Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 108


__ADS_3

“Udah belum?” Tanya Argantara pada kekasihnya yang saat ini sedang memilih makanan ringan di dalam sebuah minimarket tak jauh dari sekolah mereka.


“Belum, aku lagi cari yang pedas asin gitu. Tapi banyak banget, aku bingung pilihnya. Bantuin aku pilih dong, Ga,”


“Kamu mau yang pedas-pedas? Jangan lah, nanti kamu sakit perut. Kita sebagai manusia tuh jangan cari penyakit, Shel. Orang yang sakit aja mau ngusir penyakitnya, lah kamu malah ngundang penyakit mau datang,” ujar Argantara menasehati kekasihnya supaya menggagalkan niat untuk beli makanan yang pedas. Argantara hanya takut Shelina sakit perut.


“Tapi aku pengen, beli satu aja kok,”


“Ya udah deh terserah,”


“Nggak apa-apa ‘kan?” Tanya Shelina pada Argantara yang mengangkat kedua bahunya. Argantara tidak memberikan izin. Tapi Shelina tetap mau membeli makanan yang pedas.


“Aku anggap boleh ya,” ujar Shelina seraya terkekeh sambil melanjutkan kegiatannya memilih makanan ringan yang pedas.


Setelah dapat keripik kentang dengan bumbu balado, Shelina langsung tersenyum puas. Inilah yang Ia genari, Shelina tertawa puas dalam hati. “Akhirnya dapat juga yang pedas dan keliatan enak,”


“Tau darimana kalau itu enak?”


“Keliatannya sih gitu dari gambar di bungkus,”


“Ya ampun, Shel. Gambar di bungkus-bungkus makanan emang selalu keliatan enak dan jumlahnya banyak. Tapi ‘kan sering dibohongi. Kamu masih polos aja,” ujar Argantara.


“Iya sih, tapi ini feeling aku enak. Udah biarin aja lah aku maunya ini kok,”


“Ya udah deh terserah. Tapi aku nggak mau ya kamu sakit perut. Gambar di bungkusnya aja keliatan pedas banget,”


“Nah kamu juga liat dari bungkus. Awas hati-hati dibohongi lho,” ujar Shelina yang membahas ucapan kekasihnya tadi dan itu membuat Argantara tertawa. Dengan gemas Argantara mencubit pipi Shelina.


“Nggak usah ya? Aku nggak izinin, cari yang lain aja ya,”


Argantara akan mengembalikan makanan ringan yang tadi sudah dimasukkan Shelina ke dalam keranjang belanja yang dibawa oleh Argantara.


“Ih kok begitu sih? Aku pengen banget, Areno,”


“Jangan, Shel. Ini pedas, mending yang sehat-sehat aja sih,”


“Tapi ‘kan cuma sekali-sekali aja,” ujar Shelina yang masih bersikeras ingin menikmati makanan ringan dengan rasa pedas itu.


“Mending biskuit, atau roti tuh. Bikin kenyang daripada beginian bikin sakit perut,”


“Nggak, aku kuat tau,”


Argantara menghembuskan napas pelan, kemudian merangkum kedua pipi Shelina sambil menggeram gemas.


“Kenapa sih susah banget dikasih tau sama aku? Nggak ingat siapa nih yang ngasih tau kamu? Hmm?”


“Ingat,”


“Aku siapanya kamu?”


“Pacar,”

__ADS_1


“Nah ya udah kenapa nggak mau dengar larangan aku? Jangan makan yang pedas-pedas, Shel. Nanti kamu sakit perut,”


“Nggak, aku orangnya kuat kok,”


“Hadeh kamu ini susah bener dikasih tau,” ujar Argantara dengan jengah. Shelina menanggapi dengan senyum lebar.


“Boleh ‘kan?”


“Tuh aneh banget. Udah dilarang masih aja tetap bandel. Tapi ujungnya nanya ‘boleh nggak?’ Udah jelas aku jawab nggak,”


“Jawab iya aja,”


“Nggak,”


“Iya, buruan jawab iya,”


“Nggak,”


“Ih Arga kok nyebelin sih? Aku pelototin terus nih? Kamu nggak takut liat mata aku melotot?”


“Hahaha biarin aja, ntar mata kamu capek sendiri,”


“Ih jahat banget. Ya udah pokoknya aku anggap kamu jawab iya,” ujar Shelina dengan ketus.


Argantara geleng-geleng kepala menghadapi keras kepala kekasihnya. Sudah dilarang, masih juga tetap pada keinginannya. Shelina kalau sudah mode keras kepala memang menyebalkan sekali.


“Jawab iya ‘kan?”


