The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Nasib Imelda


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan disini?" ketus Imelda pada laki laki tua yang bangkit dari duduknya seraya mengancingkan jas nya.


"Begitukah caramu berbicara pada suamimu?" balas Henry Frost, suami Imelda yang merupakan ayah kandung Lusi.


"Hentikan lagak mu yang sok kuasa itu. Sekarang kau tak lagi memiliki kekuasaan" tukas Imelda sinis.


"Heh, tak ku sangka aku menikahi wanita sepertimu. Sekarang aku mengerti kenapa anak kandungmu ini bersikap seperti itu. Kupikir dia anak yang tak tahu diri. Tapi setelah aku mendengar sekilas bagaimana kesusahannya dia dan mantan suamimu dahulu yang dengan tega kau tinggalkan karena kemiskinan, dan mungkin sekarang kamu akan melakukan hal yang sama padaku, kini aku mengerti bahwa yang kamu cintai itu adalah uang. Baiklah, karena kamu mencintai uang, aku ceraikan kamu Imeldawati sekarang juga. Silahkan kamu cari uang yang kau cintai. Pengadilan akan mengirimkan berkas perceraian untuk kamu tanda tangani ke kantor ini karena kamu tak punya tempat tinggal, bukan?" geram Henry yang kemudian keluar dari ruangan David setelah menundukkan sedikit kepala untuk pamit. Sekilas dia menatap Stella dengan nanar.


Imelda tertegun dan berdiri mematung. Dia merajuk pada Henry dan mengancam akan menceraikannya jika tak bisa memenuhi kebutuhannya, namun gertakannya menjadi bumerang.


Dia kini bingung harus tinggal dimana. Berharap sang suami datang menjemput dengan menjanjikan fasilitas dan dia bisa kembali pada kemewahan, namun nahas. Sang suami malah menceraikannya.


"Stella, bagaimana ini. Ibu tak tahu harus kemana. Bisakah ibu ikut pulang denganmu dan tinggal denganmu?"


"Kenapa ibu gak cari laki laki kaya lagi untuk ibu peras?" sarkas Stella yang kembali menitikan air mata. Kata kata yang tidak seharusnya dia ucapkan pada orang tua meluncur begitu saja.

__ADS_1


"Kamu pikir.." Imelda menggantung kata katanya. Rahangnya mengeras menahan kekasalan.


"Setidaknya berikan ibu uang untuk menyewa hotel agar ibu bisa istirahat"


"Hotel?"


"Iya, hotel. Lalu ibu akan mencari.. mencari.. emmm..."


"500 ribu cukup?"


"kalau kos kosan mungkin bisa untuk 1 bulan. Ibu bisa mencari pekerjaan untuk menghidupi diri sendiri. Ibu tak punya tanggungan bukan?"


"Kos- mana bisa ibu tinggal di tempat seperti itu? K-"


"Itu lebih baik bukan dari pada tinggal di kolong jembatan beralaskan kardus" potong Stella memekik. Dia kembali menitikan air mata mengingat penderitaannya dengan sang ayah. Bagaimana lagi caranya menyadarkan wanita tidak tahu malu didepannya ini bahwa segala sesuatu butuh perjuangan.

__ADS_1


Imelda kembali tertegun. Dia tak tahu bagaimana lagi cara membujuk anak yang sudah lama tak ia akui agar bisa menggelontorkan uang tanpa ia harus bersusah payah berkeringat.


"Baik. Kalau itu maumu. Ibu akan tinggal di kolong jembatan. Ibu akan ceritakan pada semua orang jika ibu mempunyai anak yang sombong dan tak tahu balas budi sehingga membiarkan ibunya tidur di kolong jembatan.


Imelda lantas menghentakkan kaki berbalik dan meninggalkan ruangan kantor David sambil menggeret 2 buah koper besar dengan sedikit kesusahan.


Stella kembali menangis meraung di ceruk leher David. Sungguh bukan ini keinginannya. Dia hanya ingin ibunya sadar bahwa uang bukanlah segalanya.


David hanya bisa memeluknya agar Stella tak merasa sendiri.


Namun tiba tiba tubuh yang memeluknya erat menjadi berat dan raungannya terhenti.


David meliriknya sekilas sedikit panik.


Stella pingsan.

__ADS_1


KIRA KIRA NASIB IMELDA GIMANA YA?🤔


__ADS_2