The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Wejangan


__ADS_3

Stella meminta kembali ke apartemen sang bibi hingga waktu pernikahan tiba. Bagaimanapun tidak baik jika tinggal 1 atap bersama dengan yang belum mahramnya. Selain itu bayangan tentang hubungan intim pasangan selalu menghampiri jika Stella bertemu bahkan berdekatan dengan David. Dan itu menyiksanya karena mendadak merasa jadi idiot.


Saat malam hari, Stella melakukan shalat sunat taubat dan berjanji tidak akan pernah menonton hal seperti itu lagi. Dia memohon agar bayangan itu dihilangkan dari pikirannya.


"Bi.."


"Hn?"


"Bibi deg deg an ga waktu dulu mau nikah?" tanya Stella pada Meyra sang bibi.


"Pasti laah. Karena pernikahan yang didasari rasa cinta akan menjadi moment yang sangat tak terlupakan. Karena saat itu sepasang manusia yang saling mencintai mengucap janjinya dihadapan sang maha kuasa untuk menjalani tahap baru hidupnya sebagai pasangan yang akan dititipkan amanat berupa kekayaan, kesehatan, maupun kesetiaan terhadap pasangan, juga kesabaran saat diberi ujian baru dalam hidup kalian" jawab Meyra sambil meraih kepala Stella lalu mendekapnya dalam pelukannya.


"Apa bibi juga dulu saling mencintai?"

__ADS_1


"Tentu saja. Kami dulu saling mencintai. Hanya saja cinta suami bibi dikalahkan oleh hasutan keluarganya yang mendesaknya untuk punya anak. Bukannya bibi tak mau punya anak. Siapa wanita yang tak mau punya anak. Tuhan hanya sedang menguji kami. Tapi dia menyerah dan memilih menceraikan bibi"


"Jika saat itu bibi diberi anak, tapi suami bibi jatuh miskin, apa bibi akan meninggalkan anak dan suami bibi?"


"Mana mungkin bibi akan melakukan itu? kami memulai kehidupan kami dalam kesederhanaan. Jika saat itu bibi diberi pilihan untuk menjalani kehidupan seperti itu, bibi akan bertahan dan mensuport suami bibi"


"Tapi kenapa ibu Stella memilih meninggalkan kami, bi? apa kami tidak cukup berharga baginya? apa suatu saat Stella atau David akan berbuat hal yang sama? Sejujurnya, Stella takut akan hubungan seperti itu"


"Setiap orang itu punya prinsip dan jalan pikiran sendiri. Tidak perlu menyalahkan orang lain. Yang penting kamu mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain agar kelak saat kamu mendapati permasalahan yang serupa, kamu bisa mengambil sikap dan menghadapinya dengan baik"


"Kamu itu, bibi sudah cukup tua untuk menjalin hubungan. Lagi pula mana ada yang mau sama wanita tua kayak bibi. Yang ada malah yang tua nyari daun muda"


"Yee, yang gitu gak usah dianggap ada. Misal nih ya bi, jadi perawat pribadi nya seorang pria tua kaya. Kan bisa tuh nge modus, takut malem terjadi apa apa sama tuan, biar saya tidur disebelah tuan aja. Gitu bi, kan dijamin klepek klepek, ya ga. Secara udah tua, udah lama ditinggal istri, udah lama gak dapet-"

__ADS_1


plakk


"Kamu siapa yang ngajarin hal menjijikan kek gitu heh?" Meyra menampar lengan atas Stella dengan gemas.


"Adududuuuh... ampun bii.. fuh fuh fuh... enggak lagi deeh.. huhuuu..."


Stella mengaduh, menyesal terpengaruh dengan tayangan absurd yang masih sedikit tersisa di otaknya.


Namun sekelebat bayangan muncul kembali.


"Tapi bi.."


"Apa? ngomong ngaco lagi bibi sumpal tu mulut pake sendal jepit"

__ADS_1


Stella seketika melipat mulutnya.


"Tuan Wiliam juga bisa dicoba, bi" lanjut Stella yang langsung ngacir ngambil jurus seribu langkah.


__ADS_2