Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 62


__ADS_3

“Halo, Tante,”


“Halo, gimana kabarnya, Ga?”


“Baik, Tante,”


“Udah dikasih minum apa sama Shelina?” Tanya Shefia pada Argantara yang langsung beranjak bangun ketika Ia datang dan langsung mencium tangannya.


“Udah dikasih es teh sama dikasih kue kok, Tante. Barusan ditawarin makan cuma aku nggak mau karena masih kenyang,”


“Tenang, Ma. Aku nggak malu-maluin kok, tamu udah aku kasih hidangan,”


“Oh gitu ya udah Tante mau naik bentar,”


“Iya, aku mau cerita nanti sama Tante,”


“Wah cerita apa tuh?”


“Cerita—nanti aja kalau Tante udah turun aku bakal cerita,”


Shefia langsung menatap Shelina dengan kening yang mengernyit. Jujur Shefia bingung apa hal yang ingin diceritakan oleh Argantara kepadanya. Supaya cepat Argantara cerita, jadi Ia cepat juga bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian.


“Okay Tante ke kamar sebentar,” ujarnya setelah itu berlalu meninggalkan Shelina dan Argantara.


Shelina langsung duduk di sebelah Argantara dan mencubit lengan tunangannya itu. Argantara meringis dan menatapnya bingung.


“Kok gue dicubit sih?”


“Kamu mau cerita apa sih ke Mama aku?”


“Ntar juga lo tau,”


“Jangan bilang kamu mau tetap cerita ke Mama kalau Ganta itu suka sama aku? Iya?”


Argantara mengangguk, untuk apa ditutupi kalau Shelina sudah bisa menebak sendiri. Memang itulah yang akan Ia ceritakan pada Shefia.


“Ih ‘kan aku udah bilang, Arga! Jangan cerita ke Mama aku. Aku takutnya Mama sama Tante Arno nanti jadi nggak enakan. Mereka ‘kan sahabat baik, ntar kalau Mama tau Ganta duka sama aku sementara aku ini udah tunangan sama kamu, pasti Mama nggak snakan deh sama Tane Arni, bis ajadi hubungan mereka juga buruk. Aku nggak mau, Arga,”


“Shel, gue cuma mau terbuka aja sama nyokap lo, lagian biar nyokap lo juga bilang ke nyokap Ganta kalau lo tuh udah tunangan sama gue,”


“Lah ‘kan bisa aja Ganta udah cerita ke mamanya, jadi mamanya itu udah tau soal status aku sekarang dan mungkin bisa jadi mamanya Ganta juga udah wanti-wanti Ganta supaya nggak berharap sama aku lagi,”


“Ya udah jadi nggak apa-apa dong kalau misalnya gue cerita ke Mama lo?”


“Jangan, Arga! Nanti kalau Mama jadi menjauh dari Tante Arni dan Ganta gimana coba? ‘Kan nggak enak jadinya. Udah biasa teman dekat terus tiba-tiba jadi menjauh,”


“Nyokap lo juga harus tau lah kalau anaknya disukain sama sahabatnya senidri biar nggak ada yang ditutupin,”


Shelina berdecak pelan karena Argantara tetap bawa maunya sendiri. Argantara keras kepala padahal Ia sudah katakan untuk tidak cerita pada Mamanya itu. Dampaknya buruk terhadap persahabatan. Sementara tujuan Argantara cerita itu biar Shelina tahu saja tidak ada yang ditutupi. Munglin saka selama ini Shefia tidak menduga kalau Ganta menyukai Shelina tapi ternyata sebaliknya.


“Okay apa nih yang mau diceritain ke Tante?”


Shefia tidak mau lama-lama mengganti baju. Begitu selesak, Ia langsung menemui Argantara lagi di ruang tamu rumahnya.

__ADS_1


“Tante, sebelumnya maaf aku mau tanya Tante tau nggak kalau misalnya Ganta itu suka sama Shelina?”


“Hah? Suka sama Shelina? Emang iya, Shel?”


Shefia lansgung bertanya pada Shelina yang menganggukkan kepalanya. Ia hatus jawab apa selain kengangguk. Argantara sudah tidka bisa dicegah lagi.


