The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Menghormati Orangtua


__ADS_3

"Bibi, bagaimana ini.. kenapa jadi kek gini.." rengek Stella yang tak menyangka jika rencananya berubah total.


Mereka tengah berada di pantry setelah Stella kelelahan karena harus berkali kali membuat kopi yang rasanya selalu tak sesuai dengan selera David. Padahal dia melakukannya sesuai anjuran dan takaran yang diinginkan. Hingga Stella merajuk dan menyuruhnya untuk membuatnya sendiri.


"Baru kali ini saya disanggah karyawan" tukas David yang kemudian benar benar membuatnya sendiri karena telah merasa cukup puas mengerjainya.


"Hhhh... setidaknya aku berhasil menemukan yang sesuai kriterianya" Meyra menghela lega.


"Tapi pekerjaannya tidak sesuai dengan kriteria ijazahku. Percuma sekolah tinggi tinggi kalo cuma jadi sekertaris" keluhnya lagi.


"Hei.. hei.. hei.. lihat siapa ini, siapa yang mengajarkanmu untuk tak bersyukur hah. Dasar anak nakal" Meyra menjewer telinga Stella membuat Stella mengaduh kesakitan.


"A a a ampun bi.. huhuuu... baru juga dateng udah di dzolimi.." Stella mengaduh sambil mengusap telinganya.


"Iya maaf, bi. Cuma gak nyangka aja harus ketemu bos rese kek gitu"


Meyra menganga tak percaya. Kemana larinya Stella sang ponakan yang penyabar dan anti mengeluh.


ctakk


"Aduh, bi... sakiiit..." Stella kembali mengaduh sambil mengusap keningnya.


"Biar jin ipritnya minggat. Lagian, kenapa kesempatan ini gak kamu pake buat jadiin pengalaman dan lahan belajar tentang perusahaan secara langsung. Yang kamu pelajari di kampus kan cuma teorinya aja"


"Kan Stella waktu itu ada semacam magang, bi. Jadi udah tau gambaran kerjaannya apa"


"Magang dibagian apa? paling di marketing, ya kan. Dan sekarang posisi kamu lebih tinggi dari manajer, karena kamu adalah tangan kanan presdir" bujuk Meyra membuat Stella berfikir keras"


"Bi"


"Apa"


"Sejak kapan bibi pinter?"


ctak

__ADS_1


"Udah berani ngatain orang tua kamu ya"


......................


"Meeey..." seru Wiliam yang berjalan tergopoh gopoh sambil menampilkan senyum sumringah. Tak pernah dalam sejarah perusahaan, Wiliam menampilkan senyumnya di kantor.


"Tuan, hati hati. Mengapa anda terburu buru seperti ini?" Meyra segera mendekat dan memapahnya. Dia khawatir kaki tua itu lupa melangkahkan yang mana terlebih dahulu.


"Gadis itu.. mana gadis itu.." tanyanya yang tak sabar untuk segera bertemu dengan Stella.


"Dia sedang menerima arahan, tuan"


"Apa dia mengingatnya?"


"Tampaknya keduanya saling tak mengingat satu sama lain"


"Bagus lah. Ah kapan kita sampai.. kenapa lama sekali" keluh Wiliam pada kedua kakinya yang sudah ditambah menjadi tiga.


Meyra memutar bola matanya. Tak menyangka mantan bos nya ini bisa bertingkah konyol.


"Apa anda butuh kursi roda, tuan?" tanya sang ajudan yang sedari tadi mendorong kursi roda kosong.


Wiliam duduk di kursi roda saat hampir sampai ke depan ruangannya dulu yang kini menjadi ruangan sang cucu.


sreet


Wiliam menggeser pintu ruangan dengan hati hati, tak mau mengganggu aktifitas di dalam yang tampaknya..


Stella sedang membacakan isi kontrak kerjasama perusahaan dengan lantang. Sedangkan David tengah menikmati wajah Stella yang kini terlihat semakin mempesona dengan sapuan make up natural namun mempertegas karakter seorang wanita kuat.


Wiliam tersenyum melihat pemandangan ini. Dia baru melihat lagi senyum itu terbit di wajahnya.


"Tuan, kenapa anda tak membacanya sendiri saja? anda bisa meralatnya sesuai keinginan anda" rengek Stella.


Apa? seorang sekertaris merengek?

__ADS_1


Wiliam merasa lucu melihat perilaku gadis yang sangat membuatnya penasaran.


"Apa kau sedang memerintahku?" ancam David.


"Dasar tiran" umpat mulutnya yang tak ia keluarkan suaranya.


"Kau mengumpatiku?"


Stella melipat mulutnya.


"Hehe.. tidak tuan, mana berani"


(sialan)


"Lagi?"


Stella melanjutkan membacakannya.


"Dasar anak bodoh. Apa yang kau lakukan pada sekertaris barumu. Apa kau ingin membuatnya tidak nyaman?"


Wiliam memotong kegiatan mereka karena tak sabar ingin menyapanya.


"Kakek, tidak bisakah kau mengetuk dulu?" protes David saat Wiliam mengganggu kesenangannya.


"Anak kurang ajar, ini dulunya kantorku"


"Tapi sekarang bukan lagi"


"Kamu-"


"Kakek.. kita pernah ketemu bukan?" tanya Stella saat mengingat pernah melihat wajah tua ini disuatu tempat. Sekali"


"Ingatanmu benar benar tajam. Waaah.. lihat dirimu sekarang. Kamu jauh lebih cantik"


"Apa kabar, kakek sehat?" sapa Stella kemudian dengan sopan meraih dan mengecup punggung tangan nya dengan takzim.

__ADS_1


"Kakek baik, nak. Berkat do'a mu. Lihat, gadis ini tau bagaimana menghormati orangtua"


"Ck.. dia juga menyebutku orangtua, tapi tak seperti itu padaku" cebiknya kesal.


__ADS_2