
"Stella.. ssshhhh...sshh.. kamu udah janji untuk tenang.. tolong jangan buat ayahmu sedih ngeliat kamu kek gini..." David menitikan air mata sambil menenangkannya. Stella yang meronta akhirnya luluh sambil terus menangis meraung, sebelah tangannya memukul lemah lengan David yang memeluknya.
"Ayah janji gak akan ninggalin Stella.. kenapa ayah bohongin Stella, yaahh..."
Mey tak kuasa menahan tangisnya melihat penderitaan kakak dan keponakannya. Seandainya dia lebih keras kepala untuk mengajak mereka keluar dari lingkungan itu, seandainya dia mendapatkan tempat tinggal lebih cepat, mungkin dia tak akan kembali kehilangan sang kakak yang baru saja ditemuinya itu.
David menenangkannya sambil duduk di kursi dekat kamar mayat.
Stella duduk diapit oleh David dan Meyra. Karena sedari tadi David yang menuntun Stella ke bagian ini, Stella tanpa sadar terus menyandarkan tubuh lemahnya pada David.
"Apa kamu mau menemuinya?" tanya David setelah isakan Stella mereda.
Stella mendongak sambil sesenggukan, menatap mata teduh itu lalu mengangguk.
David dan Meyra membantunya bangkit.
Saat perawat membukakan pintu itu, tangis Stella kembali pecah. Tak kuasa menahan sedih jika ayahnya adalah salah satu penghuni ruangan dingin itu.
"Kamu boleh gak kesana kalo kamu gak kuat" bisik David saat Stella kembali menyandarkan kepalanya pada dada David.
"Ayah... aku mau lihat ayah.. terakhir kali.." lirih Stella mencoba mengikhlaskan kepergian sang ayah.
Hanya itu yang bisa dia lakukan sebagai pengabdiannya. Dia tak mau membebani sang ayah untuk kembali ke sisiNya.
David menganggukkan kepala pada perawat yang kembali membuka pintu ruangan dingin itu.
Tangannya memeluk erat bahu Stella agar Stella sadar ada orang lain yang menguatkannya, agar dia merasa tak sendiri. Ditambah sang bibi yang menggenggam erat sebelah tangannya sambil terisak.
__ADS_1
"Kakak..." lirihnya yang langsung menunduk tergugu saat perawat membuka kain putih yang menutupi wajahnya.
"Ayah... tunggu Stella, yah.. maafkan Stella yang sudah banyak menyusahkan ayah.. Stella janji akan meneruskan cita cita Stella untuk ayah, biar ayah bangga liat Stella di alam sana. Ayah sekarang sudah bebas dari penderitaan.... lindungi Stella dari sana, yah... Stella sangat menyayangi ayah... ayah... ayah adalah laki laki terhebat di dunia ini. Selamat jalan.. ayah..." Stella kembali tergugu dalam pelukan David.
"Kakak.. maafkan Mey yang terlambat menemukan kalian, seandainya... seandainya Mey... hik... seandainya Mey tetap keras kepala memaksa kakak ikut Mey..." Meyra tak kuasa menahan isak tangisnya. Punggungnya diusap Stella yang sudah lebih tenang meski masih terisak.
"Kakak jangan khawatir, Stella juga anak Mey. Dia tanggung jawab Mey sekarang... Kakak beristirahatlah dengan tenang... semoga Allah menghapus dosa dosamu dan menempatkanmu di sisiNya... selamat jalan Kakak... Mey selalu menyayangi Kakak..."
Karena mereka tak mempunyai sanak saudara lain juga para tetangga Stella merupakan orang orang yang kebanyakan jauh dari agama, Meyra dan Stella meminta pihak rumah sakit untuk men sholat kan Arya di rumah sakit. Tentu saja pihak rumah sakit menyanggupi dan memanggil ustadz untuk memimpin prosesi pemakaman yang akan dilakukan keesokan hari karena hari sudah gelap.
Para guru berdatangan kala mendapat kabar duka yang dikirimkan David pada wali kelas Stella awalnya dan kemudian menyebar pada guru lain.
Dan ternyata semua guru termasuk guru BK datang ke rumah sakit untuk mengucapkan bela sungkawa pada murid favorit mereka.
