The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Membuat Makan Malam


__ADS_3

"Bagaimana kondisinya dok?" tanya David khawatir pada kondisi istrinya yang tiba tiba pingsan.


"Hhh... istri anda depresi berat" dokter Edward menghela nafas.


"Dan itu tidak baik bagi janinnya" lanjutnya.


David mengecup tangan lemah itu, tak tahu harus berbuat apa karena semua berasal dari dirinya sendiri. Mencoba menghiburpun sepertinya sulit.


"Saya tidak tahu ada masalah apa dalam rumah tangga kalian, tapi tolong ingat kesehatan dan keselamatan janinnya. Jangan memberikan tekanan batin. Kalian beruntung kali ini janinnya kuat"


"Iya dok. Saya akan usahakan biar dia tak merasa tertekan"


Dokter Edward pun kembali setelah memberikan beberapa penjelasan seputar psikologi wanita hamil. Dia memang bukan spesialis dibidangnya, namun sedikitnya dia mempelajari untuk memberikan beberapa masukan saran bagi para pasien yang memanggilnya ke rumah.


"Sayang, apa yang bisa aku lakukan untukmu" lirih David mengecupi tangan putih nan lembut milik sang istri yang masih belum sadar.


"Berbagilah denganku, jangan kau simpan bebanmu sendirian. Kasihan anak kita, sayang. Aku akan melakukan apapun yang kau mau asal kamu bahagia"


"Eenngghh... ibuu.. ibuu.. jangan pergi buu.." racau Stella dalam ketidak sadarannya.


David termenung. Dia berfikir dan mencoba mendalami isi hati Stella dan apa keinginannya. Hingga dia terfikir akan sesuatu. Meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas lalu melakukan panggilan pada seseorang.


"Bagaimana?" tanyanya langsung tanpa berbasa basi setelah panggilannya diangkat oleh orang yang dia hubungi.


"........"


"Bagus. Awasi terus dan kabari aku"


David langsung memutuskan panggilannya dan kembali melakukan panggilan pada orang lain.


"Halo om. Bisakah kita bertemu?"


"........."


"Kurasa aku punya penawaran untuk om"


"........"


"Baik. Saya tunggu malam ini di cafe seberang kantor"


David kembali menatap lekat Stella yang masih belum mau membuka matanya, dan terus mengecupi tangan yang ia genggam. Ia bahkan tak mau beranjak saat makan malam sudah tiba.


Ya, selama itu Stella tak sadarkan diri. Dahinya seringkali berkerut dengan keringat yang bermunculan di pelipis.


Sepertinya Stella tengah tertidur dan bermimpi. Mimpi yang membuatnya gelisah.

__ADS_1


"Mas.." lirih Stella mengusap pipi David yang berbaring dan tertidur disebelahnya.


Matanya membuka perlahan kala jari Stella memainkan bulu matanya.


"Kamu sudah sadar?" tanya David seraya menggenggam tangan Stella yang menyusuri pipinya.


"Aku lapar" ungkap Stella dengan nada manja.


David tersenyum.


"Ayok kita makan. Aku yang akan memasak" seru David antusias karena tampaknya mood Stella kembali baik. Dan semoga bukan berpura pura. David sangat berharap Stella mempercayainya untuk berbagi beban.


David memindai isi kulkas. Sebenarnya tak bisa memasak, dia hanya ingin mencoba sesuatu yang bisa menyenangkan sang istri.


David menemukan daging beku, bingung jika ingin memasaknya maka harus didiamkan terlebih dahulu.


Sedikit mengintip postingan chef terkenal dan mulai mengikuti langkah langkahnya.


Mulai meracik bumbu sambil menunggu dagingnya mencair.


David mulai memanggang satu per satu daging yang sudah bisa ia olah.


uhuk


uhuk


"Mas... ya ampun mas.. " Stella panik kala melihat kepulan asap dari arah dapur. Semakin terkejut kala mendapati David hampir membakar dapur cantik mereka karena potongan potongan daging yang hampir semua gosong.


