Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 38


__ADS_3

Shelina berdehem setelah mobil Argantara mulai melaju membelah jalanan menuju kampus mereka. Lagi ini Argantara menjemput Shelina tanpa ada perkataan “Gue disuruh sama Mama jemput lo, jangan geer” seperti biasa yang sering Argantara lontarkan kepada Shelina.


“Lo kenapa? Batuk?”


“Hah? Nggak,”


“Terus kenapa dehem begitu?” Tanya Argantara yang penasaran. Biasanya orang kalau berdehem itu karena batuk sehingga tenggorokan gatal.


“Aku mau ngobrol sama kamu tapi takut ganggu, takut kamu marah jadi mau mastiin dulu pakai cara berdehem,” ucap Shelina yang membuat Argantara terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.


Shelina terkejut karena tak biasanya Argantara mengeluarkan tawanya seperti ini walaupun hanya tawa kecil. Dan jujur Shelina senang ketika Argantara bersikap cair seperi ini.


“Apa yang mau lo omongin sama gue? Hmm?”


“Emang bener ya kata Mama kamu kalau makanan itu dari kamu?”


Argantara berdecak pelan. Sekarang Ia ada di situasi yang jawab jujur gengsi, jawab tidak jujur nanti malah panjang urusannya. Shelina ini tipe perempuan yang penasaran sampai ke akar-akarnya. Terbukti sekarang masih membahas tentang makanan yang diantar oleh Argantara saat Shelina demam.


“Kenapa sih harus bahas itu lagi? Nggak bosen apa?”


“Ya karena aku penasaran banget, aku mau mastiin. Jangan sampai aku senang duluan tapi ternyata nggak sesuai,”

__ADS_1


“Emang lo senang kalau gue nganterin makanan?”


“Iya dong, tandanya kamu perhatian,”


“Jadi lo mau jawaban apa dari gue? Jujur atau bohong aja?”


“Jujur lah, mana ada sih orang yang suka dibohongin,”


Argantara menganggukkan kepalanya sebelum membuka mulut untuk melontarkan jawaban “Iya, emang itu inisiatif gue sendiri untuk datang ke rumah lo bawa makanan,”


“Ya ampun, serius? Aku kaget banget,”


“Eh aku percaya banget kok. Aku yakin jawaban kamu jujur,”


“Lo senang?”


“Senang banget, tapi kalau aku boleh tau kenapa kamu punya inisiatif kayak gitu? Kamu perhatian banget, aku nggak nyangka,”


“Lo lebay, nggak pernah ya diperhatiin sama cowok? Hah?”


Shelina merasa sesak ketika kebahagiaannya dianggap berlebihan padahal setiap manusia itu punya alasan bahagia yang berbeda. Mungkin bagi Argantara perlakuannya itu biasa saja, tapi bagi Shelina itu luar biasa sampai membuat Shelina sangat bahagia.

__ADS_1


“Iya, emang aku nggak pernah dapat perhatian kayak gitu dari laki-laki kecuali Papaku ya. Kalau papaku sih jangan ditanya. Aku bersyukur punya Papa,”


“Pantesan, senang banget gue anterin makanan pas sakit,”


“Ya karena selama ini—“


“Gue jahat ke lo, makanya pas gue baik lo senang banget, pasti lo mau ngomong gitu ‘kan?”


Belum sempat Shelina menyudahi perkataannya, Argantara sudah menyelak dengan perkataan yang berdasarkan sudut pandangnya sendiri.


Argantara yakin Shelina akan mengeluarkan kata-kata itu. Tidak salah kalau memang itulah yang mau disampaikan oleh Shelina karena kenyataannya memang benar. Argantara selama ini tidak pernah baik, selalu ketus, suka marah-marah, jadi ketika Argantara bersikap baik dengan mengantarkan makanan ketika Shelina sakit, Shelina merasa senang karena diperhatikan dengan cara yang tidak terduga.


“Sering-sering ya jadi cowok yang baik, nggak ketus, nggak kasar,”


Argantara menghembuskan napas kasar. Lalu yang dilakukan Argantara selanjutnya membuat Shelina terkejut sekaligus hatinya menghangat. Argantara tiba-tiba meraih tangan Shelina dan menggenggamnya dengan erat.


“Gue minta maaf sama lo,”


“Kamu—ini— ada apa ya? Aku bingung?” Tanya Shelina dengan gugup yang akhirnya membuat Ia terbata-bata ketika bertanya.


“Ya gue minta maaf, kok lo malah nanya ada apa sih?”

__ADS_1


__ADS_2