
Meyra mentoyor kepala Stella hingga terdorong kebelakang tubuhnya.
"Suka sompral.
Pelakor apaan. Mau di laknat bibi?"
Stella memajukan bibir bawahnya.
"Nih ya, kalo kamu mau kasih pelajaran sama cecunguk itu, bibi bantu deh, tapi jangan pernah ngerendahin diri kamu demi ngebales perbuatan dia. Tetep aja kamu yang bakalan rugi. Gimana?"
"Emang ngapain?"
Meyra lantas membisikan sesuatu membuat Stella terkikik.
"Ngerti gak?"
"Geli, bi- a ah iya iya Stella ngerti. Duuuuh pedes amat nyubitnya"
Di rumah besar keluarga Wiliam
"Kakek, kenapa kakek gak suruh David pulang ke sini? aku kan istrinya. Apa kakek akan membiarkan cucu kakek lari dari tanggung jawab? suka atau gak suka David harus pulang kesini" protesnya dengan suara lantang. Lusi sudah habis kesabaran untuk terus berpura pura baik.
"Yang lari dari tanggung jawab siapa, hah?
Kamu hamil, udah dinikahin secara sah, semua kebutuhan kamu juga sudah dipenuhi. Kalau masalah hati, kakek tidak bisa memaksa. Kamu berfikirlah bagaimana caranya mengambil hatinya" jawab tenang Wiliam sambil menyesap teh nya di pagi hari.
"Gimana mau ngambil hati kalo pulang aja enggak. Lagian masa orang orang kakek gak bisa nemuin tempat tinggalnya?"
"Bukan tidak bisa, kakek gak mau satu satunya cucu kakek tertekan lagi karena liat kamu"
"Jangan sembarangan ngomong ya pak tua-"
"Nona tolong kendalikan diri anda" ajudan Wiliam memperingatkan.
Lusi mundur 1 langkah karena sang ajudan siap mengeksekusinya saat itu juga.
"Aku minta satu hal, sekertaris yang bernama Stella harus dipecat. Apa kata orang kalau cucu satu satunya kakek selingkuh sama sekertaris rendahan yang miskin. Udah pasti dia ngincer harta kakek"
"Masalah karyawan kakek juga tidak bisa ikut campur. Jika dia bisa menempati posisi itu pastilah dia orang yang mumpuni secara pendidikan dan kinerjanya. Tidak mudah mencari orang yang bisa dipercaya. Kebanyakan hanya wajahnya yang manis tapi menyimpan belati untuk menikam kita sewaktu waktu" sindir Wiliam dengan tenang.
"Tapi dia miskin dan tidak cocok dengan David, kek"
Wiliam mengangkat satu alisnya sambil menatapnya heran.
"Kalau masalah miskin harta tak masalah. Harta bisa dicari yang penting tidak miskin hati.
__ADS_1
Jadi, apa kamu siap dimadu?" tanya Wiliam kemudian membuat Lusi membulatkan mata dan mulutnya menganga.
"Apa kakek sudah gila?"
"Perhatikan ucapan anda nona" sang ajudan kembali memperingatkan.
"Maksudku, apa kakek bercanda? siapa yang bilang mau di madu?" ucapnya meninggi.
"Bukankah kamu bilang kalau wanita itu miskin dan tidak cocok? itu berarti kamu menseleksinya sebagai adik madumu" ucap Wiliam sambil mengoleskan madu pada rotinya.
"Itu... aaaarrgghh... susah emang ngomong sama kakek tua.." gerutu Lusi sambil melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan menghentakan kaki.
"Anda hebat, tuan. Selanjutnya apa rencana tuan?"
"Tentu saja membawa mereka kesini"
Wiliam meyeringai sambil kembali menyeruput teh nya. Dia akan sangat berterimakasih pada Meyra yang telah memberitahukan rencananya semalam.
Stella melangkah mantap dengan penuh percaya diri memasuki area perkantoran. Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah dan hangat sekaligus mengerikan.
Video banting membanting Deri telah viral dikalangan karyawan, jadi tak ada siapapun yang berani mencari masalah dengannya jika tak mau berakhir melantai.
"Selamat pagi neng Stella, cantik bener pagi ini" sapa sekuriti yang memang akrab namun sopan padanya. Stella sering membeli lebih 1 porsi jika meminta tolong membelikan makan siang di restoran sebrang kantor untuk sang bos.
