
“Shel, kok nggak masuk?”
Shelina menemani Argantara duduk di halaman rumahnya menunggu jemputan. Dan mamanya menghampiri.
“Iya nanti aja, Ma. Nungguin Arga sampai dijemput,”
“Ya udah masuk aja ke dalam, kenapa malah di sini?”
“Nggak usah, Tante, makasih sebelumnya. Aku di sini aja,”
“Oh ya udah,”
Shefia bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Argantara dan Shelina yang saling pandang satu sama lain.
Shelina jadi tidak enak hati. Tak biasanya sang Mama terbilang kurang ramah pada Argantara. Shelina langsung berdehem sebentar untuk memcairkan suasana.
“Kamu ebenran nggak mau masuk aja? Udah diajakin masuk lho sama Mama aku,”
“Nggak usah, aku di sini aja. Shel, kayaknya semenjak orangtua kamu tau aku pernah marah sama kamu, nolak perjodohan kita, mereka jadi berubah ya ke aku? Kamu merasa gitu juga nggak?”
__ADS_1
“Hmm mungkin itu cuma perasaan kamu aja, sebenarnya nggak kok,”
“Aku merasanya gitu, Shel,”
“Tapi meek nggak benci kamu kok,”
“Ya mungkin, tapi kalau marah pasti ada, jecewa juga pasti ada banget. Gimana ya? Aku harus apa?”
“Arga, kamu nggak usah kayak gitu. Mama Papa aku kan tau kamu sekarang udah nerima perjodohan kita, nggak ada paksaan, mereka juga tau kok perasaan kamu ke aku udah beda. Jadi kamu tenang aja, nggak perlu khawatir,”
“Tapi aku—“
Tiba-tiba Shefia datang lagi memanggil anak satu-satunya itu. Shelina langsung merasa bersalah pada Argantara, sepertinya sang mama terang-terangan menunjukkan rasa tidak dukanya kepada Argantara.
“Ya udah kalau gitu aku masuk ya, Ga,”
Argantara langsung menganggukkan kepalanya membiarkan Shelina masuk ke dalam rumah sementara Ia masih bertahan di halaman depan rumah Shelina menunggu jemputan.
“Gue semakin yakin, orangtua Shelina tuh lagi kecewa berat sama gue setelah tau kalau gue pernah nyakitin Shelina,” batin Argantara.
__ADS_1
******
“Ma, aku boleh tanya sesuatu nggak? Mama kenapa sikapnya kayak gini? Mama kesal ya sama Arga?”
Begitu menjauh dari pintu rumah yang tidak diturup sepenuhnya Shelina langsung mengajak mamanya itu berbicara.
“Nggak lah, biasa aja,”
“Tapi sikap Mama sama Papa itu beda kalau aku perhatikan. Gara-gara masa lalu itu ya?
Kan yang penting sekarang Arga nggak kayak dulu lagi, Ma. Dia udah nerima aku, Ma,”
“Yakin nggak tuh? Jangan sampai ada penolakan di kemudian hari dan lagi-lagi dia nyakitin kamu. Ya memang benar, Mama sama Papa kesal sama dia. Tapi mau gimana? Kami nyerahin semuanya ke kamu, ngeliat kamu bahagia banget sama dia mau misahin pun nggak tega,”
“Ma, jangan gitu ya aku mohon. Aku sama Arga udah sama-sama nerima kok, Ma. Dia baik banget ke aku, Ma. Kita berdoa aja semoga ke depannya dia tetap baik. Aku yakin dia orang yang baik sebenarnya, Ma,”
“Mama Papa cuma nggak mau aja kamu disakitin lagi sama Arga. Di awal aja dia udha berani nyakitin kamu dan kamu nggak pernah cerita apapun ke kami. Padahal kan bukan kamu yang salah, kenapa dia marah-marahnya sama kamu coba? Ya harusnya dia ngomong aja dari awal kalau dia nggak mau,”
“Orangtuanya pengen banget dia sama aku, Ma. Dia udah coba ngomong ke Mama Papanya tapi mereka berharap banget Arga nurut, akhirnya ya mau nggak mau. Arga emang salah karena kebawa emosi dan terkesan nyalahin aku tapi dia udah minta maaf kok, Ma. Jadi jangan benci dia ya, Ma, aku mohon,”
__ADS_1