“Shelina, aku udah jawab nggak, kamu kenapa bandel sih? Aku tinggalin di sini kamu ya,”


“Ya abisnya nyebelin banget,”


“Udah pokoknya iya,”


Shelina meraih keranjang belanjaan yang ada di tangan Argantara kemudian Shelina bergegas ke kasir. Argantara menghembuskan napasnya dengan kasar setelah itu geleng-geleng kepala mengamati kekasihnya yang sudah berjalan membawa belanjaan mereka ke kasir.


Argantara langsung bergegas untuk menyusul. “Sini aku aja yang bawa, Shel,”


“Nggak usah, aku aja,”


“Aku aja, itu lumayan berat lho, ada minuman satu liter nya,”


“Ya nggak apa-apa, aku ‘kan kuat orangnya,”


“Ngaku kuat mulu ya padahal mah nggak juga,”


“Eh enak aja, aku kuat kok,”


“Ya udah coba taruh keranjang itu di kepala kuat beneran nggak,”


Tanpa mengeluarkan suara Shelina langsung mengangkat keranjang hendak Ia taruh di kepala dan Argantara yang panik padahal sebelumnya Argantara yang menantang. Tapi sehujurnya itu tidak sungguhan; tapi ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Shelina. Argantara heran dibuatnya.

__ADS_1


“Eh jangan-jangan! Aku cuma bercanda,”


Argantara langsung menahan lengan kekasihnya dan tanpa menunggu waktu lama Argantara mengambil alih keranjang belanjaan yang semula ada di tangan sang kekasih.


“Kamu aneh-aneh aja sih, Shel. Ngapain coba mau dilakuin beneran?”


“Aku tuh suka ngelakuin tantangan,”


“Apaan sih? Suka sih suka, tapi pikirin hal positifnya juga dong, ada atau nggak?”


“Ada,”


“Apa?”


“Itu ‘kan tantangan dari kamu, nah aku mau lakuin karena aku kuat, sekalian latih otot juga,” kata Arani seraya tertawa.


“Ada-ada aja. Kalau mau latih otot ya olahraga bukan angkat keranjang belanja,”


“Itu bukannya termasuk olahraga ya?”


“Ya kalaupun beneran olahraga, jangan ngelakuin di minimarket juga dong, Shel. Malu ‘kan diliat orang, mereka yang lagi belanja ngiranya kamu mau jualan kue,”


Shelina tertawa mendengar ucapan Argantara sambil memegangi perut yang terasa sedikit sakit karena Ia tertawa.


“Iya juga ya. Ngapain aku olahraga di tempat umum begini. Lagian sih kamu, Ga. Kamu ‘kan yang nantang aku untuk taruh keranjang di atas kepala. Aku suka tantangan jadi mau langsung aku lakuin tuh tadi,”


“Shel, aku ‘kan cuma bercanda, masa mau dilakuin sih? Aduh aku nggak paham deh sama kamu. Walaupun aku nantang begini begitu, kamu harus pikirin dulu ada hal positifnya nggak? Kalau nggak ada ya ngapain dilakuin? Aku lagian cuma bercanda, malah kamu anggap serius,”


“Aku mau nunjukkin kalau aku kuat, nggak deh bercanda,”


“Jadi kamu nggak serius mau angkat keranjang nya ke atas kepala kamu?”


“Nggak serius, cuma bercanda juga,”


“Halah bohong, pasti serius deh,” Argantara mencubit hidung bangir tunangannya yang cantik dan memggemaskan itu.


“Nggak, aku cuma bercanda aja kok,”


“Bohong, pasti mau beneran dilakuin. Iya ‘kan? Jujur aja deh, Shelina. Jangan bohong sama aku,”


“Dih, orang aku nggak serius, aku juga kayaknya nggak kuat deh angkat keranjangnya,”


“Kalau aku sih udah pasti kuat. Angkat kamu aja kuat,”


“Yee nggak nyambung banget. Masa larinya ke aku?”


“Nyambung lah, aku angkat kamu aja kuat apalagi keranjang kecil begitu. Yah elah, gampang banget itu sih,”


“Iya deh yang kuat perkasa,” ledek Shelina.


“Iya dong aku ‘kan gagah tiada tertandingi,” kata Argantara sambil tersenyum menatap Shelina yang terkekeh dan langsung mendorong wajah Argantara.

__ADS_1


“Nggak usah senyam-senyum kayak orang stres deh, Ga. Aku takut liatnya lho, serius,”


“Aku emang kuat, perkasa, gagah, berani. Pokoknya semua deh, makanya aku siap jagain kamu,”


__ADS_2