
"Bini gue, lo lupa?" sinis David yang melotot pada Deri yang tak bisa melihat karena tertutupi perban lalu beralih memelototi Stella yang langsung menunduk.
"Hehe.. iya bro, gue inget. Santai aja kali.
Gue masih pengen idup. Gak berani gue macam macam sama bini elo. Biar kata imut, tapi mematikan haha" seloroh Deri yang dibalas tawa David.
"Oke, kita pamit ya. Nanti kita dateng lagi" pamit David akhirnya yang langsung menarik Stella lembut setelah Stella berpamitan pada Wiliam.
"Kak.. Kakak marah?" tanya Stella pada David yang terus menarik tangan Stella menyusuri koridor rumah sakit namun tak melirik dan berbicara sedikitpun padanya.
David membukakan pintu penumpang depan untuk Stella lalu berlari memutar dan masuk ke kursi kemudi.
David memakai seat belt, namun pergerakannya terhenti karena Stella tidak melakukannya.
"Ck, pake seat belt nya" decak David dilanjutkan suara bernada datar.
Stella hanya terdiam dan memperhatikan ekspresi David.
David lantas membuka kembali seat belt nya lalu mamakaikan pada Stella, dia ingin segera beristirahat karena waktu sudah cukup larut.
"Modus ya, pingin dipakein-"
cupp
Stella mencuri kecupan di bibir David kala dipakaikan seat belt membuat David tercenung.
"Kamu.."
cupp
Stella mengecupnya lagi. Tak tahu saja David jika jantung Stella berdentum tak karuan. Sebelum hari H pernikahan, Stella kembali berselancar di dunia si maya. Mencari tahu bagaimana cara membujuk suami yang marah. Dan point pertama yang muncul adalah menciumnya.
Dan sepertinya berhasil.
__ADS_1
Tapi efeknya tidak baik untuk jantungnya.
"Apa kamu sedang merayuku?" tanyanya sambil menatap lekat dalam jarak yang sangat dekat.
Stella mengangguk cepat membenarkan pertanyaannya. Berharap David segera meredam amarahnya dan kembali ke posisi duduknya sehingga dia bisa menetralkan detak jantungnya.
Tapi dia salah. David semakin terpancing untuk tidak menunda hukumannya.
David menyegerakan hukumannya saat itu juga. Meraup bibir mungil nan merah itu dengan rakus. Tak peduli mereka tengah berada dalam mobil yang terparkir di basement rumah sakit.
Semua karena ulah Stella.
Ya
Gara gara Stella hidup David tak tenang.
Tak tenang untuk segera bertemu dengannya keesokan pagi.
Tak tenang mencari alasan untuk bisa bertemu dan bersamanya meski hanya 10 menit saja.
"eennggh.." Stella mendorong dada David karena kehabisan nafas.
"Ampun kak, aku minta maaf" ucap Stella sambil terengah.
"Kamu mengaku salah?" tanya David sambil menyeka bibir Stella yang basah dan sedikit bengkak.
"Huum" jawabnya diiringgi anggukan cepat.
"Apa kesalahanmu?" lanjut David masih menjaga jaraknya sedekat mungkin. Dia tak akan pernah melepaskannya.
"Gak tau" jawab jujur Stella yang diiringi gelengan kepala.
David menunduk. Tak percaya dengan kepolosan istrinya ini.
__ADS_1
"Terus kenapa minta maaf dan bilang aku marah"
"Kakak cemberut. Pasti marah. Aku gak tau udah nyinggung kakak dimana. Makanya aku minta maaf dulu, dan berharap kakak ngasih tau salahku dimana" jawabnya polos.
"Stella.." David memotong ucapannya. Dia tak tau harus bilang apa lagi. Jika membahas hal yang sepele, dia takut Stella tambah merasa bersalah dan membuatnya tertekan.
"Hhh... sudahlah. Aku yang berlebihan. Aku cuma minta kamu hanya boleh menundukan kepala pada Alloh dan padaku. Tidak pada yang lain"
"Juga jangan ikut panggil nama kesayangan orang. Aku cemburu" akunya David langsung. Dia tak mau memberikan teka teki pada istri polosnya ini.
"Mengerti?" lanjutnya dengan tegas seraya menatap manik matanya lekat.
"Mengerti" jawab Stella mantap menganggukan kepalanya.
"Bagus"
cupp
David mengecup kilat bibirnya lalu kembali ke posisi duduknya dan memasang seat beltnya.
"Lakukan tugasmu sebagai seorang istri dengan baik" tambahnya sembari mengusap pucuk kepala Stella dan tersenyum manis.
Stella membalas senyuman itu sembari membuka kakinya.
Senyuman di bibir David surut kala melihat tingkahnya.
"Ngapain kamu" tanyanya menyorot pada kedua kaki yang dibuka tiba tiba itu.
"Menjalankan tugas istri" jawab nya polos
🤦🏻♀️
🤦🏻♀️
__ADS_1
🤦🏻♀️