The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Ancaman Lusi


__ADS_3

David berdiri di depan WC guru, untuk perempuan tepatnya. Dia berdiri dengan salah tingkah karena beberapa kali berpapasan dan disapa oleh guru guru yang hendak menggunakan fasilitas sekolah itu.


"David, kamu ngapain disini? kenapa gak masuk kelas?" tanya pak Fredi guru killer yang famous seantero sekolah.


"Eh nunggu temen, pak" jawabnya sambil menampilkan senyum dipaksakan.


"Kenapa gak di wc siswa?"


"Itu,.. mampet pak"


"Kakak kenapa masih disini?" tanya Stella saat sudah selesai dengan urusannya.


"Kamu.. kalian.."


"Kita masuk kelas dulu pak" David segera meraih tangan Stella dan menariknya berlari menjauh dari semburan pertanyaan sang legenda.


Mereka berlari menyusuri koridor dengan senyum mengembang.


"Hah.. hah.. hah..." keduanya terengah mengatur nafas masing masing saat sudah dekat kelas Stella. Sedangkan kelas David masih diujung koridor.


"Untung selamet" ucap David sambil tertawa ringan dan nafas yang masih terengah.


"Percuma kak. Orang sekarang pelajaran pak Fredi" jawab Stella sambil menertawakan kekonyolan mereka.


"Kamu gak marah?" tanya David.


Stella menggeleng.


"Kalo aku emang manfaatin kamu gimana?"


"Aku seneng. Bukannya hidup kita harus bermanfaat bagi orang lain?" jawab Stella sambil tersenyum lalu masuk ke kelas karena pak Fredi sudah dekat.


David termenung dengan jawabannya. Ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya merasa nyaman.


"Udaaah... gak boleh pacarin anak kecil, nanti kena sorot KPAI" sindir pak Fredi yang menebak isi hati David.


David segera kembali ke kelas dengan senyum yang terus mengembang.


"Hey bro, kemana aja lu. Keasikan lu yah" sapa Deri teman sekelas David.


"Biasa" jawab singkat David sambil menyambut tos hi five dari Deri.


"Perasaan bakalan ada yang kalah taruhan nih" sindir Deri.


David diam.

__ADS_1


"Udaaah.. ngaku aja lo kalah. Lo suka beneran kan sama si cupu itu? mana hadiah taruhan gue?"


"Ck, belom juga ujian. Belum tentu gue kalah" cebik David sambil mengeluarkan buku matematika yang tadi dia pelajari di perpustakaan bersama Stella.


"Jiah.. sok yakin banget lo bakal ditembak duluan. Inget janji lo, kalo sampe lo yang nembak duluan, mobil lo milik gue"


"Berisik lo anjrit"


Teman teman David menertawakannya. David tak bisa mengelak. Mereka membuat taruhan kalau Stella pasti seperti siswi lain yang gak mungkin menolak pesonanya.


Diantara siswi siswi di sekolah ini, cuma Stella yang tak pernah terlihat mengejarnya.


Flash back


"Vid, lo disabet tuh ma cewek cupu. Harusnya kan elo yang wakilin sekolah buat ikut lomba"


David bergeming.


"Gue yakin, cewek itu gada temen di sekolah ini. Beberapa kali gue liat dia dipepet mulu sama genk si Risa"


David masih bergeming


"Eh.. kalo elo coba alihin perhatian dia dari belajar, siapa tau kesempatan itu balik lagi ke elo. Nih ya, kalo gue liat liat ya, si cupu itu lumayan manis juga. Gue berani taruhan kalo elo deketin dia pasti ganggu konsentrasi dia belajar"


David meliriknya tanda tertarik.


"Deal" David menyetujui. Tantangan yang menarik pikirnya.


Yang tidak mereka ketahui adalah Lusi menguping dari balik tembok kelas David. Awalnya dia pikir tak masalah jika mereka hanya sekedar mempermainkan gadis polos itu. Yang jadi masalah adalah David sudah mulai terlihat jatuh hati padanya. Dan Stella bukan tipe yang mau mengungkapkan isi hatinya lebih dulu.


