Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 49


__ADS_3

“Ga, itu Shelina sama nyokapnya ya?”


Argantara menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Ardan, sahabatnya disaat mereka sedang menikmati ramen di sebuah restoran.


Argantara langsung menganggukkan kepala membenarkah. Dan Argantara menyadari Shelina tidak hanya bersama mamanya saja. Ada lelaki muda yang seusia Shelina, bersama wanita yang Argantara tebak adalah ibu dari lelaki itu.


“Sama siapa itu, Ga?”


Argantara diam karena sedang mengingat-ingat. Ia merasa pernah melihat lelaki itu. Dan belum lama juga seingatnya.


“Gue pernah liat dia deh di rumahnya Shelina,” ujar Argantara setelah ingat momen dimana Ia melihat ada tamu yang datang ke rumah Shelina, dan Shelina bilang itu adalah teman sekolahnya, kalau Argantara tak salah ingat.


“Siapa?”


“Temannya Shelina,”


“Hah? Teman? Kenapa sekarang makan sama nyokapnya segala?“


“Ya udah biarin aja lah,”


Argantara tidak mau ambil pusing. Pura-pura tidak tahu kalau ada mereka, adalah jalan terbaik yang dipilih Argantara.


Denis, Ardan, dan Satria langsung menatap satu sama lain sambil menahan senyum mereka masing-masing.


“Cemburu dia ya?” Bisik Denis pada kedua temannya yang langsung menganggukkan kepala.


“Kayaknya,” jawab Satria dan Ardan.

__ADS_1


“Gue nggak cemburu ya, ngapain gue cemburu ngeliat mereka makan bareng?”


Ucapan Argantara langsung membuat ketiga temannya itu tersentak kaget. Mereka tidak menduga kalau Argantara mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Oh nggak budeg kupingnya,” gumam Denis.


“Sembarangan lo! Kuping gue nggak budeg, normal nih! Tai lo,”


“Hahaha,”


“Kok bukan lo sih yang diajakin makan bareng? ‘Kan lo tunangannya Shelina, kenapa malah temannya yang diajakin makan siang bareng?” Tanya Satria.


Argantara berdecak, padahal Ia tidak mau ambil pusing dan menurutnya tak ada yang salah juga bila mereka makan bersama mengingat lelaki itu adalah teman Shelin.


“Ya emang nggak boleh makan sama teman? Hmm?”


“Ya boleh aja sih, cuma kok ngajak nyokap sih?” Tanya Satria.


“Oalah begitu,”


“Lo nggak cemburu, Ga?” Ardan bertanya sambil tersenyum usil menatap Argantara yang langsung memberikan jawaban dengan gelengan kepala.


“Oh kirain gue, lo tuh cemburu,”


“Nggak, gue biasa aja. Ngapain gue cemburu?”


“Paling ntar nelpon Shelina terus ngomel-ngomel,” tebak Denis yang langsung membuat Argantara melotot tidak terima.

__ADS_1


“Gue nggak bakal gitu, anjir,”


“Ah maca ciy?”


Denis bertanya dengan usil menggunakan nada seperti anak kecil yang menjijikan di telinga Argantara.


“Sok imut lu najis!”


“Hahaha, ketauan uring-uringan lo,”


Denis menunjuk Argantara tepat di depan wajahnya dan Argantara segera menepis tangan temannya itu.


“Lo pada kenapa sok tau banget sih? Gue nggak cemburu, anjir,”


“Ya udah santai, keep calm aja, Bro,”


“Lah gue udah santai ini,”


“Samperin gih sana,”


“Ogah! Kayak nggak punya malu kalau gue samperin mereka. Ya udah biarin aja mereka mau makan bareng, emang apa salahnya sih? Kenapa kalian ribet banget?”


“Ya aneh aja gitu, makan bareng kayak yang mau dijodohin. Bukannya lo yang udah dijodohin sama Shelina? Bahkan kalian udah tunangan. Oh atau orangtua Shelina mau batalin pertunangan kalian? Maksudnya, nggak jadi lanjut sampai nikah gitu lho. Gara-gara lo sih,“


“Kok jadi gue?”


“Ya lo udah bisa nerima Shelina belom?”

__ADS_1


Argantara berdecak ketika disalahlahkan oleh Ardan. “Lo bisa diem nggak?”


“Ntar kalau lo nggak bisa bisa juga nerima Shelina nih, lo belum bisa cinta sama dia, ati-ati aja lo,”


__ADS_2