“Kok—bukannya kalian bersahabat aja? Sejak kapan? Dan emang Ganta ngomong ke kamu?”


“Udah ngomong, Ma. Terus aku bilang baik-baik ke dia kalau aku lebih nyaman bersahabat aja seklaian aku kasih tau dia kalau misalnya aku udah tunangan,”


“Mama nggak tau,“ ujar Shefia seraya menatap Shelina.


“Kok nggak cerita sama Mama sih?”


“Iya aku nggak mau Mama jadi ada jarak gitu sama Tane Arni dan Ganta, Ma,”


“Ya nggak lah, mereka ‘kan tetap sahabat kita. Cuma sayangnya kenapa kamu nggak cerita? Mama ‘kan biasnaya jadi orang pertama yang tau apapun soal kamu,”


“Aku minta maaf, Ma,”


“Okay Mama maafin,”


“Arga udah tau?”


Sekarang Shefia bertanya pada Argantara yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Aku tau, Tante,”


“Ya ampun, maaf ya Arga aklau itu bikin kamu nggak nyaman,”


“Ya nggak lah, kamu tenang aja. Tapi berarti kamu sama Ganta ya mulai ciptain jarak, Shel. Mama nggak minta kamu untuk menjauh tapi paking nggak buat batasan yang lebih jelas lah kelihatannya, supaya apa? Ya tujuannya biar Ganta tuh nggak salah paham. Kamu ‘kan udah nolak Ganta, terus kalau kamu maish biasa aja ke dia kayakw ajtu sebelum kamu tau dia suka kamu, nah takutnya bikin dia bingung kamu serius nolak atau nggak? Kalian memang bersahabat tapi bikin batasna yang lebih jelas aja Mama minta,”


“Iya, Ma,”


“Harus saling jaga perasaan. Kamu bikin batasan yang lebih jelas tujuannya ‘kan supaya Ganta juga nggak salah paham, terus kamu juga harus jaga hati tunangan kamu lah,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Kemudian Ia menatap Argantara yang rasanya lega sudah cerita pada Shefia.


“Jujur aku bicara kayak gini ke Tante juga ada maksudnya. Aku takut deh Tante sama Om berubah pikiran malah jodohin Shelina sama Ganta,”


Shefia terkekeh mendnegar ucapan Argantara. Bisa-bisanya Argantara berpikir seperti itu. Kalau Ia mau menjodohkan Shelina dnegan Ganta, sudah Ia lakukan sejak dulu.


“Harusnya sih dari sebelum jodohin sama kamu, Tante udah jodohin Shelina sama Ganta ya kalau tante, Om dan Shelina mau. Tapi ini ‘kan nggak. Shelina malah jadi tunangannya sama kamu ya berarti memang kamu yang kami mau,”


“Shelina masih bingung gimana caranya buat batasan yang tegas. Dia nggak enak karena Ganta itu sahabatnya,” ujar Argantara seraya menatap Shelina yang Ia tahu tidak bisa menerima perasaan Ganta tapi sikapnya terbilang tidak tegas.


“Duh, Shel jangan begitu. Ya namanya oranh naksir ya, kadang kalau kita nya nggak benar-benar jelas ngasih penolakan, itu suka bikin salah paham. Makanya kita harus pintar-pintar nolaknya tanpa bikin sakit hati,” ujar Shefia pada anaknya.


“Iya nanti aku coba ya, Ma,”


“Kamu nggak jarus jauhin Ganta kok, tapi kamu bersikap tegas aja. Kamu pikirin gimana caranya untuk Ganta paham kalau kamu benar-benar anggapd ia cuma senatas sahabat aja, dan kamu harus nunjukkin juga kalau kamu menghargai hubungan kamu sama Argantara,”


“Iya, Ma,”

__ADS_1


“Arga berteman sama Ganta nggak?”


