Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 99


__ADS_3

Melihat ada yang menjual lolipop di seberang restoran yang baru saja didatangi, tiba-tiba Argantara ingat dengan momen dimana Shelina pernah menginginkan makanan ringan dan manis itu.


“Aku mau lolipop itu, tapi jauh. Sekarang udha jarang banget deh yang jual lolipop, dulu waktu aku masih kecil perasana banyak yang juaan kok sekarang makin dikit ya penjualnya? Apa karena kurang laku?”


“Ya udah kapan-kapan lo beli sendiri aja. Gue nggak mau beliin lo, ogah!”


Argantara masih ingat sekali bagaimana jawaban yang Ia berikan atas keingiannnya Shelina.


Padahal sangat sederhana, Ia tinggal mendekati penjual lolipop itu dengan menggunakan mobilnya namun Ia memilih untuk abai. Menurutnya saat itu, Ia tidak wajib menuruti keingiann Shelina. Ia berpikir kalau Ia menuruti apapun yang Shelina inginkan, bisa jadi Shelina jadi melunjak.


Sekarang momennya beda. Shelina sudah masuk ke dalam mobil setelah mereka makan bersama di sebuah restoran bebek madura. Dan Argantara ingin menebus kesalahannya dulu.


Ia pernah tidak peduli pada keinginan Shelina sekarang Ia ingin peduli. Ya walaupun terlambat sekali membelikan lolipop, karena sudah berbulan-bulan lalu alias saat awal pertunangan mereka Shelina ingin lolipop itu, tapi Argantara berharap tunangannya itu tetap mau menerima niat baiknya walaupun sangat terlambat.


Argantara menyebrang untuk menghampiri penjual lolipop senentara Shelina di dalam mobil bingung karena Argantara tak kunjung masuk ke dalam mobil, dan begitu Ia menoleh ke belakang ternyata Argantara kelihatan menghampiri penjual lolipop.


“Hah? Arga ngapain ke sana? Kok dia nggak langsung masuk ke mobil sih?” Batin Shelina bertanya-tanya.


Tapi Shelina biarkan saja Argantara menyelesaikan urusannya sendiri. Ia yakin tidak akan lama lagi Argantara akan masuk ke dalam mobil.


Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Argantara datang juga. Alih-alih membuka pintu bagian pengemudi, Argantara justru membuka pintu mobil tempatnya.


“Tebak gue bawa apa buat lo? Bisa nebak? Atau emang udah tau ya?”


“Aku nggak tau, kamu abis ngapain sih?”


“Tebak yang ada di belakang gue sekarang apa?” Tanya Argantara yang sengaja melipat kedua tangannya di belakang punggung menyembunyikan sesuatu.


“Tadi kamu nyamperin tukang lolipop bukan?”


“Udah buruan tebak aja,”


“Nggak tau ah,”


Argantara terbahak mendengar Shelina menjawab dengan ketus. Shelina menyerah sebelum berusaha menebak.


“Ah payah nggak mau nebak dulu,”


“Ih aku males ah. Emang apa sih itu?”


Argantara langsung memberikan dua plastik lolipop kepada Shelina dan tanggapan Shelina langsung kelihatan bahagia sekali.


“Wah ini serius, Ga?” Tanya Shelina pada Argantara yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Iya buat lo semoga lo suka. Maaf ya kalau telat banget. Waktu itu ‘kan lo pernah bilang kalau lo pengen gulali, tapi gue cuek aja, gue malah suruh lo beli sendiri dengan ketusnya gue ngomong ke lo. Nah sekarang gue mau beliin itu buat lo, ya walaupun gue tau udah telat banget, lo mungkin udah langsung beli waktu itu, tapi ini tolong diterima ya,” ujar Argantara sambil tersenyum hangat menatap tunangannya itu.


Mata Shelina berkaca, tentu saja Ia menerima dengan senang hati. Ia sangat bersyukur Argantara mau repot membeli lolipop itu untuknya. Tidak peduli terlambat atau tidak yang Ia lihat adalah niat baik Argantara.


