The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Peringatan Stella


__ADS_3

"Lusi? kamu Lusi kan?" balas Nakamoto dengan ekspresi yang lain dari biasanya.


David dan Stella saling melirik.


Mereka mengambil tempat lalu membiarkan kedua orang itu saling melepas rindu.


10 menit berlalu, namun mereka masih belum mau mengakhiri kerinduan mereka.


David mengangkat tangan kirinya dan menghitung waktu melalui jam yang melingkar ditangannya.


"Jam berapa lagi meeting selanjutnya?" tanya David.


"Jam 2, tuan"


"Batalkan yang ini, kita makan diluar" tegas David lantas berdiri dan pergi tanpa pamit pada Nakamoto.


"Baik"


"Maaf, tuan Nakamoto, meeting hari ini dibatalkan. Permisi" ucap Stella meneruskan ucapan sang atasan pada klien yang tengah asik bercengkerama dengan Lusi.


Lusi dan Nakamoto tersadarkan saat Stella sudah tak menampakan punggungnya lagi.


Lusi kesal karena kecolongan, dia jadi ditinggalkan. Akhirnya mereka berdua makan siang bersama, tepatnya Lusi terpaksa makan siang bersama anak relasi ayahnya yang dulu sempat dekat.


Dan mereka berdua tentu saja berakhir di hotel.


"Sialan, kenapa gue kejebak sama si Toni brengsek itu sih, ditinggal David kan jadinya" Lusi mendecak kesal sambil menendang udara saat di trotoar. Dia tak menyangka akan kembali terjerat pesona cassanova satu itu lagi setelah sekian lama mereka tak bertemu.


"Kamu mau makan apa?" tanya David pada Stella di mobil.


"Siang gini enaknya bakso dedemit kali ya"

__ADS_1


"Hah? bakso apaan nama ngeri gitu?"


Stella terkikik.


"Namanya memang menyeramkan, tapi aslinya hanya bakso beranak yang diisi cincang dengan butiran cabai rawit merah ditambah tulang berisi sumsum yang siap di seruput" terang Stella dengan menyeka sudut bibirnya karena air liur yang hampir menetes membayangkan pedasnya rasa bakso.


David terkekeh dengan tingkah Stella.


"Ayo kita coba"


Stella bertepuk tangan kegirangan. Rasanya pegal berpura pura cool saat ada Lusi.


"Pelan pelan, gak ada yang mau rebut makanan kamu" ucap David saat melihat Stella langsung menyeruput sumsum dari tulang yang baru disajikan dan hampir tersedak.


"Sum sumnya harus di makan panas panas, kalo enggak nanti gak bisa diseruput.


"Apa iya?" David lantas mengikuti apa yang dilakukan Stella. Dia baru merasakan hidangan seperti ini. Segala sesuatu yang ada pada Stella dan saat bersamanya merupakan hal baru, dan dia suka.


David terkekeh, dia lantas menyodorkan mangkuk miliknya yang belum tercemar dengan rasa pedas.


"Nih, mumpung belum kena pedes" ucap David sambil perlahan memotong bakso dengan hati hati.


Stella menurut dan menyeruput kuah yang ada di mangkuk David.


Mereka terkekeh kemudian yang akhirnya makan semangkuk berdua.


......................


Selesai dengan meeting ke dua, mereka kembali ke kantor. Nampak Lusi tengah menunggu dengan kesal di depan pintu lobby sambil berjalan mondar mandir.


"David, kok aku ditinggal? trus kenapa meetingnya gak jadi? kalian terus kemana, kenapa baru pulang lagi?" cecar Lusi saat melihat David baru turun dari mobil.

__ADS_1


David bergeming dengan serentetan pertanyaan yang dilayangkan Lusi. Dia terus berjalan tanpa menghiraukannya.


"David" Lusi berteriak sambil menghadang jalan David karena tak digubris.


Reflek Stella maju untuk menjadi tameng David karena itu merupakan salah satu job desc nya.


"Saya peringatkan anda untuk mundur, nyonya. Jika ada masalah rumah tangga, silahkan selesaikan di rumah setelah pulang kerja" seru Stella dengan mata menyorot dan suara datar.


Lusi tak pernah mendapati Stella dengan aura yang kuat seperti ini. Dia mengerutkan keningnya sambil mencari bahan kesalahan untuk mempermalukan Stella.


"Heh, sekertaris abal abal. Jangan sok kamu ya, kamu belum tau siapa saya sebe-" ucapan Lusi dipotong Stella.


"Maaf, saya tidak tertarik dengan jati diri anda. Saya minta sekali lagi kepada anda untuk mundur" tanpa Lusi sadari kakinya melangkah mundur seiring peringatan Stella yang perlahan maju.


Stella sedikit menoleh pada atasannya.


"Silahkan tuan"


David lantas melangkah melewati wanita yang selalu membuat ulah dihidupnya. Jika saja dia adalah laki laki, tak akan dia biarkan berjalan begitu saja. Sayangnya dia perempuan, apa kata dunia jika dia melukai perempuan, terlebih statusnya adalah istrinya sendiri.


David menghampiri Sarip, sang sekuriti.


"Panggilkan supir untuk membawanya pulang" titahnya tegas yang diangguki Sarip"


Stella berjalan melewati Lusi mengekor David sang atasan.


"Dasar sundal" desis Lusi tepat ditelinga Stella saat dilewatinya.


Stella berhenti lalu berbalik.


"Bercerminlah saat anda berkata seperti itu, setidaknya anda bisa menutup leher anda dahulu agar orang orang tidak berpikiran sebaliknya terhadap anda"

__ADS_1


Lusi sontak menutup lehernya dengan telapak tangannya, tersadar akan aktifitas brutalnya dengan Toni. Stella lantas menampilkan senyum miringnya dan melanjutkan langkahnya.


__ADS_2