The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Sarapan Buatan?


__ADS_3

"Kakek bicara apa, tentu saja seorang cucu harus memperhatikan orangtuanya. Oh iya, kakek sudah makan? kebetulan bibi Mey menitipkan sedikit opor ayam untuk kakek. Apa kakek suka?" tanya Stella sambil mengangkat tinggi termos makanan dari sang bibi.


"Waaah.. Mey itu benar benar tahu apa kesukaan kakek. Ayo ayo, kakek tak sabar mencicipinya. Opor buatan Mey pasti enak" ucap Wiliam antusias.


"cih, dasar kampungan. Ngasihnya makanan kampung" decih Lusi yang berdiri dibelakang David.


Stella dan Wiliam tak menggubris, namun David sedikit menyorotnya dengan tatapan tajam, mereka lantas beranjak pergi ke ruang makan yang jaraknya cukup jauh jika berjalan kaki bagi Wiliam.


"Kakek, rumahmu indah sekali kek. Apa kau tidak kelelahan tinggal di rumah sebesar ini? bahkan bisa untuk bermain bola"


"Rumah ini menanti kehadiranmu dan calon cicit kakek kelak agar mereka bisa bermain bola di dalam rumah" kelakarnya.


"Benarkah? apa kakek mengizinkannya? tanya David yang langsung maju dan mensejajarkan langkah dengan Wiliam.


Sedangkan Lusi tengah menahan rasa kesal sedari tadi karena tak dihiraukan oleh mereka.


"Tentu saja aku mengizinkannya, dasar bodoh. Dia itu cucuku sekarang. Dia akan aku nikahkan dengan anak kenalan kakek. Mereka pasti cocok"


"Kakek, Stella belum mau menikah, kek. Karir Stella baru juga dimulai. Masih banyak yang belum Stella gapai dengan gelar Stella. Ah iya, maukah kakek kapan kapan mengunjungi ayah Stella?"


David mengulum senyum mendengar penolakan halus Stella setelah dibuat shock dengan niat menjodohkan Stella dengan anak relasi sang kakek.


"Benarkah kau akan mengajak kakek mengunjungi ayahmu? dimana dia tinggal, sayang?" tanya kakek yang kemudian mendaratkan dirinya pada kursi makan. Stella menarik kursi disebelahnya, sedangkan David di seberangnya dan Lusi mengambil kesempatan duduk disebelah David.


"Tanah kusir, kek"


uhuk


uhuk


"Kakek, pelan pelan minumnya" Stella menepuk nepuk perlahan punggung sang kakek dengan khawatir.


"cih, harusnya mati aja sekalian kakek tua" gumam Lusi yang tak didengar David dan Stella karena mereka sibuk mengurusi sang kakek.


Namun sang ajudan mendengar semuanya.


"Sudah sudah, kakek sudah merasa lebih baik. Maaf, orang tua selalu merepotkan. Sebagian orang pasti mengharapkan kakek yang sudah renta ini cepat mati" sindirnya.

__ADS_1


"Kakek bicara apa sih. Bercandanya gak lucu. Aku sama Stella belum ngasih cicit sama kakek, jadi gak boleh kemana mana dulu" sergah David.


"Ya ya ya, kakek tunggu janji kalian. Jadi ayahmu sudah meninggal?" tanya Wiliam dengan nada berempati.


"Iya kakek. Sudah lama. Kebetulan sejak pulang dari inggris, Stella belum sempat mengunjunginya. Tadinya mau besok, tapi keburu dateng kesini" jelas Stella sambil menyendok nasi dan opor yang sudah dituang kedalam mangkok besar. Lalu Stella menaruhnya didepan Wiliam.


"Buatku mana?" tanya David melirik pada piring kosongnya. Stella memutar bola matanya malas.


"Sini aku ambilkan" ucap Lusi.


"Aku ambil sendiri" sergah David dengan ketus.


Stella lantas mengambil alih piring David dan menaruh nasi diatasnya lalu menuangkan opor diatasnya. Membuat senyum David mengembang.


"Baiklah, besok pagi kakek antar"


Mereka selesai dengan makan malam ala kadarnya yang dibawa Stella, namun Wiliam dan David sangat menikmatinya.


"Sayang kamu mau kemana? kamar kita diatas, sayang" sergah Lusi saat David hendak masuk ke kamar tamu yang berada di lantai dasar, bersebelahan dengan kamar Stella.


