Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 54


__ADS_3

“Shelina! Makan sama gue,”


Argantara langsung menarik tangan Shelina yang baru saja keluar dari kelas. Sejak tadi Argantara menunggu Shelina selesai kelas, dan menurut Argantara lama sekali hampir setengah jam Ia berdiri di dekat pintu kelas Shelina.


Setelah Shelina keluar kelas, Argantara langsung meraih tangan Shelina yang kaget karena tiba-tiba tangannya ditarik.


“Shel tunggu!”


Argantara menoleh ke belakang dan Ia mendapati sosok Ganta yang berusaha menyusulnya dan Shelina.


“Dia mau ngapain sih? Gue udah laoar nih pengen makan,”


“Eh bentar-bentar! Dia mau belikin buku aku,”


Argantara berdecak dan akhirnya melepaskan genggaman tangan mereka. Ia membiarkan Ganta menghampiri Shelina untuk memgembalikan buku yang memang milik Shelina.


“Makasih ya udah dipinjamin,”


“Okay sama-sama,”


“Eh kamu mau langsung pulang? Bareng aja ayok. Aku juga mau langsung pulang nih,”


“Aku—“


“Shelina mau makan sama gue, Ganta,”


Sebelum Shelina memberikan jawaban, Argantara sudah menyelak. Argantara tidak memberikan kesempatan untuk Shelina menjawab.


Entah kenapa Argantara khawatir Shelina akan mengiyakan tawarannya Ganta. Padahal sebenarnya tidak. Shelina akan meminta maaf tadinya, karena Ia harus pergi dengan Argantara jadi tidak bisa pulang bersama Ganta.


“Oh gitu ya, okay deh hati-hati kalian, gue duluan ya,”


Shelina tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sementara Argantara merotasikan bola matanya.


“Udah ‘kan? Ayo kita makan,”


Argantara akan meraih tangan Shelina lagi namun Shelina langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung.


“Kamu kenapa sih? Tiba-tiba narik tangan aku, ngajakin makan. Bukannya bisa ya ngomong baik-baik gitu? Tangan aku sakit tau ditarik-tarik!”


“Emang sakit? Gue minta maaf,”


Raut wajah Argantara langsung berubah. Shelina bisa tahu kalau sekarang tunangannya itu merasa bersalah.


“Ya sakit lah! Kamu masih aja nanya sih. Tiba-tiba kamu narik tangan aku,”


Walaupun Shelina tahu kalau Argantara sudah merasa bersalah, Shelina tidak akan diam saja. Argantara harus tahu kalau yang Ia kakukan tadi bukanlah hal yang baik.


“Gue minta maaf,”


“Aneh banget tiba-tiba narik tangan aku terus ngajak makan. Ya harusnya bisa lah ngajaknya bsik-baik gitu, jangan bikin kaget, jangan bikin sakit,”


Argantara berdecak pelan lalu menggusar rambut hitam legamnya smabil berkata “Gue tuh lapar. Jadi maaf ya kalau gue udah nyakitin lo,”


“Dan tadi juga kenapa coba kamu nyelak omongan aku? Orang aku mau jawa ajakannya Ganta kok, kenapa jadi kamu yang jawab?”


“Ya karena gue udah terlanjur mau makan sama lo,”


“Iya aku tau, dan aku mau bilang ke Ganta kalau aku mau makan sama kamu dan aku nggak bisa pulang bareng dia. Tapi ekangnya kamu nggak bisa gitu nunggu aku selesai ngomong dulu? Harus banget diselak?”


Argantara memghembuskan napas kasar lagi sambil menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana dan membungkuk singkat. “Okay gue minta maaf,” ujarnya sekali lagi kali ini dengan penekanan. Ia sudah berbuat kesalahan sebanyak dua kali dan Shelina kelihatannya kesal. Jangan sampai Shelina membatalkan rencananya yang ingin makan bersama Shelina.


Kalau suasana hati Shelina berantakan karenanya, bisa dipastikan Ia gagal membawa Shelina ke restoran bakso yang baru buka di dekat kampus mereka.


“Ayo kita makan. Gue direkomendasiin sama teman sekelas gue, si Ivana. Dia bilang ada tempat makan bakso baru nggak jauh dari sini. Jadi gue mau ngajakin lo,”


Shelina menganggukkan kepalanya pelan. Argantara mampu bernapas lega sekarang. Nampaknya Shelina sudah memaafkannya.


