aku akan memotongmu dan menyimpanmu di museum" ancamnya mendesis sembari menunjuk sang junior.
Barulah dia mengetuk pintu saat kondisi didalam sana sudah tenang.
ceklek
Dia bahkan tak bisa lebih tenang lagi kala mendapati David yang membuka pintu dengan shirtles dan rambut yang berantakan. Ditambah latar belakang David adalah Stella yang melilitkan sprei sebatas dada diatas ranjang dengan bantal dan sprei yang tidak pada tempatnya.
"Katakan pada kakek aku akan siap 15 menit lagi" tukas David dingin.
Rudolph menunduk dan hanya menjawab "baik".
Tanpa David sadari, keringat sebesar biji gajah bermunculan di pelipisnya.
🤔🤔🤔🤔🤔
__ADS_1