"Aku tak mau sekamar dengan penghianat" sarkasnya yang langsung melepas cengkraman tangannya dan menutup pintu lalu menguncinya. Dia tak mau kembali dijebak.


Bukankah menikahi wanita hamil yang bukan dia pelakunya tidak disarankan agama, dan meskipun dibolehkan, tapi diharamkan menyentuhnya sampai bayinya lahir.


"Aku duluan istirahat, calon kakak madu.. dudududu.." gumam Stella saat masuk kamar sebelah David sambil bersenandung mengejeknya.


Pagi menjelang.


Seperti biasa Stella selalu menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya juga sang bibi. Berhubung sekarang ada di rumah orang, dia menyiapkannya untuk beberapa orang. Sedangkan ajudan Wiliam juga asisten rumah tangga yang khusus menangani masalah makanan gelagapan dengan tingkah Stella yang bingung harus mereka panggil apa.


"Sudah, non. Biar saya saja, nanti saya dipecat" ucap salah seorang art yang tidak enak hanya diam dan menyebutkan tempat menyimpan bumbu juga alat masak.


" Gak akan di pecat gara gara ini, tenang aja. Saya gak bisa kalo cuma diem tinggal am." tukasnya sambil menuang nasi goreng sosis kedalam beberapa piring.


"Saya mau mandi dulu. Tugas bibi sekarang awasi ni makanan, jangan sampe ada yang ngutak atik nyampurin sesuatu, ok" titah nya bak nyonya besar.


"Baik, non"

__ADS_1


Stella masuk ke kamar untuk mandi. Bersamaan dengan itu, David keluar kamar setelah siap dengan stelan kerja nya. Lusi pun terlihat turun dari kamarnya bertelanjang kaki masih dengan pakaian tidurnya.


"Pagi, sayang. Mau aku buatin sarapan?"


David mendelik, lantas melangkah masuk kembali ke kamar.


Lusi mendesah. Dia tak boleh menyerah. Lantas pergi ke dapur untuk membuat sesuatu untuk menunjukan baktinya pada sang suami.


"Mboook.. bikinik sara-pan.. udah siap?" ujar Lusi yang sempat terpotong titahnya karena melihat beberapa menu sarapan sudah dihidangkan.


"Sudah siap, non. Non Stella yang menyiapkan" jawab sang art yang tengah ditugaskan mengawasi makanan oleh Stella.


"Apa? gadis kampung itu?" Lusi terkejut.


"Buang semua, mbok. Jangan jangan dia pake sesuatu lagi buat ngeracunin ni keluarga"


"T tapi non-"


"Udah, tinggal nurut aja sih. Buang ni semua makanan kampungan trus bikin lagi yang baru" titahnya mengulang.


"Kenapa harus dibuang?" tanya Wiliam yang datang menggunakan kursi roda didorong oleh ajudan. Disusul David dan Stella yang sudah siap dengan stelan kerja nya.


" Waah.. nasi goreng. Sudah lama kakek gak makan nasi goreng. Siapa yang buat, mbok?" tanya Wiliam antusias.


"Saya yang buat kek, tapi takut kakek gak selera, jadinya mau dibuang aja" jawab Lusi yang memberikan tatapan mendelik tajam pada sang art agar tak membuka mulut atau dia akan kena getahnya.


"Benarkah? waah.. ternyata hatimu tak seburuk itu. Demi menyambut tamu, kamu rela merendahkan diri untuk menyiapkan semua ini" jawab Wiliam yang menyurutkan senyum Lusi.


Stella dan David hanya saling pandang dengan pengakuan Lusi.


"Ah.. i iya, kek" hanya itu yang bisa Lusi ucapkan.


"Gimana, bi. Aman?" tanya Stella.


"Eh, i iya aman. Non"


"Itu ada sisa yang di wajan, buat sarapan bibi sama pak ajudan ya" tukas Stella tanpa mengecilkan suaranya.

__ADS_1


"Oalaahh.. ternyata ini masakan cucu kakek. Waaah.. kakek lebih bersemangat nih sarapannya" Wiliam menerima piring yang sudah diisi Stella dengan nasi goreng sosis plus telor ceplok diatasnya.


Lusi lagi lagi menunduk.


__ADS_2