Mereka kini melangkah bersamaan, tanpa bergenggaman tangan. Argantara tidak mau mencari amsalah, dan Shelina juga selalu tidak punya nyali untuk memulai. Tadi Argantara spontan saja langsung menarik tangan Shelina, tanpa memikirkan dampaknya bahwa yang Ia genggam itu adalah tangan perempuan yang notabene nya tidak sekokoh tangan laki-laki.


“Kamu tadi kayaknya buru-buru banget ngajakin aku pergi, sampai narik tangan aku tuh nggak kira-kira banget. Emang kenapa sih?”


“Hah? Gue udah lapar. Bukannya tadi udah gue jawab ya, Shel?”


“Masa lapar sampai segitunya? Kamu garang ya laparnya, kayak macan. Sampai tangan anak orang kamu tarik aja sesuka hati,”


“Gue minta maaf, Shel. Duh, susah ya punya salah sama cewek, diungkit mulu,”


“Apa kamu bilang? Diungkit mulu? Ya iyalah, ini rasa sakitnya aja masih ada lho,”


Argantara langsung refleks meriah tangan shelina dengan lembut dan mereka masih berjalan.


“Okay kali ini gue lebih manusiawi gandengnya,”


“Udah deh nggak usah gandeng-gandeng. Ornag kita bukan truk kok,”


“Ya barangkali aja sakitnya jadi hilang ‘kan digandeng sama cowok kayak gue,”

__ADS_1


“Emang kamu cowok kayak apa?”


“Ya menurut lo gue cowok yang kayak gimana? Ganteng, baik, perhatian, atau apa?”


“Nggak semuanya!” Jawab Shelina dengan tegas padahal yang pertama itu sudah masuk kriteria. Argantara tidak tampan? Itu omong kosong.


Kalau yang kedua dan ketiga memang setengah-setengah. Terkadang Argantara baik, perhatian, terkadang sebaliknya. Barusan saja tangannya yang niat ingin digenggam malah mendapatkan rasa sakit karena Argantara terlalu kuat menggenggamnya, belum lagi Ia seperti kambing tadi ditarik begitu saja. Jadi Shelina merasa wajar kalau sampai memarahi Argantara tadi.


“Serius? Gue nggak semuanya? Nggak ganteng, baik, perhatian?”


“Nggak? Jangan kepedean dulu makanya. Udah senyum-senyum pede nanya ke aku, dikiranya aku bakal muji-muji kamu gitu?”


Tawa Argantara pecah seketika. Ia senang melihat Shelina yang ketus dan bicara tanpa pikir panjang. Biasanya kalau bicara pikir-pikir dulu, menimang apakah ucapannya itu akan menyakiti hati orang lain atau tidak. Sekarang Shelina tak peduli. Shelina tidak mau ambil pusing mau Argantara sakit hati, Argantara tidak terima dengan kata-katanya, Ia abaikan saja.


“Pedes juga kata-kata lo,”


“Ya biarin, karena aku kesal sama kamu,”


“Masih kesal? Ya ampun, ‘kan gue udah minta maaf,”


“Selagi rasa nyeri di tangan aku belum hilang, berarti rasa kesal aku ke kamu juga bakal tetap ada. Intinya kalau tangsn aku udah nggak sakit ya berarti aku nggak kesal lagi sama kamu,”


Argantara menggaruk pelipisnya. Ternyata seperti ini marahnya Shelina. Nampaknya ini benar-benar marah, alias bukan marah palsu.


Sekalipun sudah meminta maaf benerapa kali, tetaps aja Argantara masih belum berhasil untuk menghilangkan rasa kesal yang merundung hati Shelina saat ini.


“Kok tumben bukain pintu mobil buat aku?”


Ketika mereka sudah sampai di sebelah mobil, Argantara langsung membukakan pintu mobil penumpang yang ada di sebelah kiri kursi kemudi dan mempersilahkan Shelina untuk masuk.


Setelah itu Argantara menyusul masuk juga. Ia menggunakan seatbelt, dan tak lupa memerintahkan Shelina untuk melakukan hal yang sama.


