
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, wuih papa udah sampai. Hampir barengan sama Arga ya. Arga lagi mandi tuh. Kehujanan dia, tapi pakai jas hujan sih,”
“Arga baru pulang? Pantesan itu pintu nggak ditutup rapat,”
“Pantesan papa bisa masuk juga ya,” ujar Tina seraya terkekeh.
“Goreng kentang? Papa mau juga dong, Ma,”
“Iya sekalian pasti, Pa. Hot cappucino mau nggak?”
“Mau dong, yang kafein-kafein nggak bakalan nolak. Mandi dulu deh, ntar gabung ya,”
“Sip, silahkan bapak Ghali,”
Fadli terkekeh mengusap singkat lengan istrinya kemudian Ia bergegas ke kamar. Tina kembali fokus menggoreng, tak lupa memastikan saus sambal masih tersedia. Ia menyiapkan piring, setelah kentang matang Ia langsung menyajikan kentang di atas piring datar tersebut dan Ia bawa ke meja makan, dan tentunya Ia tutup. Kemudian Ia ke dapur lagi untuk membuat minuman.
Tina bawa satu persatu cangkir berisi cappucino yang panas ke meja makan. Berhubung suami dan anaknya masih mandi, jadi Ia menggunakan air panas semua, tidak campur dengan air yang dingin. Supaya tidak cepat dingin minuman buatannya itu.
__ADS_1
*****
Setelah mandi, Argantara ke ruang makan, dan di sana sudah ada mamanya yang duduk sambil membaca buku resep makanan.
“Halo, Mama cantik,” Argantara menyapa mamamya dengan hangat.
“Halo, udah selesai mandi ternyata,”
“Iya dong, aku mah cepat mandinya,”
“Papa juga,”
Argantara dan Tina menoleh ke sumber suara. Argantara tersenyum ke arah papanya yang ternyata sudah pulang dan bahkan sudah mandi.
“Hampir barengan sama kamu, Ga,” jawab mamanya.
“Oh pas aku mandi kali ya? Pantesan aku nggak tau,”
“Ayo kita ngopi sama makan kentang,”
__ADS_1
“Asyik kayaknya enak bener nih,”
Argantara sumringah disajikan makanan dan minuman kesukaannya. Suasana mendukung untuk menikmati dua perpaduan itu karena masih hujan di luar sana.
“Karena lapar jadinya keliatan enak ya, Ga?”
“Hahahah mama tau aja,”
“Sambil cerita dong, jadi tadi pulang sama Shelina? Terus kehujanan ya? Kamu paksa Shelina supaya mau pulang sama kamu ya? Hahaha” tanya Tina usil yang langsung ditanggapi cepat oleh Argantara.
“Nggak-nggak, aku nggak maksa Shelina. Aku cuma ajak aja beberapa kali terus akhirnya Shelina mau deh. Jadi aku sama dia pulang bareng gitu ceritanya. Aku antar dia langsung ke rumah di tengah rintik-rintik hujan, suasana jadi kayak orang pacaran gitu, Ma, Pa. Ciee pacaran ya ‘kan emang pacaran, tunangan malah. Tadinya dia mau pulang sama Papanya,”
Tina dan Fadli tertawa mendengar ucapan Argantara yang bercerita dengan ekspresi sumringahnya. Melihat Argantara sebahagia itu karena pulang bersama Shelina, mereka sebagai orangtua ikut merasa bahagia.
“Tapi kamu antar anak orang dengan aman dan selamat ‘kan?”
“Oh jelas dong, Pa. Nggak ada lecet itu anak pertamanya Om Gani, Pa. Aku nggak mau lah bikin dia kenapa-napa, nanti aku nggak dapat restu dari Mama Papanya, eh sama adiknya juga,”
“Hadeh, Nak…Nak, jangan mikirin restu aja. Siapin diri baik-baik, udah siap atau belum? Pertanyaan nya gtu,”
__ADS_1
“Siap apa?”
“Ya ‘kan udah dikasih restu nih, pertanyaannya adalah kamu siap atau nggak buat Shelina bahagia? Jangan sampai restu orangtuanya udah kamu dapetin tapi kamu nggak bisa buat dia bahagia selama hidup bareng-bareng sama kamu nantinya,”