
"Bagaimana bisa kamu memperlakukan calon istrimu seperti ini?" raungnya di lobby membuat David menghentikan langkahnya menuju lift.
"Calon istri? kamu? calon istriku?" tanya David dengan senyum sinis.
"Apa? dia calon istri anda, tuan?" Stella tiba tiba bertanya dari arah belakangnya.
"Hah? eeh.. bu bukan.. mana mungk-" David langsung gelagapan.
"Buruk sekali selera anda, tuan. Tak ku sangka anda menyukai yang lebih tua dari anda. Ck ck ck" Stella lantas meninggalkan drama kolosal itu dan melangkah keluar.
"Stel.. Stella.. kamu.. kamu mau kemana?" tanya David mengejar langkahnya.
"Tentu saja istirahat untuk makan, tuan. Sekarang sudah waktunya istirahat. Silahkan anda selesaikan urusan rumah tangga anda" jawab Stella dengan tenang tanpa menghentikan langkahnya.
"Ngawur kamu. Aku ikut" sergah David yang menyamakan langkahnya dengan calon istrinya.
"Tuh kan. Apa ku bilang. Presdir kita yang bucin akut sama sekertarisnya. Kapan kamu lihat dia berjalan sendiri meski hanya sekedar beli es jeruk ke cafetaria. Pasti presdir nunggu di depan cafetaria. Bener ga?"
"Iya bener. Pantesan waktu itu gak biasanya pak presdir dateng ke kafetaria. Ternyata nungguin Stella ya"
Bisik bisik karyawan mengganggu telinga Weli.
__ADS_1
"DIAAAAM KALIAN SEMUAA" teriak Weli yang tak menerima jika gadis kecil nan kampungan itu bisa menarik hati presdir pujaannya.
"Bu gak usah teriak teriak. Mending ibu urusin anaknya tuh"
"Berisik, kalian. Berani beraninya kalian tidak sopan padaku. Lihat saja, kalian akan dipecat-"
"Yeee.. ibu kan yang dipecat. Makanya patuhi peraturan. Dilarang menggoda Presdir" kalimat terakhirnya diucapkan dengan penuh penekanan.
"Betul, bu. Jangan dikira ibu udah senior disini lantas bisa seenaknya godain presdir ganteng kita ya gak?" sindir para karyawan dengan puas karena sering mendapat cacian darinya.
"Bubar, bubar. Jangan gangguin calon istri orang" seru sekuriti sambil menepuk tangannya sendiri.
"Calon istri bapak ya?" goda salah satu karyawan.
"Sialan kalian. Berani beraninya meledek ku. Awas kamu David. Aku akan buat perhitungan denganmu" geramnya bermonolog. Weli lantas melangkah kearah lift untuk menuju ruangannya di lantai 3.
"Mau kemana, bu? ini sudah saya bereskan atas perintah pak presdir. Katanya kalau ibu yang beresin nanti takut ngambil apa apa" tukas OB sambil menaruh kardus berisi barang barang Weli yang berada di meja kantornya lalu berbalik pergi.
Semua orang tampak mensyukuri pemecatan Weli. Bukan apa apa, dia yang merasa memiliki kedekatan dengan Wiliam sang ketua komisaris melalui sang kakek yang merupakan teman Wiliam, sering bersikap semena mena pada karyawan junior.
Tak sedikit yang dipecat karena hasutannya pada Wiliam.
__ADS_1
Karena kini David yang menggantikannya memimpin perusahaan, Wiliam menyerahkan semuanya pada David. Terserah dia mau melakukan apa selama demi keberlangsungan jalannya perusahaan.
"Baiklah. Anggap saja aku mengalah kali ini. Tapi bukan berarti aku menyerah" seringai jahat terbit di bibir tebalnya.
"Sayang-"
"Jangan panggil aku kek gitu iii masi jam kantor" bisik Stella sambil membekap mulut David.
Mereka saat ini tengah berada di dalam mobil menuju restoran eropa tempat mereka melakukan janji meeting sekaligus makan siang.
Supir yang sudah mengetahui kedekatan mereka tak bereaksi apapun.
David menjilat telapak tangan Stella yang membekap mulutnya.
"Iii.. jijik.. kakak mah jorok" ucap Stella sambil melap telapak tangannya pada jas David.
"Enak" tukas David sumringah.
"Kok enak sih? Aku belum cuci tangan tau"
"Pantesan aku maunya nempel terus. Peletnya manjur. Siap siap aja aku jilatin seluruh tubuh kamu seminggu lagi"
__ADS_1
uhuk
uhuk