
"Tuan, kami menemukan sebuah gubuk sekitar 400 meter dari kaki tebing. Kami akan mencoba bertanya, karena sepertinya gubuk itu dihuni seseorang. Terlihat dari asap yang mengepul dan sinar temaram didalamnya. Hutan ini cukup rimbun jadi tampak gelap" lapor salah satu anggota yang menyisir area sebelah barat laut. Sedangkan anggota lain yang menyisir area utara dan timur laut belum memberikan informasi apapun. Sepertinya mereka belum menemukan apapun.
"Tuan, penghuni gubuk itu adalah sepasang suami istri, suaminya tengah terbaring sakit dan istrinya sedang hamil. Menurut mereka, mereka tak mendengar apapun atau kedatangan siapapun. Kami akan melanjutkan penelusuran"
"Lanjutkan. Sampai hari benar benar gelap, lakukan penelusuran" titah Rudolph yang kemudian mengusap wajahnya kasar. Sudah ia duga, tak mungkin kedua orang itu akan selamat.
Tapi demi menyenangkan hati sang majikan tentu saja dia harus mengupayakan meski mustahil, bukan.
"Bagaimana pak Rud. Apa sudah ada titik terang?" tanya Stella di ambang pintu ruang kerja Wiliam yang tak tertutup.
"Belum, nona. Teruslah berdo'a agar mereka segera ditemukan" hiburnya yang sebenarnya tidak ia suruh pun Stella selalu menggumamkan do'a keselamatan suami dan asistennya.
......................
Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Usia kandungan Stella kini menginjak bulan ke-7, pencarian sudah lama dihentikan, namun Stella diam diam selalu mencarinya sendiri. Dia bahkan belajar mengendalikan helikopter dan kini ia mempunyai surat izin terbang. Dan selama kehamilannya, sang jabang bayi benar benar tak merepotkannya sama sekali. Stella bahkan bergerak lincah seolah tidak membawa beban apapun di tubuhnya.
Stella merajuk pada Wiliam karena menghentikan pencariannya. Dia tak mau mengurusi perusahaan dan memilih menghabiskan waktu untuk mencari belahan jiwanya.
Dengan terpaksa Wiliam mendelegasikan Rudolph dan mempekerjakan Meyra kembali di perusahaannya.
Wiliam sebenarnya sangat terpukul atas kehilangan cucu semata wayangnya, dan dia sangat bersyukur jika Stella sangat mencintai dan meyakini jika David masih hidup. Padahal dia sendiri sudah putus asa.
Tubuhnya kian melemah seiring berjalannya waktu. Pikiran akan keselamatan sang cucu yang sangatlah tidak mungkin membuat daya tahan tubuhnya menurun.
"Kakek, kakek gak boleh sakit. Nanti siapa yang ngajak main cicit kakek?" bujuk Stella agar Wiliam mau memakan makanan yang baru Stella buat untuknya.
__ADS_1
"Kakek sudah terlalu tua untuk main dengan anak anak. Cicit kakek pasti anak yang lincah seperti ibunya, kakek pasti kewalahan" ucapnya lemah.
"Mana mungkin dia lahir langsung lari lari kan kek. Kakek harus makan ya. Stella janji, dengan pertolongan Allah, hari ini Stella pasti bisa nemuin kak David. Makanya kakek harus semangatin Stella terus" tukasnya sembari menyodorkan sesendok bubur ayam buatannya.
"Kamu belum menyerah?" tanya Wiliam setelah menerima suapan dari sang cucu menantunya.
"Stella gak kan nyerah, kek. Kita udah pernah diuji dengan perpisahan sementara, dan sekarang kita kembali diuji dengan perpisahan juga. Dan Stella yakin ini juga hanya sementara. Tolong jangan patahkan semangat Stella untuk tetap meyakini apa yang Stella yakini selama ini" Stella menitikan air mata saat mengucapkan permohonannya.
Dia tahu orang orang telah menyerah berharap atas keajaiban yang tak kunjung datang.
Sebagian dari mereka bahkan mungkin sudah melupakannya.
Namun tidak bagi Stella. Sesuatu dalam dirinya selalu berbisik meyakinkan jika suaminya masih hidup dan berada di suatu tempat. Dan dia sangat yakin, Allah akan kembali mempertemukan mereka dengan caraNya yang indah.