Meyra merasa terharu dengan sikap para guru yang begitu menyayangi keponakannya. Mereka bahkan rela menunggui Stella untuk melakukan tahlil bersama di mushola yang disediakan pihak rumah sakit.
"David, kamu gak pulang?" tanya salah satu guru karena sedari mereka datang, David selalu mendampingi Stella. Dia bahkan terlihat bolak balik membawa pakaian ganti untuk Stella dan Meyra. Juga membeli makanan untuk Stella dan Meyra juga camilan untuk para pelayat dan penunggu agar perut mereka tak kosong.
"Saya sudah izin sama kakek, pak" jawabnya singkat dan dibalas tepukan di bahunya.
David memang anak yang sangat populer di sekolah. Selain tampan dan kaya, dia juga termasuk pintar. Bahkan sebelum Stella masuk dan memperlihatkan nilai akademisnya yang sempurna selama 1 semester awal, David lah yang menjadi wakil dari sekolah untuk mengikuti lomba sains antar sekolah.
Dan David juga anak yatim piatu sedari kecil dan hanya dibesarkan sang kakek seorang diri sambil mengurus perusahaannya.
Pagi menjelang, mereka yang setia menunggui dan mengaji bersiap untuk memakamkan jenazah sang ayah.
Meyra telah memesan 1 lahan untuk memakamkan sang Kakak.
__ADS_1
Beruntung Stella dipertemukan dengan orang orang baik yang membantunya kini dalam mengurus segala sesuatunya untuk mengantar jenazah sang ayah ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Meyra mengajak Stella untuk pulang ke apartemen yang baru dibelinya. Tadinya itu memang untuk kakak dan ponakannya, namun karena proses pembelian apartemen tak sesimpel membeli kacang, jadilah dia membutuhkan waktu hingga bisa mengalihkan kepemilikan dari pemilik sebelumnya.
Tapi Stella ingin kembali ke rumah sederhananya dahulu untuk mengambil beberapa barang penting. Selain itu, karena kasus penusukan, pihak kepolisian mengadakan pemeriksaan TKP dan ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk selanjutnya diproses pengadilan.
David masih setia mendampingi meski beberapa kali Stella memintanya untuk pulang. Namun lagi lagi gelengan kepala sebagai jawabannya.
"Apa ada yang hilang?" tanya salah satu petugas yang ikut memeriksa TKP.
Stella mengangguk.
"Apa itu?" tanya petugas yang sedikit meremehkannya. Mungkin hanya beberapa kilo beras atau beberapa karung botol plastik. Pikirnya.
"Uang hadiah lomba" jawab tenang Stella sambil memilih barang penting yang akan dibawanya ke kediaman baru bersama sang bibi karena ternyata Meyra sudah resmi bercerai dengan suaminya karena masalah anak yang tak kunjung hadir di rahim Meyra.
"Berapa jumlahnya?"
"Lima juta"
"Apa, lima juta? kenapa gak disimpen di bank?" tanya petugas dengan sedikit ketus. Dasar bodoh. Pikirnya.
"Menurut bapak kita nabung di bank bisa tanpa katepe? tempat tinggal kita aja gak terdaftar di erte manapun, bahkan mungkin keberadaan kami tak dianggap ada di kota ini. Layaknya sampah yang berserakan di mata kalian yang bisa kalian sapu dan keruk semau kalian tanpa mau memilah apakah ada emas dalam tumpukan sampah itu" sarkas Stella membungkam mulut petugas.
Stella merasa sudah cukup barang yang dia butuhkan. Dia hanya membawa akte lahir dan ijazah ijazahnya, foto foto kenangan bersama ayah dan ibunya sewaktu dia masih kecil dan keluarga mereka masih utuh, juga beberapa pasang pakaiannya. Sedangkan seragamnya sudah kembali berwarna dan dibuang. Meyra akan membelikannya lagi besok saat Stella masuk sekolah.
"Tunggu, pelaku perampokan sudah ditangkap. Apa kamu akan menuntutnya" tanya sang petugas yang mendapat kabar dari rekannya.
__ADS_1
"Bebaskan dia. Saya gak akan menuntut apapun karena dia juga senasib dengan kita. Toh gak akan mengembalikan ayah saya"