
"Stella, apa kau mendengarku?" tanya David saat tak kunjung mendengar jawaban dari Stella.
"........"
"Ya ampun, kamu membuatku gila. Jawab aku, sayaaang..." pinta David putus asa sambil mengarahkan sang supir untuk berbelok lalu berhenti didepan sebuah cottage.
"Panggil bantuan, pak" titah David pada sang sopir. Sedangkan David melangkah menuju titik tempat ponsel Stella berada.
"Berdehemlah kalau kamu mendengarku" pintanya menghiba.
"ekhem.." terdengar suara deheman pelan dari sebrang telfon.
"Gadis pintar. Aku sudah dekat. Bertahanlah"
"Hahaha... mau lari kemana kamu, gadis kecil" terdengar suara seorang laki laki yang tampaknya berhasil menemukan Stella.
David menghentikan langkahnya dan mendengarkan dengan seksama percakapan mereka.
"Sayang, tolong bertahanlah. Aku segera datang" lirih David yang bisa didengar Stella.
David terus menyusuri cottage dan menyesuaikannya dengan lokasi pasti Stella berada.
Langkahnya kembali terhenti kala ia mendengar suara yang ia hafal.
"Apa? Deri?" gumam David saat mendengar percakapan Deri dan Lusi.
"Halo, kakek. Tolong dengarkan dengan seksama tapi jangan bersuara. David sedang merekamnya" David melakukan panggilan grup pada Wiliam.
"Tahan, sayang. Sebentar lagi kita mendapatkan bukti kuat untuk menyingkirkan hama" ucapnya kala mendengar jika Stella dibawa ke kamar. David menahan amarah, lalu berharap Stella bisa menjaga dirinya sendiri sampai David mendapatkan bukti yang kuat.
"Jadi anak itu..." terdengar Stella menggantung ucapannya.
"Heh, sudah kuduga bukan benihku. Orang masih tong tong gini dibilang ngehamilin" monolog David yang bisa didengar Wiliam dan Stella tentu saja.
__ADS_1
"Aku melihat penjaganya. Bertahan sebentar lagi sementara aku lumpuhkan penjaganya" titah David pada Stella. Wiliam hanya diam menyimak.
Stella dan Wiliam mendengar kegaduhan yang disebabkan David saat melumpuhkan 3 orang suruhan Lusi yang berjaga diluar cottage dan berpura pura tengah menikmati suasana cottage.
Namun kegaduhan itu tak disadari Lusi maupun Deri karena tengah sibuk beradu argumen.
"Aku didepan pintu kamar" David memberi informasi sambil terengah.
"Mundurlah, kalau kamu dekat dengan pintu"
"Hmm.." Stella sedikit menggumam memberi tanda jika jaraknya telah aman dari pintu.
Brakk
David berhasil mendobrak pintu dalam sekali tendangan.
"S..sa..sayang.." Lusi gugup karena terkejut dengan kemunculan David yang tiba tiba. Sungguh diluar dugaannya. Bagaimana bisa David menemukan lokasi pasti mereka karena dia mengira telah berhasil mengecohnya.
Yang tidak Lusi ketahui adalah Stella sudah berjaga jaga dengan menyambungkan panggilan secara live melalui ponsel lain. Bahkan Stella memakai anting anting mungil berwarna hitam yang sebenarnya adalah perangkat bluetooth.
"K.. kamu.. a.. apa yang kau lakukan disini?"
"Kamu sendiri sedang apa disini dengan laki laki dan pegawaiku?"
"Sa.. David.. dia kan temanmu. Lagian aku membantumu memergoki hubungan mereka dibelakangmu. Sudah kubilang cewek kampung ini mura-"
"Diam kamu" sentak David membungkam Lusi. Tanpa ia sadari keringat sebesar biji jagung bermunculan di pelipis.
"Ke.. kenapa kamu membentakku.. aku.. aku membantumu membuka kedok wanita busuk ini. Dia berpura pura menghadiri meeting yang jadwalnya dibuat bentrok agar bisa bertemu dengan sahabatmu ini, David" Lusi terus meyakinkan David menjelekan Stella dengan skenarionya.
