The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Kedatangan Lusi


__ADS_3

"Aduuuuh... mamang ojol dah deket lagi. Ni perut napa demo sih"


tring


tring


Terlihat pemanggil merupakan nomor yang tidak ada dalam daftar kontaknya. Foto profilnya menampilkan seorang laki laki dengan jaket hijau dan hitam khas ojek online.


"Ya, halo pak. Bisa tunggu sebentar, saya ke toilet dulu" ucapnya langsung kala menggeser tombol hijau.


"......."


"Terima kasih pak"


Stella segera menuntaskan hajatnya.


Setelah mencuci tangan di wastafel dia segera menghambur keluar dari toilet karena tak mau membiarkan supir menunggu lama.


"Hei.." sapa Deri saat melihat Stella keluar dari toilet dengan terburu buru.


Stella sempat menghentikan langkahnya dan menoleh pada pria yang dia kira memanggilnya.


"Kamu.. apa kita pernah ketemu?" tanya Deri kemudian yang tertegun dengan wajah familiar Stella. Namun dia lupa pernah melihat wanita cantik ini dimana selain di car free day kemarin.


Stella yang menganggap pertanyaan Deri adalah jurus klasik para penggoda tak menghiraukannya dan langsung lari melesat menuju area drop off untuk menghampiri ojol pesanannya.


"Tunggu.." sergah Deri yang berhasil mengejarnya dan menarik bahu Stella.


sreeett


brukkk


"Aaakkk..." pekik Deri kala mendarat dengan punggungnya setelah dibanting Stella.


Karena masih pagi, hiruk pikuk para pegawai di area lobby masihlah berseliweran. Dan fokus mereka yang merasa terlambat masuk kantor teralihkan kala melihat tragedi itu termasuk mamang ojol.


"Hati hati dengan tanganmu, tuan. Saya tidak mengenal anda" tegasnya membuat sekuriti mendekat dan mengamankan Deri.


Karena Stella memakai name badge perusahaan pastilah dia karyawati perusahaan ini, dan pria ini bukanlah tamu yang diundang para petinggi perusahaan karena tidak ada konfirmasi kedatangan tamu penting pagi ini.


"Maaf, neng. Kami akan mengamankannya" ucap kedua sekuriti yang menghampiri.

__ADS_1


"Terima kasih pak. Ayo pak, jalan" pinta Stella pada mamang ojol setelah berterimakasih pada sekuriti.


"Itu bukannya sekertaris baru bos ya?"


"Iya. Yang ke tujuh bukan?"


"Heem. Udah seminggu dia disini. Keknya bakalan terus deh"


"Iya bener. Si bos kan kalo udah nemu yang cocok bakalan dipertahanin"


"Yaaaah alamat kalah saing dong kita"


Terdengar bisik bisik para karyawati yang melihat kejadian nahas itu.


"Bu Mey, maaf ini ada laki laki kami tahan di ruang keamanan mengaku teman pak bos. Katanya namanya pak Deri" lapor salah satu security pada Meyra melalui sambungan telpon intern perusahaan.


"Pak Deri? kenapa sampai ditahan, pak?" tanya Meyra penasaran.


"Tadi laki laki ini tampak menggoda salah satu karyawati emm maksud saya sekertaris baru bapak"


"Apa? trus dimana sekarang Stella maksud saya sekertaris baru itu?"


"Udah pergi bu, abis banting bapak ini"


"Iya bu. Terus ini bagaimana bu, orangnya ngotot minta panggilin bos presdir"


"Biar saya yang kesitu pak. Pak presdirnya lagi ada meeting penting"


"Baik bu"


"Stella ngebanting? yang bener aja anak nakal itu. Sejak kapan dia jadi barbar gitu?" gumamnya sambil melangkah turun ke lobyy dimana ruang keamanan berada di pojok lobby.


"Apa yang terjadi pak?" tanya Meyra saat tiba di ruang keamanan. Sekuriti itu menjelaskan kejadian sebenarnya. Meyra mendengarkan dengan seksama dengan mata menilik Deri yang tengah kesakitan di bagian punggungnya. Hantaman dengan lantai pastilah menyakitkan. Tapi itulah akibatnya jika mencari masalah. Untunglah ponakannya kini tampaknya sudah bisa membela dirinya.