Hampir seluruh siswi di sekolah itu mencoba mengungkapkan isi hatinya dan mengajaknya berpacaran. Tapi selalu ditolak mentah mentah olehnya. Bahkan David tak pernah terlihat dekat dengan siswi manapun.


Hanya Stella yang dia dekati. Dan hanya Stella yang belum mengungkapkan perasaannya pada David. Dia yakin kalau Stella sama seperti yang lainnya.


Flash back off


David termenung, dia sendiri masih belum mengerti dengan hatinya. Dia pikir semua kebaikannya bisa membuat hati nya meleleh.


Tapi sepertinya butuh kerja keras untuk membuatnya mengungkapkan perasaan lebih dulu. Bukan masalah dia akan kehilangan mobilnya. Masih ada lusinan mobil mewah di rumah sang kakek.


Hanya saja selama ini dia tak pernah kalah. Dia harus menyelamatkan harga dirinya.


Stella bahkan tak terlihat terusik sedikitpun pelajarannya. Nilainya masih sempurna tak berkurang 1 poin pun.


Justru David yang sering melamun dan melihat Stella menari nari dalam buku matematikanya.

__ADS_1


"Sialan, gue kena batunya" gumam David menelungkupkan kepala saat belajar di rumah.


Waktu berlalu, angkatan David sudah wisuda. Namun diantara mereka belum ada yang menyatakan perasaan, membuat Deri menggelengkan kepala dan memperpanjang masa taruhan sampai ujian akhir angkatan Stella yang berarti 1 tahun lagi.


Mereka memang terlihat lebih dekat dari sebelumnya.


David yang berhasil masuk Universitas Indonesia dengan jalur prestasi nilai raport dengan bantuan Stella yang selalu mengajarinya metode cepat menyelesaikan soal matematika.


David menepati janjinya pada Stella untuk menjemput dan mengantarnya pulang dan pergi sekolah. Dan tak ada sedikitpun rasa terpaksa atau keberatan.


David merasa nyaman kala bersama Stella, dia bahkan selalu merindukan gadis itu.


Pun dengan Stella yang merasa nyaman dengan hubungan pertemanan keduanya.


Hingga suatu hari saat David menjemputnya, dia melihat Stella sedang berjalan dengan seorang siswa dan memberikan minuman padanya.


Dan Stella tampak senyum senyum dengan siswa itu.


Ada rasa panas di hati David. Dia tak suka melihat interaksi itu.


"Kak David" sapa Lusi dari arah belakangnya.


"Cocok ya Stella sama cowok itu. Sama sama culun" Lusi berkomentar tak terduga.


"Tapi tetep aja gak bisa dibandingin sama kakak yang jauh lebih ganteng dan lebih kaya dari siapapun. Cuma cewek bego yang mau ngelepasin cowok kek kak David" cerocos Lusi sambil menatap Stella dari sebelah David.


David bergeming, tak mau meladeni siapapun yang berusaha mengomporinya. David bukannya tak tahu tentang sifat Lusi yang munafik. Dia lebih memilih menganggapnya tak ada dan terus mendampingi Stella.


"Tapi gimana ya perasaan Stella kalo tau dia dijadiin bahan taruhan kak David sama temen temen kakak?"


degg


David meliriknya, menatapnya dengan tajam. Gadis ini, bukan hanya munafik, tapi mencoba menusuknya dari belakang.


"Jauhi dia kak, atau aku akan bikin dia benci sama kakak seumur hidupnya" ancam Lusi yang langsung melangkah masuk kedalam taxol yang dia pesan.


David mengetatkan rahang dan mengepalkan tangannya.


"Cewek sialan"


Stella melihat David dan melambaikan tangannya dengan ceria. Senyumnya yang selalu mengembang bisa mengalihkan dunia siapapun yang mencoba mengenalnya.


"Kakak kenapa? sariawan?" tanya Stella saat mendekat dan akan membuka pintu mobil David.


David memberikan tatapan sinis padanya.

__ADS_1


"Jangan senyum sama cowok lain selain aku"


__ADS_2