Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 102


__ADS_3

“Makasih ya udah temenin gue ke salon,”


“Iya sama-sama,”


“Liat aja tuh si Tita ya. Nggak ada dia, gue masih punya lo. Bisa-bisanya dia malah males temenin gue dan mau tidur aja di rumah. Huh dasar temen yang tega, jahat!”


“Lif, kadang kita juga ‘kan nggak ada kemauan buat keluar rumah. Nah itu terjadi di Tita yang lagi pengen banget istirahat di rumah. Nggak apa-apa ‘kan udah aku temenin. Nanti kalau misalnya aku kebetulan nggak bisa jalan sama kamu, bakal ada Tita. Ya kita ganti-gantian aja,”


Shelina tidak ingin Lifa merasa kesal dengan Tita yang sedang tidak mau keluar rumah ketika Lifa mengajaknya pergi melalui sambungan telepon. Oleh sebab itu Lifa mengajak Shelina yang ternyata tidak keberatan.


“Ya udah gue balik ya,”


“Iya hati-hati,”


“Okay, sekali lagi makasih,”


“Sama-sama, aku masuk dulu ya, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina langsung turun dari mobil Lifa kemudian melambaikan tangannya pada Lifa sesaat sebelum mobil Lifa melaju pergi. Ketika Shelina akan melewati gerbang rumah, tiba-tiba ada suara klakson motor yang panjang seklai bunyinya. Shelina sampai menutup kedua telinganya karena merasa sakit mendengar suara klakson yang cukup gila itu. Ternyata pelakunya adalah Argantara.


Lelaki itu datang menggunakan motor besarnya yang berwarna putih. Argantara menghentikan motor tepat di depan Shelina yang sudah siap untuk menegur Argantara.


“Arga! Jangan mainin klakson kayak gitu dong. Berisik tau! Nggak enak sama tetangga,”


“Ya elah orang rumahnya oada berjarak, dan besar-besa mana sampai ke kuping mereka nih suara klakson motor gue,”


“Ya kedengeran lah sama mereka. Nanti kamu diusir dan masuk dalam blacklist orang yang nggak boleh masuk komplek perumahan ini lagi lho,”


“Hahahaha emang bisa?”


“Dih ngeremehin komplek aku ceritanya?”


“Nggak-nggak, bercanda gue. Iseng aja tadi neken klakson kayak gitu supaya lo nengok,”


“Aku bakal nengok lah tanpa kamu buat klakson kamu seberisik mungkin,”


“Iya maaf ah elah cerewet banget sih!”


Shelina berdecak pelan. Yang seharusnya kesal itu dirinya, ini kenapa malah terbalik? Argantara yang kesal setelah Ia tegur.


“Kamu mau ngapain ke sini?” Tanya Shelina seraya menatap Argantara dengan elsoresi wajah yang masih keliatan kesal.


“Lo nggak senang gue datang ke sini? Iya?”


“Astaga, siapa yang bilang kayak gitu?”

__ADS_1


Shelina langsung menatap Argantara dnegan jengah. Ia tidak mengerti kenapa Argantara malah salah menafsirkan pertanyaan yang barusan Ia lontarkan.


“Ya terus kenapa nanya kayak gitu?”


“Emang nggak boleh? Aku penasaran aja, kenapa kamu datang ke sini? Dalam rangka apa gitu lho maksud aku,”


“Lo baru pulang?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Shelina, Argantara justru balik bertanya sampai Shelina memijat pangkal hidungnya berusaha menambah stok kesabaran.


Tadi ditegur malah kesal, ditanya malah menjawba dnegan pertanyaan juga. Entah apa maunya Argantara ini.


“Iya aku baru pulang, itu Lifa baru aja balik abis ngantetin aku,”


“Darimana sih? Gue chat nggak dibalas. Parah banget sih lo,”


Shelina langsung tersneyum meringis mendengar ucapan Argantara yang Ia tebak sengaja datang ke umahnya karena ingin melontarkan protes sebab pesannya tidak dibalas.


“Maaf deh, aku kan lagi jalan sama teman aku nih, ceritanya quality time gitulah. Makanya aku nggak jawab chat kamu. Maaf banget ya. Tapi emangnya kenapa kamu chat aku? Ada perlu kah?”