"Tolong panggilkan ambulan ya pak. Pastikan tak menimbulkan masalah, setelah itu buat laporan tertulis persis seperti apa yang bapak laporkan pada saya. Dan, ah iya.. apa cctv nya berfungsi?"


"Iya bu, masih berfungsi"


"Bagus. Salin rekaman kejadian lalu kirimkan ke nomer saya. Berjaga jaga kalau laki laki ini macam macam dengan perusahaan kita"


"Baik bu. Laksanakan"

__ADS_1


Saat Meyra tengah sibuk memberi arahan pada pihak keamanan perusahaan, Lusi melenggang masuk ke arah lift khusus petinggi. Meski sempat di tahan bagian front office, Lusi dengan percaya diri tak menghiraukan dan berkata dengan angkuh jika dia adalah istri presdir.


Bagian front office memang mengetahui jika bos besar baru mereka memanglah sudah menikah namun karena belum lama menjabat, jadi mereka belum bertemu sosok istri bos besar mereka. Jadi mereka tak berani menahan wanita itu takut takut dia memanglah benar nyonya besar perusahaan.


Belum lagi penampilan Lusi yang cantik dan elegan, dengan merek branded menempel pada seluruh tubuhnya mulai dari anting dan kalung berlian, rambut dan kuku yang terawat cantik hasil perawatan salon terkemuka, belum outfit dan tas juga sepatu yang berharga sangat fantastis.


David selesai dengan meeting pertamanya. Dia berniat meminta Meyra memesankan sarapan untuknya. Meeting pagi ini sedikit menguras perutnya.


"Kemana dia?" tanya David bergumam. Tak biasanya sekertaris andalan itu meninggalkan meja saat sedang ada meeting.


David memutuskan masuk ke ruangan dan berniat memesan menu sarapan via aplikasi.


sreeettt


"Ngapain kamu kesini?" tanya David menggebu saat melihat penampakan Lusi tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Suamiku sayang. Benar ternyata kamu sudah kembali. Kenapa gak bilang?" tanya lembut Lusi dengan nada menggoda. David menahan amarahnya yang mulai menguasai otaknya.


"Keluar" desisnya dengan suara berat.


"O o ow, kamu gak bisa ngusir istrimu begitu saja, sayang. Apa kata bawahanmu kalau kamu bersikap kasar terhadap istri tapi memperlakukan wanita lain dengan lembut" ucapnya tenang sambil melangkahkan kaki jenjang yang dibalut stiletto berwarna merah menyala.


Perlahan langkahnya mendekat pada David dan sebelah tangannya diangkat untuk menyentuh pundak yang tak pernah bisa ia sentuh.


"Kapan kamu memberikanku nafkah batin, sayang. Aku sangat menginginkanmu" bisiknya.


"Keluar kataku. Aku tak akan pernah menyentuhmu. Dan kalau kau berani memintaku hal seperti itu lagi, aku pastikan surat cerai yang kamu dapat" ancamnya.


"Apa kau tak peduli kalau mereka tau presdir mereka menggugat cerai karena istri meminta nafkah batin?" Lusi mengancam balik masih dengan ketenangannya. Tangan lentik dengan kuku ber cat artistik menyusuri bahu kekarnya. Membuat Lusi membayangkan berada dalam kungkungan bahu itu.


"Aku tak peduli mereka akan menilaiku seperti apa. Pedulikan dirimu yang akan dipandang rendah saat mereka tau penyebab keguguranmu. Aku bahkan tak yakin kalau janin itu berasal dari benihku" David menepis kasar tangan cantik itu dimana pemiliknya tengah mematung dengan penuturan David.


Selama ini dia tak digugat cerai karena diancam keluarga Lusi yang menganggap keluarga Wiliam tak mau bertanggung jawab. Lusi memang bersikap manis dan baik selama berada di dalam rumah besar keluarga Wiliam. Jadi tak ada alasan dia menggugatnya cerai.


"Mey.. bibi Mey.. tolong suruh sekuriti kemari"


"Ah ya t tuan. Maaf tadi ada sedikit masalah jadi saya ke bawah dulu. Baik akan saya panggilkan"


"Tidak perlu. Saya bisa pergi sendiri" tukas Lusi yang kesal dengan pernyataan David.


"Ikuti dia Mey. Pastikan sekuriti dan front office mengenalinya dan melarangnya masuk lagi" titahnya membuat Lusi tercengang.

__ADS_1


"B baik, tuan. Maaf nyonya, mari saya antar"


__ADS_2