The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Angan Yang Nyata


__ADS_3

POV DAVID


Aku mengenali pesawat itu, beberapa kali berputar putar diatas tempatku berpijak setelah itu menjauh dan selang beberapa jam kembali lagi dan berputar putar kembali diatasku. Begitu setiap harinya. Dan pernah sekali waktu seharian pesawat itu tak muncul, ada rasa kecewa dan rindu karena tak melihatnya berputar putar diatasku. Aku selalu bertanya tanya beberapa bulan ini.


Apakah mereka mencariku? Ini sudah lewat beberapa bulan, belum ada tanda tanda mereka kembali mencariku setelah waktu itu aku melewatkannya karena tengah mencari ranting untuk bahan bakar penghangat ruangan sekaligus memasak air. Dan sialnya, wanita yang pernah membuatku terjebak bersamanya selama bertahun tahun karena kebohongannya, kembali membuat ulah dengan mengaku tak mendengar apapun tentang kecelakaan.


Pak Andi yang terkena stroke memberitahukannya padaku secara perlahan.


Kecelakaan itu membuatnya shock. Kenapa aku bisa tahu kalau pak Andi mengalami stroke, mungkin hanya dugaanku karena sebelah tubuhnya tidak berfungsi secara normal.


Kecelakaan itu juga mempertemukan ku kembali dengan wanita yang sangat aku benci dan hindari. Tapi sialnya aku terpaksa menumpang di tempatnya. Tempat persembunyiannya tepatnya karena dia kabur dari tahanan yang sebenarnya hanya tinggal sedikit lagi dia menebus kesalahannya.


Tapi tanpa ku sangka dia tengah berbadan dua.


Ah aku jadi teringat dengan landak albino ku. Aku sangat merindukannya. Apa dia juga merindukanku. Aku bahkan sering menangisi keadaan. Baru saja kami merajut kebahagiaan, berharap rumah baru kami dihuni oleh beberapa bocah kecil yang berlarian kesana kemari membuat kami kewalahan mengejar mereka. Apa itu hanya akan menjadi anganku saja?


srakk


Netraku yang kembali mengembun menangkap sosok yang baru saja kurindukan. Tapi sepertinya ini hanya hayalanku saja. Betapa aku sangat merindukannya.


Sosok itu, hanya berdiri tertegun menatapku lekat, dengan parang di tangannya, mengenakan celana tactical meski terlihat tengah berbadan dua. Rambutnya yang dikepang ala tomb raider membuatku membayangkan wajah itu adalah milik kesayanganku.


Aku mengusap genangan air di mataku dengan kaus di lenganku karena aku tengah memeluk puluhan ranting.


Saat aku telah menyingkirkan embunan air di mata, barulah pandanganku menjadi jelas.


Mataku seketika membeliak kala memastikan pandanganku tak salah.


prakk


Kujatuhkan ranting ranting yang baru saja ku kumpulkan demi memastikan penampakan didepan mataku tak menipuku.


"Stella?" ucapku lirih.

__ADS_1


Tanpa ku sangka wanita itu berlari dengan sangat kencang kearahku, pun denganku yang juga lari menyambutnya karena rasa lega dan rindu yang teramat sangat.


Stella melompat dan langsung memeluk leherku sambil tergugu.


Ya Tuhan, ujianmu ini benar benar nikmat adanya.


"Sayang, apa benar ini kamu?" ucapku yang mulai terisak karena haru.


Stella mengangguk cepat tanpa melonggarkan pelukannya. Aku pun melakukan hal yang sama, menyalurkan rasa rindu dan cinta yang teramat sangat padanya. Kami saling memeluk dan tergugu bersamaan hingga beberapa waktu. Sampai isakannya berangsur berhenti, barulah dia melonggarkan pelukannya.


"Sudah kuduga mas pasti akan bertahan, demi kami" ucapnya sambil mengusap pipiku yang sudah lebat ditumbuhi bulu. Dan sebelah tanganku dia bimbing untuk menyentuh perut buncitnya.


"Dia.. kamu.. ah sayang.. terima kasih.. terima kasih..." aku kembali memeluknya dengan tangis haru karena bahagia ternyata anganku nyata.


Aku mengecupi seluruh wajahnya yang terlihat tembem membuatnya semakin menggemaskan.


