
"Kak David? hik... sakiiiiit...haaaaa... gimana inii...huhu..." Stella terkejut kala mendapati David tiba tiba masuk ke kamar mandi dan harus menyaksikan kondisinya yang membagongkan.
Bagaimana tidak. Stella tengah me-waxing kaki nya, namun dia tidak kuasa untuk mencabut strip kain yang sudah ditempel.
Seharusnya dia mencabutnya secara cepat dari arah berlawanan, namun dia melakukannya secara perlahan.
Yampon kirain kenapa, neng🤦🏻♀️
"Kamu itu ada ada aja. Sini aku bantu" ujar David sambil geleng geleng,namun dia mendekat untuk membantunya. Sedikitnya dia tahu harus bagaimana dalam mencabut strip kain saat waxing.
"Ampun.. ampuuun... kakak pelan pelaaaan..huhuuuu...."
"Kalo pelan pelan malah kerasa sakit, Stell"
"Tunggu.. tungguuu... fuh fuh fuh...." Stella sibuk mengatur nafas sambil berderai air mata. Sungguh David ingin menyemburkan tawa saat ini juga.
"Gak usah ketawa, kaaaak.. huhuuu... jadi cewek mo cantik aja sakiit..huhuu..."
"Iya enggak.. enggak. Enggak ketawa. Siap yaa... satu.. duaa.."
"Stoop... jangan diituuung... aku jadi deg degan ini kaaak..."
"Ya udah. Kamu merem yaa.. atur nafas... aku jamin gak akan kerasa sakit sama sekali. Kamu inget gak, anak yang tadi minta balon yang banyak?"
"Hah, balon?"
"Iya, anak cewek yang matanya bulet rambutnya kriting itu"
"Yang man- ooooh iya- AAAAAAAAA..... "
David berhasil mengecoh Stella sehingga dia bisa mencabutnya dengan cepat.
"Sialan, mereka benar benar melakukannya. Dasar pelakor. Bisa bisanya mereka berhubungan di rumah ini. Sedangkan gue istri sahnya aja gak pernah disentuh. Mau ngajak si Deri kesini juga gak boleh" geram Lusi saat menguping dari balik pintu kamar Stella.
__ADS_1
Dia berniat menyelinap masuk ke kamar David, berharap pintunya tak dikunci.
Memang tak dikunci, namun penghuninyapun tak ada. Dia malah mendengar suara mencurigakan dari kamar sebelah.
"Awas aja, Stella. Gue bakalan pastiin lo nyesel macem macem sama gue" janjinya menggumam.
Lusi lantas kembali naik ke kamarnya dan memantapkan rencananya.
"Sebelah lagi gimana ini, kak? hik" tanya Stella sesenggukan membuat David gemas ingin menerkamnya.
"Kamu siap, sayang?" ucap David lembut menggoda.
"Dibilangin jangan pake sa-AAAAAAAA.... hahaaaaaa...." David kembali mengecohnya. Kini kedua kaki Stella telah mulus tanpa bulu.
glekk
David baru tersadar jika kaki Stella begitu putih dan mulus, terlebih dia baru mewaxingnya sebagai perawatan.
Tanpa sadar David mengusap kakinya dari bawah hingga ke lututnya.
"Hah" David terkesiap.
"Udahan. Makasih, sekarang kakak boleh balik ke kamar kakak" ucap Stella.
"Eeeh.. tapi keknya belom rata deh, ada yang masih-"
"Udahan ah, gakuat aku. Biarin lah selembar dua lembar. Anggap aja penglaris" sergah Stella yang langsung mendorong tubuh David keluar kamar mandi.
"Tap.. tapi.. aku temenin disini aja ya, sampe kamu bobok" David menahan pintu kamar mandi yang hendak ditutup Stella.
Sungguh, Stella telah membangunkan sesuatu dalam dirinya.
Maksudnya dalam celananya.
__ADS_1
uhuk
"Ish.. kakak ni. Gak boleh berduaan dalam satu ruangan. Nanti kalo ada yang ketiga gimana?" argumen Stella.
"Ya gak mungkin lah. Kan kamu yang ke tiganya" jawab enteng David yang langsung merebahkan diri di sofa sambil menyalakan tv.
"Sabodo ah" Stella langsung menutup pintu kamar mandi dan menyelesaikan membersihkan kakinya dari sisa sisa lilin.
Saat Stella selesai dan keluar kamar mandi, David masih setia menonton tv. Tepatnya tv yang menonton David.
"Ck, dasar gabisa dibilangin"
Stella lantas mengambil bantal dan selimutnya keluar kamar menuju kamar David, lalu mengambil selimut David dan kembali ke kamarnya untuk menyelimuti David. Dia berniat tidur di kamar David.
Stella mematikan lampu lalu berbaring miring dan menyelimuti diri. Malam ini cukup dingin setelah dia berlama lama di kamar mandi. Seulas senyum terbit kala mengingat kejadian yang cukup memalukan tadi. Hingga matanya cukup berat untuk diajak bernostalgia. Stella akhirnya terlelap.
Sebuah tangan menyelusup kedalam selimut, lalu memeluk pinggang rampingnya.
Saat tengah malam Stella merasakan berat pada pinggangnya. Saat Stella mencoba menyentuhnya, apa yang ia pegang memaksanya kembali pada kesadaran.
Dia langsung membulatkan matanya.
"Tangan? tangan siapa ini?..."
Jantung Stella berdegup kencang. Apa mungkin di rumah ini ada hantunya.
"Setan cabul?" lirihnya bergetar.
Stella mencoba mengangkat tangan itu perlahan, tapi tiba tiba tangan itu bergerak cepat dan menahan tubuhnya dibagian dada.
Namun seketika tangan itu melepaskan diri.
trek
__ADS_1
Lampu meja menyala disebelah Stella yang kemudian penghuni ranjang itu duduk bersamaan dengan cepat dan saling melirik.
"WAAAAAAAA......"