"Pagi pak Sarip. Bisa aja bapak nih. Tiap hari emang cantik kan Stella" Stella membalas sapaan dengan malu malu.
"Ah bapak, bisa aja kalo ada maunya" pipi ya memerah.
"Yee, si eneng tau aja kalo bapak mau minta bantuan"
"Kenapa pak?"
"Tolong.. duuh gimana ya ngomongnya.. emh.. anu.. aish.. bapak kebelet neng.. bisa gantiin sebentar gak? si Eko belom dateng neng.. duuhhh.. maap banget ini mah..." ucapnya seraya mengapit tangannya ditengah bokongnya.
"Yeee si bapak, cepet sana buruan, tar kebablasan disini kan repot jadinya" ucap Stella sambil menjapit hidungnya karena aroma tak sedap mulai tercium.
Stella menggelengkan kepala kala melihat pak Sarip berlari terbirit birit sambil terus menekan bokongnya.
"Kamu nunggu siapa disini?" tanya David yang baru turun dari mobil.
"Nunggu pak Sarip, tuan" jawab Stella sedikit membungkuk tanda memberi hormat karena mereka tengah berada di kantor.
"Emang-"
"Beliau sedang ada masalah pencernaan" lanjutnya.
__ADS_1
"Oh, begitu" David lantas berdiri disampingnya dengan sebelah tangan dimasukan kedalam saku celana.
Stella tak menghiraukannya. Dia bersikap siaga dari kehadiran orang yang bisa membuat kericuhan di area perkantoran ini.
Namun keberadaan David di depan pintu lobby membuat rusuh para karyawan yang tadinya melenggang santai.
Mereka langsung mempercepat langkah mereka karena sang bos telah tiba lebih dahulu dari mereka.
"Tuan masuk duluan saja, kesian karyawan jadi kelabakan" desis Stella agar tak terdengar karyawan lain.
"Gak mau. Gak ada kamu" jawabnya.
Stella memutar bola matanya malas. Percuma membujuknya, kalau alasannya bisa bikin karyawan yang lain salah faham.
Stella membiarkan pemilik perusahaan berdiri disampingnya membuat para karyawan berlarian karena takut kena SP.
Pastilah masing masing dari mereka memaki jam nya yang dirasa menipu mereka.
"Aduh, neng Stella. Terimaka- ah ada tuan bos.. m maafkan saya, tuan. Saya gak bermaksud membuat neng Stella-" ucapan permohonan maaf disertai bungkukan badan tak digubris David yang langsung melengos masuk setelah sebelumnya memelototkan mata padanya.
"Neng, gimana ini?" bisiknya dengan raut cemas.
Stella yang mengikuti langkah David menoleh padanya dan melingkarkan telunjuk dengan jempol dengan mulut membulat seolah berkata 'it's ok'.
"Jangan terlalu baik sama orang, nanti mereka ngelunjak" sindir David yang tak suka Stella dekat dengan lawan jenis.
Secara yang namanya pak Sarip itu masih single meski usianya hampir 30.
Namun kematangan usia dengan tubuh tegap karena tuntutan profesi sebagai penjaga keamanan membuatnya tampak gagah.
"Cih, cakepan gue kemana mana" cebiknya dalam hati.
Saat mereka memasuki lift khusus, seseorang berteriak sambil berlari. Stella menahan tombol agar pintu tak menutup dan sedikit menyembulkan kepala.
"Tolong tahan. Tuan besar datang" ucap salah satu pengawal Wiliam dengan terengah.
"Hah, tuan besar?" Stella lebih melongokan kepala dan menyipitkan mata memastikan dugaannya.
Namun ekspresi senangnya surut kala melihat seseorang yang membersamai Wiliam.
"Stella, cucuku sayang. Untung kamu mau menunggu kakek" sapa Wiliam dengan sumringah karena bisa bertemu kembali dengan cucu dadakannya itu.
"Kakek. Bagaimana kabarnya, apa kakek sehat?" Stella kembali menyapa dengan senyum hangat lalu meraih tangan keriput itu untuk mencium punggung tangannya takzim.
"Ck, gak sopan. Panggil 'Tuan Besar' pegawai rendahan kayak kamu sok-"
__ADS_1
"Dia memang cucuku. Aku yang memerintahkannya memanggilku seperti itu" potong Wiliam dengan tegas sambil menatap tajam pada Lusi.