
“Aku dapat undangan dari Noval lho,”
“Undnagan apa? Dia nikah?”
“Hahaha nggak lah. Dia mau ulang tahun tiga hari lagi. Aku mau datang ah. Menurut kamu, hadiah yang cocok kira-kira apa ya, Ga?”
Shelina tiba-tiba membawa berita bahwa Ia diundang oleh temannya bernama Noval yang padahal kontaknya sudah Argabtara blokir.
“Kok dia unblock sih? Padahal udah pernah gue blokir tuh nomornya si Naufal? Kok Naufal bisa sih ngirim undangan? Kayaknya udah dua kali tuh gue blokir,” batin Argantara sambil mencengkram stir mobilnya dan rahangnya mengeras.
“Ga, kok diam aja? Menurut kamu kado yang pas apa? Kamu ‘kan cowok, kira-kira apa kado yang cocok untuk si teman SMP aku itu. Aku nggak enak ‘kan kalau nggak datang, dan nggak bawa kado. Mana dia pernah datang bawa makanan ke rumah,”
Argantara mendengus, untuk apa merasa tidak enak pada orang yang seperti itu. Entah kapan Ia kehilangan saingan. Sudah ada Ganta, ada Noval. Nanti siapa lagi? Argantara ras aini penbalasan untuknya yang pernah jahat pada Shelina. Tapi Ia tidak bisa kalau dibalas dengan cara cemburu seperti ini. Ia lebih senang dibalas dengan amarahnya Shelina saja.
“Ga, ih kok kamu diam aja sih? Aku minta saran kamu, kira-kira kamu ada saran nggak bagusnya aku kaish apa itu si Noval, Ga?”
“Nggak tau, aku juga bingung,”
__ADS_1
“Yah, kamu juga bingung? Kok bisa? ‘Kan kamu cowok, dan Noval cowok, harusnya ya kamu nggak bingung lah,”
“Ya masa aku nggak boleh bingung, Shel. Aku boleh bingung lah, aku ‘kan manusia biasa yang bisa bingung, yang bisa cemburu,” ujar Argantara seraya menekan kata terkahir suoaya Shelina sadar kalau bertanya seperti itu saja membuatnya cemburu walaupun kesannya remeh. Tapi memang seperti itulah kenyataannya.
“Hmm aku bingung mau beliin dia apaan ya? Masa kamu nggak ada pendapat sih gitu? Aku cewek jadi nggak tau nih,”
“Ya udah kamu biasanya ngadoin cowok ngasih barang apa? Nah kadoin dia itu aja,”
“Ya belum pernah, cuma Papa aja,”
“Kamu kadoin Papa apa?”
“Nah ya udah itu aja,”
“Ya udah deh,”
Shelina sebenarnya kecewa karena Argantara tidak mau memberikan pendapat, tidak mau membantunya keluar dari rasa bingung.
__ADS_1
“Kamu kali ini lagi nggak mau bantu aku ah,”
“Males banget,”
“Lho kenapa? Emang boleh males gitu nolongin orang? Nggak boleh tau,”
“Ya abisnya nggak jelas banget amsa minta saran ke aku. Ya mana aku tau dia lagi butuh apa atau suka apa. Jadi aku bingung lah mau jawab pertanyaan kamu,”
“Kalau temani aku cari kado untuk dia, kamu mau? Kamu bingung juga nggak? Jangan bilang iya lagi nih,” sindir Shelina di awal, Ia mewanti-wanti Argantara tidak mau menemaninya padahal Ia hanya minta ditemani ke mall saja.
“Iya bingung juga, doalnya aku mau antar Mama aku arisan,”
“Ah masa iya? Jadi kamu nggak bisa antar aku nih?”
“Ya—-gimana? Coba liat nanti aja deh. Aku nggak bisa jawab sekarang,”
“Ih kok kamu gitu sih, beneran Mama kamu ada arisan? Jadi kamu nggak mau temenin aku cari kadonya si Noval?”
__ADS_1
Argantara sebenarnya tidak ada agenda untuk menemani mamanya pergi arisan. Hanya saja Ia terlalu malas menemani Shelina mencari kado untuk laki-laki yang lain. Walaupun memang dalam rangka ulang tahun,