
“Eh ada Shelina,”
Sapa Ghali seraya mengerling genit saat bertemu dengan Shelina di kampus hari ini.
“Hai,”
Shelina tersenyum hangat pada Ghali tanpa memperdulikan ekspresi suaminya yang sangat masam.
Ia hanya menjalankan ibadah saja. Senyum perlu di berikan kepada siapapun.
Ghali melirik Argantara dengan jail.
“Makin cantik ya,”
Ghali memperhatikan Shelina dari atas sampai bawah. Istri sahabatnya itu makin memesona saat dres muslimah berwarna ungu pastel membalut tubuh mungilnya.
Argantara makin geram dengan tingkah Ghali. Saat ada Argantara di samping Shelina saja Ghali berani menggoda Shelina. Bagaimana jika Argantara tak ada di samping Shelina? Pasti Ghali makin merajalela.
Shelina tersenyum mendengar pujian sahabat suaminya.
“Lo gak usah genit deh!"
Argantara memukul punggung Ghali cukup keras dengan perasaan jengkel luar biasa.
“Shel, kalo udah bosen tinggal kontak gue ya? Hati gue akan selalu terbuka buat lo,”
*********
“Sayang,”
Argantara terlihat panik saat melihat Shelina berlari seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Argantara mengikuti Sheva menuju toilet dengan tergesa.
“Huwek Huwek Huwek,”
Tangan Argantara terulur memijat lembut tengkuk istrinya.
“Sayang, kamu kenapa?"
Shelina tidak menjawab karena rasa mual masih melandanya. Perutnya terasa diguncang saat ini. Di tambah lagi rasa pusing di kepalanya membuat Shelina hampir limbung ke lantai. Tetapi Argantara tak tinggal diam membiarkan Shelina mendarat di lantai.
“Shel, ya ampun, Sayang. Bangun, Hei!"
Mata Shelina terlihat sayu di dalam pelukan Argantara. Argantara menepuk pelan wajah istrinya dengan perasaan khawatir. Pikiran Argantara sudah buruk mengenai keadaan istrinya saat ini. Jantungnya berdegup kencang saat tak ada pergerakan sedikitpun dari Shelina.
__ADS_1
Dengan cekatan, Argantara membopong tubuh mungil itu. Ia berlari secepat mungkin menuju parkiran tempat mobilnya bersandar di lokasi syutingnya.
Ia tak peduli lagi dengan semua pekerjaan yang harus ia jalani sebagaimana kontrak yang telah ia sepakati. Yang terpenting saat ini adalah keadaan istrinya.
Usai menempatkan Shelina dengan nyaman, Argantara mencari minyak aromatherapy di dashboard mobilnya dengan tergesa. Sementara Shelina masih memejamkan matanya di kursi samping pengemudi.
Saat benda yang dicari telah ditemukan, Argantara langsung mendekatkan botol cairan itu ke hidung runcing milik istrinya. Hatinya sangat berharap cairan itu bisa membantu Shelina sadar dari pingsannya.
Argantara sampai tidak sadar kalau timah sakit adalah tempat yang dibutuhkan Shelina saat ini.
“Sayang, bangun,”
Air mata Jino tak bisa di tahan lagi. Shelina belum juga bergerak. Mata hazel itu masih terpejam dengan rapat. Rasa cemas sudah menguasai dirinya.
Pikiran Argantara melayang pada kejadian beberapa hari lalu. Shelina memang terlihat aneh akhir-akhir ini. Argantara menyadari sesuatu yang berubah pada istrinya walau Shelina tak pernah mengeluh apapun padanya padahal tubuhnya terlihat lesu dengan bibir yang pucat pasi setiap harinya.
“Eh Arga, Shelina kenapa?"
Ghali langsung berseru kaget saat melihat Shelina terpejam dan Argantara yang sedang menangis menatap istrinya.
“Shelina kenapa, Ga?"
Ghali menepuk pelan pundak Argantara. Arganrara hanya menggeleng lemah. Ia menggigit bibir bawahnya, takut terjadi sesuatu dengan perempuan yang dicintainya.
“Bawa kerumah sakit aja,”
Argantara yang sedang mencium punggung tangan Shelina langsung tersentak saat ada pergerakan yang ditunjukan oleh istrinya.