"Terima kasih, sayang. Untung ada kamu yang selalu mengingatkan kakek untuk tak menyerah. Baiklah, boleh kakek nambah buburnya?" pinta Wiliam bersemangat. Bagaimana mungkin dia yang adalah orang tua yang mengasuh David sedari kecil menyerah begitu saja. Sedangkan Stella yang terbilang baru beberapa tahun mengenal David saja meyakini jika sang cucu pastilah masih hidup.
Dia tidak boleh lemah.
Stella mengantarkan Meyra ke bandara karena kunjungan kerja ke negara S. Sebenarnya Meyra sudah melarang Stella untuk mengantarnya namun kekeras kepala-an anak ini memanglah sulit dibantah jika sudah bertekad. Terlebih Stella mengatakan tidak baik berduaan disuatu ruangan dengan lawan jenis. Dari pada diisi yang ketiga yang mana adalah setan, lebih baik dia yang menyingkirkan posisi pengganggu.
Meyra memang berangkat ke negara S bersama Rudolph.
"Ekhem, gak usah saling curi pandang gitu deh. Kalo iya bilang iya, kalo enggak ya bilang enggak. Kek anak abege aja" tukas Stella yang gemas dengan tingkah kedua insan yang duduk di depan dan saling melirik satu sama lain.
Bukannya Stella tidak tahu jika tumbuh benih benih cinta diantara mereka selama bekerja menggantikan dia dan sang suami. Terlebih usia mereka hanya terpaut 2 tahun.
__ADS_1
"Kamu ngomong apaan sih" sungut Meyra yang merasa malu ketahuan mencuri pandang oleh keponakan somplaknya.
"Tinggal tembak aja pak Rud, jeddeerr.. beres kan. Lagian siapa yang bakalan nolak coba. Jabatan presdir meski sementara, badan masih proporsional, gak ada glambir glambirnya. Pasti perutnya masih kotak kotak, bi" kalimat terakhirnya memprovokasi Meyra dengan seolah berbisik namun Rudolph bisa mendengarnya dengan jelas karena Stella duduk memajukan diri dan berada tepat di tengah mereka.
"Kamu anak kecil kalo ngomong suka ngawur sama orang tua ya" Meyra gemas dan langsung mencubit pipi tembem Stella membuat Stella mengaduh dan Rudolph tertawa.
"Aduuuh.. bibi... nanti pipi Stella copot gimana huhuuu... dikira squishi apa" Stella mengusap kasar pipinya yang baru diremas Meyra dengan gemas. Namun pandangannya menangkap suatu sosok diluar mobil.
"Pak Rud, stop. Hentikan mobilnya" titah Stella yang langsung membuka handle pintu sebelah kiri.
"E eh.. non.. jangan main lompat aja.."
ciiiiit..
Stella yang memang langsung melompat keluar kala mobil yang Rudolph kemudikan baru saja berhenti sedikit berada di tengah jalan, namun Stella tak melihat kendaraan yang muncul dari arah belakang dan hendak menyalip ke sebelah kiri.
"Woii.. ngerti peraturan gak sih? kalo mo nyalip tuh ke kanan, bukan ke kiri" sentak Stella yang terkejut. Ia berkacak pinggang dengan perut buncitnya.
"Eh... orang itu.." Stella langsung berlari pergi meninggalkan si pengendara motor sport yang ingin membalas kekesalannya karena Stella yang salah duluan.
"Aduuuuh.. itu anak, somplaknya kok makin menjadi siiih" geram Meyra yang lantas ikut turun dari mobil setelah Rudolph menepikan mobilnya agar tak menimbulkan kemacetan.
Untung saja mereka sudah berada di area drop off bandara. Jadi Rudolph tinggal mengeluarkan beberapa koper miliknya dan milik Meyra. Selanjutnya mobil itu akan Stella bawa pulang.
"Tungguu... " pekik Stella terengah dengan membawa buntelan di perutnya.
__ADS_1
"Kak Daviiiid...." teriaknya sekuat tenaga karena dirasa orang yang ia kejar tak juga menghentikan langkah lebarnya.