“Tante, mohon maaf sebelumnya. Aku kalau berteman belum. Nggak pernah ngobrol bareng yang lama cuma sekedar nyapa aja, dia nyapa aku terus aku balas. Baru sebatas itu aja. Tapi entah kenapa aku bisa tau kalau dia kurangs enang sama aku. Aku pernah liat Shelina dan Ganta di taman. Tapi aku emang nggak niat nyamperin mereka jarena aku liat mereka ngobrol. Terus tiba-tiba negitu ngeliat aku, Ganta langsung meluk Shelina. Aku nggak tau ya maksud Ganta ngelakuin itu apa. Cuma agak bikin kesal juga ngeliatnya,” ujar Argantara seraya terkekeh kecil.


Sontak cerita Argantara itu membuat kedua mata Shelina membelalak kaget. “Kamu nggak pernah cerita sama aku tuh,”


“Ya kamu ‘kan tau aku uring-uringan setelah kejadian itu,”


“Oh iya-iya aku ingat,”


“Aku pikir kamu paham lah walaupun aku nggak bilang kalau misalnya aku ngeliat kalian pelukan di taman,”


“Aku pikir kamu diceritain sama orang gitu, Ga,”


“Aku liat langsung pakai mata kepala aku sendiri. Emangnya aku nggak cerita ke kamu ya?”


“Aku nggak tau. Apa aku lupa ya?”


Argantara diam, jujur Argantara juga lupa pastinya Ia cerita atau tidak pada Shelina soal Ia melihat Ganta memeluk Shelina. Tapi yang jelas Argantara kesal sekali saat itu.


Shelina langsung menatap tunangannya itu dengan sorot mata merasa bersalah. “Aku minta maaf ya. Waktu itu aku udah ceritain ‘kan kalau dia yang tiba-tiba meluk aku,”


“Waduh apa tujuan Ganta bikin kamu cemburu ya, Ga?”


Argantara tersenyum sambil kengangkat kedua bahunya sambil menjawab “Aku juga nggak tau, Tante. Yang jelas saat itu aku kesal banget ngeliatnya. Hati rasanya panas, tapi ya udahlah, aku berusaha mikir positif karena Ganta itu sahabatnya Shelina. Dan saat itu juga aku belum tau kalau misal Ganta nyatain perasaannya, aku tau ya dari Shelina,”


“Ya udah makanya Shel buat batasan yang tegas, mungkin memang Ganta niat buat Arga cemburu. Salah banget sebenarnya. Kok kesannya jadi Ganta yang tunangan kamu dan Arga ini bukan siapa-siapa kamu,”


Shelina langsung menatap Argantara dengan dalam. Sepertinya Argantara benar-benar merasa terusik sekali dengan Ganta sampai banyak cerita pada mamanya.


“Iya aku janji bakal buat batasan yang lebih tegas lagi,”


“Tante, aku pamit pulang ya. Makasih udah di ngizinin aku ke sini,“


“Sama-sama, maaf ya Ganta bikin kamu nggak nyaman,”


“Tante nggak perlu minta maaf. Tante nggak salah kok,”


Argantara pamit pada Shefia, dan Shelina mengantarkannya hingga ke depan pintu. “Kamu benar-benar cerita smeuanya ke Mama. Kamu kayaknya merasa terganggu banget ya sama Ganta?”


“Ya iyalah, biar Tante Shefia yang sebenarnya,”


“Sekarang Mama udah tau dan kayaknya Mama juga merasa nggak enak sama kamu,”


“Nggak, bukan salah Tante Shefia kok. Lo harus yakinin itu ke nyokap lo. Ini ‘kan salahnya si Ganta yang lancang menurut gue. Udah tau cuma dianggap tenan eh dia nganggapnya lebih dari teman,”


“Maaf ya, Arga,”


“Kenapa minta maaf sih? Lo tuh nggak salah. Udah ya, gue balik. Makasih udah dibolehin bertamu, besok gue jemput,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia akan melambai tapi Argantara tidak jadi melangkah menjauh.


“Kenapa?“ tanya Shelina yang bingung tunangannya tidak jadi melangkah pergi.

__ADS_1


“Beosk gue jemput! Ingat ya, jangan lupa. Awas aja kalau lupa. Jangan tiba-tiba lo pergi sama yang lain, pokoknya ke kampus sama gue okay?”


“Iya, ya ampun. Aku ingat kok,”


__ADS_2