
"Kalau begitu, kalian harus menderita" ucap Weli yang kemudian menyiramkan air dari gelas yang ia pegang sedari tadi pada pasangan pengantin itu secara tiba tiba.
crashh..
"Aaarrrgghh..." suara mengaduh seseorang yang menghalangi semburan air dengan jas yang dibuka dari tubuhnya membuat orang orang disekitar melirik dan sebagian yang melihat jelas efek semburan itu membulatkan mulut dan matanya.
"Sekuriti! Tangkap wanita ini dan laporkan pada polisi" teriak David meraung kala melihat Deri yang tengah kesakitan menahan rasa panas terbakar pada sebagian wajahnya.
"Sialan, kalian.. lepaskan aku.. dasar bodoh.. kenapa kamu menghalangiku.." raung Weli sambil meronta karena dicengkeram sekuriti sembari di seret paksa.
"Tunggu" sergah Stella yang lantas mendekat sambil mengangkat gaunnya yang menjuntai.
buggh..
Stella memukul wajah Weli hingga hidungnya bergeser dan darah mengucur.
"Itu untuk temanku. Bawa dia pak" titahnya yang lantas kembali dan bergabung dengan David yang tengah menenangkan Deri dari raungan rasa sakit yang membakar wajahnya sambil menunggu ambulan datang.
"Deri.. kenapa kamu lakukan itu?" ucap Stella sedikit terisak karena tak kuasa melihat penderitaannya menghalau kejahatan Weli.
David menggenggam tangan Stella dengan sebelah tangan, dan sebelahnya lagi memeluk erat pundak wanita yang kini menjadi istrinya itu.
Deri terus meraung dan berteriak dalam posisi berbaring di lantai.
Suara sirine ambulan terdengar mendekat. Deri pun diberi obat penenang lalu dibawa dengan brankar kedalam ambulan.
__ADS_1
Stella ingin ikut, namun David mencegahnya.
"Kita ganti pakaian dulu, baru kita susul kesana" ucapnya bijak yang diangguki Stella.
Bagaimanapun Deri sudah mengorbankan diri nya menghalau semburan air keras yang mengakibatkan wajahnya terbakar. Jika tidak ada dia, mungkin mereka berdua yang berada di IGD saat ini.
Mereka diantar supir menuju rumah sakit setelah berganti pakaian.
Stella dan David saling berpelukan didalam mobil. Ada rasa takut dalam diri keduanya.
"Jangan khawatir. Aku sudah memastikan Weli membusuk di penjara" ucap David memecah keheningan dan menenangkan Stella meski sedikit.
Tangan Stella terus bergetar. Dia membayangkan jika dia yang mengalami musibah itu.
"Kenapa orang orang sangat membenciku. Apa yang telah aku lakukan pada mereka sehingga mereka teramat membenciku" ucap Stella tergugu di pelukan David meniup niup leher kekar David.
glek
Seharusnya gak kek gini. Lagi sedih napa si otong malah gak tau diri.
Batin David yang menahan rasa geli di lehernya yang berimbas pada daging jadi yang menggantung dibawah.
"Sshh... bukan salah kamu, sayang.. kamu gak salah apapun. Dengerin aku" David lantas melepas pelukan Stella dan mengapit wajahnya yang basah karena banjir air mata.
Stella menghentikan tangisnya, namun masih terisak untuk mendengarkan David dengan seksama.
__ADS_1
"Kamu hanya punya diri kamu sendiri. Kamu punya keyakinan diri, semangat untuk merubah keadaan. Dan kamu berhasil.
Mereka hanya iri dengan pencapaianmu. Masalahnya ada dalam diri mereka, bukan padamu. Kamu hanya pelampiasan kekecewaan mereka terhadap diri mereka sendiri" David kembali memeluknya erat dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang.
"Tuan, sudah sampai" ucap sang sopir yang telah menghentikan mobil sedari tadi.
"Kita masuk?" tanya David yang ikut menyeka lelehan air mata di pipi mulus Stella.
Stella menetralkan isaknya dan sedikit merapikan rambut juga pakaiannya, kemudian mengangguk tanda siap.
Karena pintu IGD berada tepat disebelah Stella, maka Stella membuka pintunya sendiri tanpa menunggu David keluar dan memutari mobil untuk membukakannya pintu.
Tiba tiba mobil ambulan berhenti tepat disamping mobilnya dan menghalangi akses keluar David.
Stella yang menyadari hal itu bergegas keluar dan meraih tangan David untuk ikut bergegas.
"Sayang.." seru David terdengar menghiba.
"Hah?" Stella menoleh kebelakang tubuhnya karena mereka belum benar benar keluar dari mobil.
"Kamu.." David menggeram menahan sesuatu karena ulah Stella.
"Ah maaf.." ucap Stella yang sontak melepas cengkramannya pada junior David lalu menutup mulutnya. Namun segera ia tersadar jika tangan itu bekas menggenggam pusaka David.
"Apa sakit? maaf ya.. maaf.." ucap Stella gugup mengusap usap pusaka David yang kian membengkak.
__ADS_1