Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 61


__ADS_3

Argantara sengaja tetap berada di rumah Shelina menunggu kedatangan mamanya Shelina. Ia tidak akan mendengarkan kata-kata Shelina yang tidak mengizinkannya untuk bilang pada Shefia bahwa Ganta menyukai Shelina.


Maksud Argantara ingin memberitahu Shefia adalah, supaya Shefia tahu kalau anak sahabatnya itu menyukai Shelina.


“Kamu nggak pulang?” Tanya Shelina pada Argantara yang ternyata belum pulang juga setelah Ia selesai mandi dan turun ke lantai dasar lagi. Ia malah melihat Argantara sibuk dnegan ponsel.


“Malah main game online,” ujar Shelina.


“Iya aku lagi seru nih,”


“Makin sore lho,”


“Ya emang kenapa sih? Aku masih mau di sini, kamu ngusir aku nih ceritanya?”


“Bukan ngusir, tapi ‘kan—“


“Tapi apa? Iyalah kamu ngusir barusan. Kamu nggak suka aku di sini lama-lama,”


“Cie aku kamu,”


Argantara langsung terdiam dan baru sadar kalau Ia sudah merubah panggilannya menjadi aku dan kamu, padahal biasanya tidak.


“Lo ngusir gue barusan,”


“Yah kok balik lagi?”


“Apanya?”


“Lo gue padahal lebih enak didengar aku kamu tau,”

__ADS_1


“Suka-suka ah, gue belum biasa kalau ubah-ubah panggilan,”


“Ya udah terserah kamu deh. Aku nggak ngusir kamu tau, kamu salah paham. Plis jangan salah paham ya. Aku tuh cuma takut kamu kelarean pulangnya. Nanti dicariin sama Tante Tina lho,”


“Emang gue cewek yang harus pulang sebelum Maghrib,”


“Ya ‘kan baiknya memang begitu. Aku aja beg—“


“Iya itu lo. Kalau gue ‘kan cowok. Ya agak bebas lah, nggak mesti sebelum maghrib,“


“Batasnya jam berapa kalau kamu?”


“Kalau di ata sjam sepuluh biasnaya gue udah situngguin di ruang tamu atau di teras sama bokap, abis itu gue diwawancara dadakan, sambil dipelototin,”


“Hahahaha emang gitu?”


“Dimarahin nggak?”


“Kalau gue punya alasan yang jelas nggak dimarahin paling cuma ditegur aja, tapi kalau alasan gue kayak misalnya party, main di rumah teman, nongkrong-nongkrong gitu dimarahin,”


“Itu namanya buang waktu sia-sia emang harus dimarahin sih,”


“Gue alasan ketiduran di rumah teman aja diomelin. Padahal ‘kan ketiduran itu kejadian yang nggak disengaja ya tapi diomelin, parah emang,”


“Lah emang bagusnya begitu. Biar apa? Biar kamu tuh tau kalau hidup punya aturan walaupun kamu statusnya anak dan punya hak untuk nikmatin yang namanya main, dan lain-lain tapi ‘kan harus ingat aturan lah. Kita hidup ini diatur, Ga. Kalau nggak mau di atur ya hidup aja di dalam tanah. Nggak ada aturan tuh, paling adanya cacing doang yang gangguin kamu,”


“Lagian ya, Mama Paoa kamu begitu karena khawatir, nggak mau kamu kenapa-napa. Kalau udah malam ‘kan rawan terjadi kejahatan. Ya walaupun kamu laki-laki tapi tetap aja lah bahaya,”


“Iya, Neng,”

__ADS_1


“Ih orang dibilangin malah ledekin aku,”


“Nggak ngeledek, emang gue mau manggil lo Neng aja,”


“Nggak, jangan. Panggil nama aku aja,”


“Kalau yang lain nggak boleh?”


“Nggak dong, panggil nama udah cukup,”


“Kalau Neng, Mba, nggak boleh?”


“Ya masa Neng Mba sih? Nggak mau ah. Aku namanya Shelina. Ya udah panggil aku kayak gitu aja,”


“Oh kalau panggil selain nama jadi nggak boleh nih? Seriusan?”


“Iya! Ih bolak balik dia mah,”


“Manggil sayang gitu, nggak boleh?”


Shelina mengangkat salah satu alisnya bingung. Apa kata Argantara barusan? Sayang? Yang benar saja. Masa sayang? Ia belum pernah dnegar Argantara memanggilnya dengan mesta seperti itud an jujur menggelikan.


“Hahaha jangan deh,”


“Kenapa emangnya?”


“Geli,”


“Nggak biasa berarti. Mau gue biasain nggak?”

__ADS_1


__ADS_2