Stella mematikan kompor dan menghidupkan exhaust fan lalu membuka semua jendela yang ada di dapur.


Masih terbatuk, David menampakkan wajah penyesalan.


"Bagaimana ini. Makan malamnya gosong semua"


Stella tergelak lalu mengecup sekilas bibir David.


Mengambil alih dapur dan mulai mengolah 2 potong daging yang tersisa lalu menyajikannya dalam kematangan yang pas.


Stella membuat steak ala ala yang membuat keduanya tergelak. Hanya bisa membakarnya tapi tak tahu cara membuat saus yang pas. Akhirnya hanya menggunakan saus botol agar bisa cepat mereka santap karena perut Stella benar benar sudah bernyanyi dengan nyaring.


Selesai dengan makan malam ala kadarnya, David menambahkan potongan buah agar perutnya terasa lebih kenyang.


Mengajaknya menonton tv dengan saluran tak jelas lalu menyuapkan potongan potongan kecil pada Stella yang bersandar pada dadanya.


"Sayang, apa kamu suka nonton sinetron?" tanya David yang memperhatikan tatapan kosong Stella kearah benda elektronik berbentuk persegi panjang berukuran 80 inch.

__ADS_1


"Gak suka. Kenapa emang?"


"Kenapa gak suka? kan perempuan biasanya seneng tuh sama sinetron yang sebagian diadaptasi dari novel"


"Gak suka aja. Abis terlalu panjang. Belum lagi ceritanya yang cuma jeng jeng lagi jeng jeng lagi"


"Maksudnya?"


"Iya, jadi cuma liatin ekspresi terkejut aja harus nampilin beberapa sudut pandang kamera, udah gitu di slow motion. Parahnya lagi langsung ada tulisan 'bersambung' . Bukannya ngehibur malah nikin nyesek yang ada"


David tertawa ringan mendengar penuturan sang istri.


"Kalo aku bikinin kamu sinetron singkat kira kira mau nonton gak?"


Stella bangkit dari sandaran nyamannya lalu menoleh ke belakang.


"Emang mas tau gimana caranya bikin sinetron? atau mas usaha dibidang rumah produksi? Mas punya gebetan anak a be ge ya trus dijadiin bintang utama trus-"


cupp


"Gemes nya punya istri cemburuan"


David kembali menarik Stella bersandar pada dadanya sambil memeluk dan mengecupi lehernya dari belakang.


"Aku mau bikin kamu tenang dan bahagia sayang. Aku mau kamu gak berpikiran yang berat berat dimasa kehamilan kamu yang hampir dekat dengan masa melahirkan. Jadi gini. Aku mau kamu janji satu hal sama aku"


"Apaan sih?" Stella tak sabar dengan maksud David.


"Kamu harus janji gak boleh sedih sendirian. Omongin apapun yang mengganjal di hati kamu sama aku. Kita hadapi semua bareng bareng. Oke"


Stella masih tak mengerti namun kepalanya mengangguk.


"Jadi gini..." David lantas menjelaskan maksud dan rencananya. Membuat Stella membulatkan mata dan mulutnya. Tak lupa dengan mata yang berkaca kaca karena tak percaya dengan rencana yang David sampaikan.


"Gimana. Kamu setuju?"


Stella mengangguk cepat sambil menitikan air mata. Namun bibirnya mengukir senyum bahagia.


Stella lantas memeluknya seraya mengucapkan kata "Terima kasih, mas"


David lega karena akhirnya bisa melihat senyum tulus itu lagi.


Tinggal menunggu besok rencananya dimulai dan dia akan terus mendampingi sang istri agar tak kembali depresi. Dia akan terus berupaya membahagiakan sang istri.


MAAF BARU BISA UP YA BEIBZ

__ADS_1


LAGI RENOVASI DAPUR SOALNYA


🙏🏻🙏🏻


__ADS_2