"Ah ya? dari mana kamu tau kalo jadwal meetingnya bentrok? dan juga, apa yang kamu lakukan di restoran itu, restoran tempat calon investor janjian denganku siang tadi"
"I.. itu.. dia.. kami memang saling mengenal dan.."
__ADS_1
"Aah.. saling mengenal, heh? mengenal di kamar hotel?"
"A.. apa? K..kenapa kamu jadi nuduh aku?"
"Sudahlah, kamu udah ketangkap basah, Lusi" David lantas memutar ulang rekaman dalam ponselnya. Rekaman yang memperdengarkan suara Lusi dan Deri dalam adu argumen yang diawali pengakuan Lusi tentang kehamilan rekayasanya.
Lusi dan Deri terkejut. Namun ekspresi Deri berubah pasrah. Dia tahu kalau kebohongan maupun kejahatan tidak akan bisa disimpan selamanya.
Tapi tidak dengan Lusi. Dia menggelengkan kepala dengan cepat dan menyanggah apa yang dia akui dalam rekaman suara itu.
"Enggak, itu.. itu cuma gertakanku saja. Itu bohong-"
"Itu, benar" pungkas Deri menyanggah pernyataan Lusi.
"Janin yang pernah dia kandung itu adalah benihku. Kamu tak pernah menyentuhnya sama sekali karena malam itu aku menaruh sesuatu dalam minumanmu agar kamu tak sadarkan diri. Dan semenjak itu, kami sering berhubungan badan karena Lusi mengaku tidak pernah mendapatkan haknya dari kamu. Meski saat itu aku gak peduli alasan dia apa, yang kupedulikan adalah hasratku terpenuhi. Tapi saat itu karena kami lumayan lama tak berhubungan, membuatku terlalu bersemangat meluapkan hasrat dan membunuh calon anakku sendiri. Aku.. aku sedikitnya menyesal karena telah membunuh darah dagingku sendiri. Tapi aku tak melihat penyesalan pada diri Lusi.
Sori, bro. Sori gue ngecewain elo dan nikam elo dari belakang selama ini" Deri menjelaskan panjang lebar dengan penuh penyesalan.
"Gue maafin elo. Semua pernyataan elo udah ngebebasin gue dari jeratan nenek sihir ini" ujar David sambil menunjukan ponsel lain yang masih terus merekam.
"Apa kalian dengar? dengan ini, saya David Wiliam menjatuhkan talak tiga pada Lusi Frost" lanjutnya tegas.
"Enggak.. gak mungkin.. aku gak mau cerai dari kamu, sayang.. kamu gak bisa mentalak aku seperti ini" sergah Lusi sambil berteriak histeris.
"Sekarang sudah tidak ada alasan lagi buatku untuk mempertahankan pernikahan ini, om" lanjut David berbicara pada sambungan telfon grup yang menghubungkan dengannya dan Wiliam, juga orang tua Lusi yang selalu menghindari dan menolak perceraian anaknya dengan David sang pewaris tunggal Wiliam Group dengan alasan David mencari alasan untuk lari dari tanggung jawab.
"DAVID.. DAVID DENGARKAN AKUU.. AKU TIDAK MAU BERCERAI.. AKU TIDAK MAU BERCERAAAII..." Lusi terus berteriak sambil meronta karena tubuhnya ditahan sekuriti yang sedari tadi berada dibelakang David.
Sedangkan David menarik tangan Stella dan mengajaknya keluar dari ruangan itu, dan Deri pun menurut kala petugas memintanya untuk ikut agar bisa memberikan kesaksian.
"Kamu gak apa apa kan say-"
"Berhenti manggil aku kek gitu. Geli tau ga" sergah Stella yang kemudian berjalan di depannya.
__ADS_1
David mengulum senyum dan mensejajarkan langkahnya dengan Stella.
"Jangan cepet cepet ngelangkahnya. Nanti kakinya lecet lagi, trus aku gendong lagi" goda David pada Stella.