Argantara berdecak pelan sambil merotasikan bola matanya. Memang kalau Ia ingin berkirim pesan dengan Shelina, harus ada pelru dulu ya? Bukankah wajar kalau pasangan saling berkirim pesan selagi ada peluang.


“Ya emang kalau gue chat atau telpon lo mesti ada perlu dulu gitu?”


Shelina tebak, Argantara kesal. Dari nada bicara dan raut wajahnya saja sudah terlihat. Shelina terkekeh sambil menepuk prlan pundak Argantara.


“Ya udah maaf deh. Kamu emang chat apa sih?”


“Oh, kamu ngajakin aku jalan nih ceritanya?”


“Ya iyalah, pake tanya lagi,”


Shelina tertawa, melihat Argantara kesal, adalah sebuah kesenangan di matanya. Argantara kalau kesal itu lucu.


“Sampai datang ke sini akrena chat nggak aku balas?”


“Iya aku mau tau kamu sesibuk apa sampai nggan semoat balas chat aku,”


“Duh iya maaf banget aku terlalu sibuk,”


“Halah bisa aja,”


Shelina tertawa karena ucapan Argantara itu. Lalu Ia mengisyaratkan Argantara untuk masuk ke rumah namun Argantara menggelengkan kepalanya menolak.


“Mau langsung pergi aja boleh nggak?”


“Hah? Serius nih? Kamu nggak mau mampir dulu gitu?”

__ADS_1


“Nggak, mau langsung pergi aja kalau kamu nggak keberatan sih. Kamu capek nggak abis jalan sama teman terus jalan sama aku?”


“Hmm nggak sih. Ya udah ayok sekarang aja kalau gitu,”


“Beneran?” Tanya Argantara yang ingin memastikan dan Shelina langsung menganggukkan kepalanya. Argantara tersenyum lebar. Kedatangannya ke rumah sang tunangan tidak sia-sia. Ia berhasil mengajak Shelina pergi.


“Sekarang izin dulu deh sama Mama kamu,”


“Ya udha aku masuk bentar,”


“Aku juga sekalian izin deh, jangan kamu doang,”


Argantara akhirnya mengikuti Dhelina masuk ke dalam rumah. Argantara singgah di rumah tunangannya karena ingin meminta izin kepada orangtua Shelina untuk membawa Shelina pergi.


“Kita mau kemana sih? Kamu minum dulu ya?”


“Eh nggak usah. Aku mau langsung aja dibilangin. Kita nonton aja di bioskop. Mama kamu dimana?”


“Di kamar biasanya,”


“Aku mau minta izin,”


“Coba aku liat dulu deh di kamar,”


Shelina langsung bergega ske kamar orangtuanya dan ternyata Ia tidak menemukan keberadaan Shefia. Ia langsung memanggil asisten rumah tangganya di dapur karena kedengaran ada suara kegiatan di dapur. Bik Imah pergi ke kampung untuk mengurus orangtuanya yang sakit. Tapi sudah ada penggantinya.


“Bi maaf mau tanya. Mama kemana ya?”


“Oh ibu lagi pergi belanja, Mba Shel,” jawab Bi Rina.


“Oh gitu ya ydah deh makaish ya, Bi,”


“Siap, Mba,”


“Aku mau keluar sebentar sama Arga, nanti kalau Mama tanya, tolong sampein ya ke Mama. Tapi aku emang pengen ngabarin ke Mama juga sih sebenarnya, tapi takut mama keburu sampai rumah dan belum jawab chat atau telpon aku yang mau ngasih tau aku pergi sama Arga,”


“Okay siap, Mba, nanti saya sampaikan. Hati-hati ya, Mba,”


“Makasih, Bi. Aku eprgi dulu, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina langsung ke runag tamu lagi menghampiri tunangannya dan memberitahu bahwa mamanya sedang tidak berada di rumah.


“Mana Mama kamu?”


“Mama lagi belanja kata Bibi. Ayo deh kita pergis ekarang aja. Nanti aku akabrin Mama di jalan, tapi kalau emang Mama nggak balas chat atau angkat telpon aku, aku udah nitip pesan ke Bibi kok,”

__ADS_1


“Jadi sekarang kita jalan nih?”


Shelina menganggukkan kepalanya. Tunggu apalagi? Ia juga antusias untuk pergi dengan tunangannya.


__ADS_2