
"Selamat sore, kakek. Kenapa nunggu di luar, apa kakek menunggu tamu?" sapa Stella saat baru menjejakan kaki di teras kediaman Wiliam dan mendapati sang kakek mertua tengah berjalan mondar mandir dengan bantuan tongkat nya.
"Kakek menunggu kalian bocah-bocah tengik. Katanya mau pulang pagi, baru nyampe jam segini. Apa ditengah jalan ada gajah merajuk hah hingga kalian baru sampai jam segini" gerutu Wiliam yang sebenarnya merasa lega karena mereka kembali ke rumah besar itu.
Ada kekhawatiran dia akan ditinggalkan cucu dan cucu menantunya setelah kembali dari bulan madu.
Stella memutuskan bulan madu di hotel dari pada pergi ke luar negri. Dia tidak suka naik pesawat.
"Ya ampun, kakek. Maafkan kami ya kek. Apa kakek sudah makan?" Stella memapah Wiliam ke dalam karena hari mulai senja.
"Menurutmu?" Wiliam bertanya balik mempertahankan nada kesalnya.
Stella melirik sang ajudan, bertanya pada laki laki yang setia bekerja pada Wiliam itu.
"Tuan besar belum makan dari pagi, nyonya muda. Katanya menunggu kalian" ajudan menyampaikan apa yang Wiliam perintahkan untuk mengambil simpati sang cucu menantu.
Stella tidak tahu saja kalau Wiliam menghabiskan 2 porsi besar sarapan dan 1 porsi besar makan siang juga 5 cangkir teh beserta 2 piring camilan berupa kue kering teman minum teh nya.
"Ya ampun, kakek. Maafkan Stella yang abai ya kek. Sekarang kakek mau Stella bikinin apa?" bujuk Stella yang merasa bersalah sambil melirik tajam pada suami rese nya.
__ADS_1
Jika saja David tak terus terusan menghajarnya, mereka mungkin sudah sampai sebelum jam makan siang.
"Ekhem, namanya juga pengantin baru. Dududdududuu" tukas David cuek lalu nyelonong masuk ke rumah dan naik ke lantai 2 untuk menyimpan koper mereka sambil bersenandung.
Dalam sekejap Stella menyelesaikan masakan sederhananya untuk makan malam mereka.
"Karena kakek belum makan dari pagi, Stella jadi kakek harus makan porsi ekstra ya. Ini sup krim nya untuk pembuka biar perut kakek gak kaget saat diisi" Stella dengan telaten mengambilkan sup krim dalam mangkuk untuk hidangan pembuka, lalu dia menaruh nasi serta lauknya dalam sebuah piring dengan porsi yang benar benar jumbo.
"Mampus" batin sang ajudan seraya melipat mulutnya agar tak menyemburkan tawa.
"Stella sayang, cukup. Biar kakek gak makan dari pagi, tai gak akan bisa nelen makanan segini banyaknya. Apa kamu ingin kakek cepat mati karena kekenyangan?" tukas Wiliam yang panik dengan porsi yang Stella ambilkan.
"Kakek mana kuat ngunyah segitu banyak. Ambilkan sesuai porsi kakek saja"
"Terus ini gimana, kek. Udah kecampur gini. Stella juga gak muat makanan segini. Mas David juga katanya lagi gak mau nasi"
"Mas David?" tanya Wiliam menahan tawa. Sedangkan ajudannya sudah meloloskan tawanya meski masih ditutup tangan.
"Kamu kasih dia aja" lanjut Wiliam menunjuk sang ajudan dengan dagunya yang tiba tiba menghentikan tawanya seketika.
__ADS_1
"Sa saya t tuan?"
"Ah, kakek benar. Ini pak, habiskan ya. Gak boleh dibuang. Mubazir" tukas Stella menyodorkan sepiring penuh nasi dan kawan kawannya.
"Ya ampun, nyonya muda. Anda perhatian sekali. Tapi.. " ucapannya dijeda.
"Habis ini saya ijin pinjam sepeda ya tuan besar" lanjut ajudan.
"Terserah kamu saja. Yang penting jangan bikin cucu menantu saya kecewa. Lihat betapa perhatiannya dia sama kamu" Wiliam menjawab
"Stella perhatian sama siapa?" tiba tiba David memasuki ruang makan dengan sudah membersihkan diri dan berganti pakaian rumahan yang lebih santai.
"Mana susu ku, sayang" pinta David mendekati istrinya seraya mengecup pipinya.
uhuk
uhuk
Sang ajudan tersedak tulang ayam.
__ADS_1