“Kita ke tempat makan bakso yang baru itu ya,”


“Iya, tapi kamu belum jawab pertanyaan aku lho,”


“Pertanyaan apa?”


“Kamu kok tumben bukain pintu mobil buat aku?”


“Ya emang nggak boleh apa?”


“Boleh, cuma ‘kan aneh aja gitu,”


“Anehnya dimana?”


“Ya…nggak biasa aja kamu bukain pintu mobil buat aku. Udah kayak Tuan puteri aja aku ya?”


Perlu waktu untuk Shelina mencerna ucapan tunangannya itu. Sebentar lagi jadi Tuan puteri. Kalimat singkat, tapi membuat bingungnya lumayan menghabiskan waktu yang panjang.


“Maksudnya?” Gumam Shelina.


“Maksud gue, kalau kita udah kebih dari tunangan nih, alias udah nikah, ya otomatis lo jadi Tuan puteri ‘kan?”


“Hah? Barusan kamu bilang jadi Tuan puteri dalam waktu dekat. Berarti maksud kamu, kita nikah dalam waktu dekat gitu?”


“Nggak, gue salah ngomong. Yang mau gue omongin tuh yang barusan. Kalau udah nikah ya bakal jadi Tuan puteri,”


“Nggak dalam waktu dekat ‘kan tapi?”


Argantara berdecak mengetahui kecemasan Shelina. Mereka sudah pernah membahas ini. Perjodohan tetap berlangsung tapi pernikahan nanti setelah lulus kuliah.


“Nggak, Shel. Udahlah lo tenang aja,”


“Kamu mau nikah sama aku?”


“Harusnya gue yang nanya, lo mau atau nggak nikah sama gue?”


“Mau, ‘kan kita udah pernah ngomongin ini sebelumnya, iya nggak sih?”


“Nah ya udah sekarang kenapa diomongin lagi?”


“Kali aja kamu berubah pikiran tiba-tiba nggak mau nikah sama aku. Dan mau batalin lertunangan kita ini,”


“Nggak, gue nggak akan ngelakuin itu karena usaha gue sia-sia dong untuk move on dan nerima lo?”


Perasaan Shelina menghangat mendengar ucapan Argantara. Sederhana tapi bermakna. Argantara mau belajar untuk menerimanya dan juga berjalan meninggalkan masa lalu. Mendengar itu, hati Shelina berbunga-bunga.


“Makasih ya,”


“Lo sendiri gimana? Bisa nerima gue atau nggak?”


“Kalau aku sih jangan ditanya ya. Sejak awal aku setuju sama perjodohan itu aku udah berusaha untuk nerima kamu kok,”


“Makasih ya, Shel. Lo yang sabar, lo yang baik, pengertian, bikin gue kayak ditampar kalau ingat momen dimana gue benar-bsnar nolak lo,”


“Sama-sama, makasih juga kamu udah mau nunjukkin usaha kamu untuk terima aku jadi tunangan kamu dan kamu bilang kalau kamu bakal move on,”

__ADS_1


“Udah sih kayaknya. Gue nggak pernah ingat-ingat masa lalu lagi,”


“Oh ya? Aku senang dengarnya. Karena itu berarti, aku nggak harus saingan sama masa lalu kamu untuk dapaton hati kamu, Ga,”


Argantara tersenyum dan mengubit pipi Shelina dengan pelan. Ia tidak mau menyakiti Shelina lagi. Semoga yang tadi tidak terulang lagi. Ia benar-benar seperti dikuasai makhluk halus tadi. Entah kenapa ingin buru-buru membawa Shelina pergi dari kampus.


“Gimana hari pertama si Ganta kuliah sama lo?”


“Hmm? Ya nggak gimana-gimana sih. Biasa aja kok,”


“Dia gangguin lo nggak?”


“Ya nggak lah, emang kita anak TK main ganggu-gangguan? Orang udah dewasa kok, jadi bggak ada istilah ganggu mengganggu,”


“Ada, kata siapa nggak ada?”


“Lho, maksudnya siapa ganggu siapa?”


“Dia ganggu kita, paham?”


“Hah?”


Shelina terperangah beberapa detik berusaha mencerna ucapan Argantara. “Kamu kenapa sih? Apa kamu cemburu?”


“Gue nggak tau ya ini tuh cemburu atau apa. Tapi yang jelas gue nggak senang aja kalau lo dekat sama yang lain,”


“Alasannya apa?”