Shelina mengerjapkan mata seraya melenguh. Argantara langsung menyambut istrinya dengan senyum mengembang. Perasaan bahagia menyergapi hati Argantara. Semua beban hidup serasa hilang saat melihat mata istrinya kembali terbuka. Ia tak henti mengucap syukur kepada Tuhan.
“Alhamdulillah. Apa yang masih sakit, sayang? Masih mual gak? Atau pusing? Muka kamu pucet banget, Sheva,”
Cerca Argantara tanpa jeda yang membuat Shelina makin pusing saat mendengarnya.
Ghali menoyor kepala Argantara dengan kesal.
“Lo ngomong nya pelan-pelan dong. Jangan ngegas gitu! Bini lo lagi sakit malah di serbu pertanyaan kayak gitu!"
Ujar Ghali dengan kesal. Shelina melirik Argantara yang masih fokus menatapnya tanpa peduli ucapan Ghali.
“Aku gak apa-apa, Sayang,”
Shelina mengusap wajah panik suaminya dengan lembut. Argantara memejamkan matanya menikmati sentuhan sang istri. Ia menangkup kedua tangan Shelina yang singgah di wajahnya lalu di kecupnya dengan hangat.
Ada Perasaan bahagia yang menyergapi relung hati Argantara saat mendengar kata sayang yang keluar dari bibir mungil itu untuk pertama kalinya.
__ADS_1
“Kamu serius gakpapa?"
Shelina mengangguk yakin seraya tersenyum walau wajahnya terlihat seperti mayat hidup.
Argantara menatap tepat sasaran pada hazel indah itu. Argantara tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya dia saat suatu saat nanti benda bersinar itu tertutup. Saat dalam hitungan beberapa menit saja mata Shelina tertutup tadi Jino seperti kehilangan arah hidupnya.
Harapannya hanya satu, hitam legam miliknya akan selamanya menatap hazel milik istrinya sampai nanti ada keturunan dari kedua jenis benda indah tersebut yang ikut menyinari keluarga kecil mereka.
Ghali yang mengerti keadaan, langsung beranjak pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
“Aku khawatir banget sama kamu."
Shelina menghapus jejak air mata Argantara dengan lembut.
“Maaf ya. Aku juga gak tau kalau bakal ngerepotin kamu kayak tadi,”
Ujar Shelina penuh rasa bersalah. Rasa cemas memang terlihat jelas dari mata Argantara. Hal itu membuat Shelina merasa bahwa ia merepotkan Argantara.
Argantara menggeleng dengan tegas. Ia sama sekali tidak merasa di repotkan oleh perempuan cantik itu.
“Kamu gak ngerepotin aku, Sayang. Cuma aku takut aja terjadi sesuatu sama kamu. Aku gak sanggup kalau--"
“Sttt. Sekarang aku udah gakpapa. Jadi kamu gak usah khawatir lagi."
Shelina mengecup singkat wajah mulus Argantara setelah itu tertunduk malu. Tak biasanya Shelina agresif seperti tadi.
Jino hanya terkekeh melihat sikap istrinya yang masih malu jika bertindak secara intim lebih dulu.
“Kalau kamu ngerasa badan kamu gak enak, langsung bilang aku ya?"
Shelina mengangguk patuh. Jino membawa Shelina kedalam dekapannya. Ia tak henti mengucapkan kata cinta pada Shelina disertai dengan kecupan-kecupan hangat di kening sang pujaan hati, calon ibu dari anak-anaknya.
“Kamu gak belajar?"
Argantara melepas lilitan tangannya dari tubuh Sheva lalu menggeleng. Mana mungkin ia tega meninggalkan Shelina dalam kondisinya yang seperti ini. Shelina sangat butuh peran Argantara di sampingnya.
“Enggak. Aku mau temenin kamu aja,”
“Jangan! Kamu take aja. Aku udah baik-baik aja kok, sana,”
Shelina mendorong tubuh Argantara dengan pelan agar lelaki itu keluar dari mobil dan menjalani kewajibannya lagi.
“Tapi--"
“Gak ada tapi-tapian. Sana balik lagi ke basecamp."
__ADS_1
“Gak bisa, Sayang--"
“Yaudah nanti malam aku gak mau tidur sama kamu,”