Namun dia langsung ******* bibirku menyalurkan rasa rindunya padaku tanpa ada rasa jijik karena tubuhku yang kotor dan bau. Tentu saja aku menyambutnya karena aku juga sangat merindukannya. Tapi aku segera menahannya karena aku bisa langsung kehilangan kewarasan.


Rumah?


"Kamu.. gimana bisa ada disini, sayang?" tanyaku terheran dengan kemunculannya yang tiba tiba.


"Tentu saja dengan pesawat, bro" tiba tiba suara baritone terdengar dari arah belakangnya. Dahiku berkerut, sedikit mengenali suara itu, namun kenapa dia memakai masker?


"Ini gue, Deri. Gue seneng lo selamat, bro" mataku membulat kala menyadarinya dan dia langsung menyodorkan tangannya untuk menjabat tanganku, namun tak bisa memelukku karena Stella tak memberikannya peluang. Istriku ini posesif juga ternyata. Ah aku ingin segera mengungkungnya dibawahku karena dia sangat menempel padaku saat ini, seolah takut aku menghilang.


"Sayang.." senyum bahagiaku tiba tiba surut kala mendengar panggilan dari wanita yang selalu membuat hariku runyam.


"Sudah kubilang berhenti memanggilku seperti itu" sentakku. Aku tak peduli dia sakit hati, karena memang sifatnya yang dableg.


"Lusi?" lirih Stella. Aku lupa kalau aku tengah memeluk kesayanganku, apa Stella akan marah dan salah paham padaku?


Terlihat netranya menatapku penuh tuntutan.

__ADS_1


"Aku hanya menumpang saja sayang. Sambil mencari jalan keluar dari tempat ini. Kamu gak akan mikir macem macem kan?" tanyaku sedikit panik.


Stella lantas kembali menoleh pada Lusi yang kian mendekat dengan seorang bayi di gendongannya.


Stella kembali menatapku tajam. Sontak aku langsung mengibaskan kedua tanganku.


"Bu.. bukan milikku.. mana mungkin hanya beberapa bulan saja sudah mateng. Sedangkan milikku aja masih didalem sini" tukasku cepat sembari mengelus lembut perutnya.


Namun terdengar bisikan laknat di telingaku "Mampus" Deri memprovokasiku membuatku memelototkan mata padanya. Dia hanya terkikik.


"Stella? ngapain kamu disini?" tanya Lusi saat sudah dekat. Tampak gurat kecewa dan tak suka dengan kehadiran istriku ini. Aku langsung merangkul pinggang istriku yang lebih berisi dari terakhir kami bersama.


Stella dengan tenang dan menampilkan senyum manisnya menjawab "Tentu saja untuk menjemput suamiku"


"Cih, suamimu? apa kamu gak liat kalo kami udah punya anak?" sentak Lusi membuatku memelototkan mataku.


"Apa apaan kamu, Lusi. Jangan ngarang kamu ya" emosiku tertahan kala Stella meraih lenganku untuk meredakan amarahnya.


"Selamat atas kelahiran anakmu, Lusi. Aku harap kamu gak bingung siapa ayahnya. Oh ya, by the way, makasih udah jagain suami aku selama ini. Aku akan membawanya pulang"


"Apa? enak sa-"


"Suka gak suka aku tetap membawanya pulang, kalau kamu mau ikut kembali ke kandangmu boleh saja. Dengan senang hati aku mengantarmu" Stella lantas meraih tanganku dan menariknya pergi kearah dia datang.


"Sayang, tunggu" halau ku mencegahnya menuntunku lebih jauh. Dahinya berkerut, dan aku 6au apa yang dia pikirkan.


"Pak Andi. Kita gak mungkin ninggalin pak Andi disini kan?"


"Ah, iya. Ya barangkali aja Lusi kesepian kan jadi beneran tuh sepasang suami istri yang mana sang istri mengurusi suaminya yang terbaring sakit. Kali aja dapet rejeki nomplok dari acara tipi uang uangan kaget. Gimana?"


"Enak aja. Bawa sana laki laki penyakitan itu pergi. Males banget mesti ngurus laki laki gak guna"


Stella tampak mengedikkan bahu dan langsung menghampiri gubuk tempatku bernaung beberapa bulan ini dari angin dingin dan hujan.

__ADS_1


__ADS_2