“Ya—-gue sendiri juga bingung apa alasannya,”


“Cemburu itu tanda cinta lho, Ga,”


“Iya gue tau kok,”


“Aku nggak mau geer sih. Tapi kayaknya, ini kayaknya ya. Kamu cemburu sama aku deh,”


“Nggak tau lah gue. Intinya gue risih liat lo dekat sama yang lain, ini gue udah jujur gue harap lo hargain kejujuran gue ini ya. Jangan diledekin,”


Shelina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Ia mengejek apa yang dirasakan oleh seseorang. Ia menghargai rasa kesal Argantara, Ia menghargai ketidaksukaan Argantara terhadap kedekatan dirinya dan pria lain.


“Nggak bakal lah aku ledekin. Emang aku apaan sih? Kerajinan ngeledekin kamu,”


“Ya kali aja lp mau ngeledekin gue yang udah mulai ngerasa nggak suka, nggak nyaman liat lo sama cowok lain siapapun itu orangnya,”


“Jadi gini ya rasanya diposesifin sama Argantara? Hmm seru juga,”


Shelina tersenyum dengan kedua pipi yang sedikit memerah karena hadirnya semburat setelah Argantara mulai menunjukkan kepemilikannya terhadap Shelina.


Mereka tiba di restoran yang menjadi incaran Argantara setelah dapat informasi dari temannya ada restoran menjual bakso yang rasanya enak sekali. Argantara jadi penasaran makanya mengajak Shelina ke sana.


“Wah ada lesehannya, Ga. Ih dnak banget tempatnya, nyaman. Jarang ‘kan tempat makan bakso lesehan begini,”


“Jadi lo mau yang lesehan aja nggak yang pakai bangku?”


“Nggak-nggak, aku mau duduk di bawah, lebih nyaman,”


Argantara menganggukkan kepalanya. Kebetulan khusus tempat makan yang duduknya di bawah adanya di bagian delan, sekentara yang menggunakan bangku itu di bagian dalam restoran.


“Lo beneran nyaman nggak nih?”


“Nyaman banget dong, makah enak kalau makan duduk di tikar kayak gini, berasa lagi pulang kampung deh aku,”


“Oh di kampung lo kalau makan lesehan gini?”


“Kakek Nenek aku ada meja makan sih, tapi kalau keluarga datang, kita lebih suka makan di bawah. Nggak tau kenapa lebih terasa nyaman aja gitu,”


Mereka memesan bakso dua porsi disertai dengan minuman. Pelayan pergi setelah meminta Shelina dan Argantara menunggu sebentar.


“Kita sering-sering makan kayak gini yuk, Ga. Bosan nggak sih makan di restoran yang modern gitu?”


“Iya jujur gue bosan. Kalau yang kayak gini tuh udah jarang, kenapa ya?”


“Ya karena kalah sama zaman, Ga,”


“Padahal ya, cita rasa makanan, dan tempat makan tradisional itu punya ciri khasnya sendiri lho,”


“Ntar bikin bisnis rumah makan yang tempatnya dan makanannya tradisional yuk, Shel,”


“Hmm? Bikim bisnis bareng?”


“Iya, namti tapi kalau kita udah sama-sama siap. Menurut gue, setelah nikah tuh pas untuk bangun bisnis bareng. Berprosensya bareng, ngerasain susah senangnya juga bareng,”


“Ih mau, kayaknya seru tuh tantangan bikin bisnis kuliner bareng sama pasangan,”


Shelina langsung sependapat dengan Argantara. Mereka tahu tidak mudah, karena yang bangun bisnis hanya dengan satu kepala saja susah, apalagi kalau dua kepala. Tapi di situlah letak tantangannya, dan kalau berhasil melewatinya, rasanya pasti bikin hati meteka puas.


“Kita coba nanti ya. Susah sih pasti. Bakal ada perbedaan pendapat ini itu, tapi banyak kok suami istri yang berhasil bangun bisnis bareng,” ujar Argantara.

__ADS_1


“Semoga kita bisa juga ya,”


“Aamiin, makanya harus kita coba. Kalau kita nggak coba ya nggak bakal tau bisa atau nggaknya. Dan kita nggak akan pernah kenal tantangannya nanti,”


__ADS_2