Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 151


__ADS_3

Argantara menghela nafas kasar usai makan malam dimeja makan, Shelina langsung bangkit dari kursinya lalu pergi ke dapur untuk membuat segelas susu hangat yang biasanya itu adalah tugas Argantara untuk menyiapkan untuknya. Tapi dari kemarin, Argantara seolah lupa akan kebiasaan untuk meluapkan perhatian kepada istrinya itu.


"Nanti aku aja yang buat,”


"Telat! Shelina udah mau bikin, kamu malah bengong dari tadi,”


Argantara tidak menghiraukan sindiran mamanya. Lelaki itu memilih untuk menghampiri Shelina yang hampir sampai didapur.


"Kamu masih marah ya sama aku? Maaf deh. Aku cuma lagi bingung mikirin keadaan rumah tangga kita nantinya setelah kehadiran Lia,”


"Shel?"


"Iya?"


"Maafin Aku ya,”


Shelina yang sedari tadi sibuk membuat susu dan mengupas buah apel untuk cemilannya dimalam hari hanya mengangguk pelan tanpa berniat menatap Argantara.


"Kamu maafin aku tapi sikapnya masih kayak gitu,”


Bahkan Argantara lupa dengan niat awalnya tadi yang ingin membuat susu untuk istrinya. Ia sibuk mendekati Shelina yang sedari tadi berjalan kesana kemari mencari keperluannya untuk malam hari dikamar nanti. Seperti air hangat, susu, buah, snack yang bisa ia konsumsi ketika lapar menyerangnya nanti malam. Karena biasanya Jino sangat susah dibanguni untuk menuruti kemauan Shelina. Apalagi dalam kondisi hubungan mereka saat ini, rasanya Shelina enggan meminta sesuatu kepada suaminya.

__ADS_1


"Ya terus aku harus gimana? Wajar kan aku cuekin kamu sebentar? Sementara kamu dari kemarin sama sekali gak peduli sama aku. Cuekin aku terus,”


Ucapan lirih Shelina membuat Argantara sadar kalau ia egois. Ucapan maafnya sudah diterima tetapi ia masih meminta lebih.


"Yaudah yang penting kamu maafin aku. Serius Sayang, kemarin aku melamun karena aku khawatir sama rumah tangga kita. Aku tau Lia adalah perempuan yang gak akan mundur kalau keinginannya belum terpenuhi tapi aku udah berusaha untuk menjaga semuanya kok dan aku minta tolong sama kamu untuk jaga diri juga karena gak selamanya aku ada disamping kamu walaupun banyak orang kepercayaan aku di sekeliling kamu. Dan Insyaallah aku gak akan kayak kemarin lagi,”


"Kamu khawatir? Kamu tau kalau sifat Lia kayak gitu? Kenapa dulu kamu pacarin?"


“Sayang, jangan ngomong begitu dong. Namanya juga cinta, ya kayak gimana aja juga diterima. Enggak dipungkiri aku pernah cinta sama dia,”


“Oh sekarang masih ya?”


“Beda gimana?”


“Ya beda, sekarang mah enggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia,”


“Terus?”


“Cinta sama kamu aja, Sayang,”


“Tapi cuekin aku,”

__ADS_1


“Aku ‘kan udah bilang kenapa aku jadi enggak fokus. Nih, kamu liat aja sendiri, si Lia ngehubungi aku terus,”


Argantara memperlihatkan isi ponselnya. Lia menghubungi dirinya terus, padahal tidak Ia tanggapi.


“Kamu blokir aja nomornya,”


“Udah, Sayang. Tapi tetap aja dia ada usahanya. Dia pakai nomor lain terus, niat banget itu orang ya? Aku malah risih sama orang yang agresif,”


“Ah dulu enggak risih deh perasaan,”


Shelina jadi pintar mengungkit ternyata ya. Sampai Argantara dibuat canggung. Mau bagaimana lagi? Memang apa yang dikatakan Shelina itu benar. Dulu Ia tidak risih sama sekali. Sekarang barulah terasa risihnya ketika Lia terus menerus mengganggunya. Bukan hari ini atau kemarin saja, semenjak Ia sulit dihubungi dan meninggalkan Lia. Memang Lia terus menghubunginya.


“Lagian kenapa kamu tiba-tiba putus sama Lia, Arga?”


“Karena dia selingkuh,”


“Hah? Serius?”


“Iya, selain aku mau fokus sama kamu, aku juga dibuat kaget sama fakta kalau dia itu selingkuh,”


“Kamu tau kabar itu darimana? Jangan jatuhnya malah fitnah dari kamu. Biar gimanapun, dia itu pernah ada dalam hidup kamu, Arga. Aku rasa lebih baik kamu selesaikan baik-baik hubungan kamu sama dia,”

__ADS_1


__ADS_2