
Waktu melahirkan tinggal menghitung hari. David mendelegasikan urusan kantor pada pak Andi karena dia tak mau melewatkan moment penting di hidupnya. Menjadi suami siaga.
Dia tak mau kecolongan saat sibuk berkutat dengan pekerjaan lalu mengabaikan istri dan anaknya. Lalu untuk apa dia mencari uang jika yang menjadi tujuannya ia abaikan.
"Mas, udahan jalan jalannya. Ayo kita makan sambil nonton" rengek Stella yang baru David ajak jalan jalan disekitar mansion. Baru juga 100 m Stella sudah merengek minta pulang karena ada hobi baru yaitu nonton sinetron yang David janjikan.
"Iya sabar sayang. Kan biar lahirannya lancar. Lagian episode baru nya belum dikirim"
"Lambat amat sih kerjanya. Udah ayooo, aku mau nonton yang kemaren aja" rengeknya lagi yang membuat David tersenyum dengan sikap manja nya Stella.
"Iya, sayang. Yuk" dengan sabar David menuntunnya karena Stella mulai terlihat kesulitan membawa perut yang sudah besar itu. Tubuhnya tak banyak menampakan perubahan selain perut. Hanya pipinya yang terlihat lebih berisi.
Sampai di rumah, David langsung menuju dapur sementara Stella pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki.
Stella menempatkan diri di sofa lalu tangannya meraih remote untuk menyalakan layar 80 inchi tersebut.
__ADS_1
"Camilan dataaaang" seru David membawa 2 piring berisi potongan buah dan roti kukus dengan selai kacang dan coklat.
Stella menyambutnya dengan antusias lalu meminta David untuk duduk di belakangnya untuk ia jadikan sandaran. Posisi duduk ternyaman baginya bersandar pada dada David sambil disuapi makanan.
Tak jarang David meminta imbalan karena bokong Stella yang yak mau diam membangunkan sang jaguar.
tit
Layar dinyalakan, lalu David mem-play file yang baru ia terima dan ia sambungkan pada layar lebar itu.
Terlihat beberapa kali diusir oleh gelandangan yang meninggalkan kardus untuk dijadikan alas untuk sekedar buang air kecil di pohon dekat dengan tempatnya berteduh.
"Pergi kamu, cari tempat lain" sentaknya pada wanita malang itu.
"Tunggu" sergah si gelandangan yang tadi mengusirnya.
__ADS_1
Langkah wanita itu terhenti. Ada gurat kelegaan kala kembali dipanggil. Dia pikir laki laki itu akan mengalah padanya.
"Apa yang kau bawa dalam koper itu, apa ada sesuatu yang bisa dijual?" ucap si laki laki merebut paksa koper yang tinggal 1 buah lagi karena yang satu nya berisikan pakaiannya yang masih sangat bagus sudah dia jual agar bisa mengisi perutnya yang tak bisa makan makanan sisa ataupun makanan yang berasal dari warung nasi dengan pintu ber cat biru.
Meski sempat diusir pegawai restoran, saat dia menyodorkan sejumlah uang untuk membeli makanan tersebut barulah sang pegawai melayaninya meski tak mengijinkannya masuk karena penampilannya yang kotor dan lusuh.
Wanita itu merasa puas kala bisa kembali merasakan rasa dari menu kesukaannya. Namun hasil menjual baju itu hanya cukup untuk membeli 1x makan saja dan setelahnya dia kembali bingung bagaimana mendapatkan uang agar bisa makan malam.
Stella menitikan air mata kala menyaksikan tayangan drama realita tersebut.
Rasa tidak tega menyelimuti sanubarinya. Namun sang ibu yang telah tega meninggalkannya tak kan bisa berubah jika tak merasakan pedihnya berjuang hidup.
"Kamu sudah berjanji untuk tak bersedih, sayang" lirih David di telinga Stella yang tengah terisak.
Stella tersenyum lalu mengecup bibir suami tercintanya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mau melakukan ini untukku. Aku harap usahamu gak sia sia" jawab Stella haru dengan pengorbanan sang suami yang rela membayar orang orang teater untuk mendukung drama realita perjalanan sang ibu mertua.