“Makasih banyak ya, Ga,”


“Iya sama-sama, semoga lo suka,”


“Suka dong pasti,” ujar Shelina sambil tersenyum.


Setelah itu Argantara langsung masuk mobil dan melajukan mobilnya ke rumah Shelina. Di sebelahnya Shelina sedang menatapi lolipop yang dibeli oleh Argantara. Terlalu senang dibelikan lolipop oleh Argantara, sampai Ia sayang-sayang lolipop itu.


“Kenapa nggak dimakan?”


“Sayang mau makan nya,”


“Lah, terus mau lo apain kalau nggak dimakan?”


“Aku pajang kali ya?”


“Hahahaha lebay banget masa dipajang,”


“Ya saking aku senangnya dapat inid ari kamu,”


“Makan aja sekarang,”


“Hmm sayang,”


“Ya udah lah terserah, tapi masa iya sih didiemin doang atau dipajang? Itu ‘kan makanan ya harusnya masuk ke mulut lah bukan masuk ke dalam lemarin pajangan,”


“Hmm okay deh,”


Akhirnya Shelina mulai membuka kemasan lolipop tersebut dan Ia segera mengambil sedikit dengan jari tangan kanannya kemudian Ia lahap.


“Hmm enak banget,”


“Kayak bocah,”


“Biarin, emang yang boleh makan ini cuma bocah doang?“


“Ya nggak sih, itu buktinya lo makan,”


“Ini kesukaan aku lho waktu kecil, kamu waktu kecil suka ini nggak?”


“Suka,”


“Oh ya? Sama dong berarti,”


“Ya pantesan kita dijodohin ternyata ada yang sama dari kita berdua,” ujar Argantara.


“Sama-sama suka lolipop hahaha,” ucap Shelina.


“Kalau sekarang masih suka nggak?”


“Nggak, ‘kan bukan bocah lagi,”


“Ah masa sih?”


“Iya,”


“Coba ak dulu dong,”


Shelina mengambil lolipop setelah itu Ia dekatkan ke mulut tunangannya itu. Argantara langsung berdecak pelan.


“Udah dibilang gue nggak suka lagi, ‘kan gue udah nggak bocah,”


“Ih nggak apa-apa, ayo buruan buka mulutnya langsung hap,”


“Lalu ditangkap,”

__ADS_1


Shelina tertawa ketika ucapannya disambung dengan sepenggal lirik lagu masa kecil mereka. Shelina masih mendekatkan lolipop itu dengan mulutnya.


“Ayo buruan buka mulut kamu, ntar aku paksa nih,”


“Emang bisa?”


“Bisa,”


“Gimana cara—hmmp,”


“Hahahaha bisa ‘kan aku? Kehebatan aku emang tiada lawan,” dengan bangganya Shelina berkata seperti itu setelah Ia berhasil memasukkan lolipop ke dalam mulut tunangannya yang kebetulan sedang bicara.


“Untung aja gue tetap fokus nyetir, kalau nggak bahaya buat kita, Shel,”


“Maaf, aku ganggu kamu ya? Ya udah deh aku diam kalau gitu. Aku makan lolipop sendiri, kamu soalnya nggak suka. Tadi tuh aku cuma pengen kamu ngerasain lolipop lagi setelah sekian lama nggak ngerasain,”


“Lagi deh,”


“Hah? Beneran?”


Argantara menganggukkan kepalanya. Sebelumnya Ia menolak, sekarang Ia malah ketagihan.


“Huh tadi aja ngatain aku kayak bocah, tadi bilang ya nggak suka lagi karena udah nggak bocah eh nggak taunya masih doyan tuh,”


“Mungkin karena diauapin lo kali, Shel,”


“Dih bisa aja,”


“Karena disuapin sama lo, jadi gue mau,” ujar lelaki yang masih fokus dengan stir mobilnya itu. Tapi masih bisa berkata manis dan membuat Shelina malu-malu.


“Bisa aja kamu ah,” ujar Shelina sambil mendekatkan lolipop dengan mulut tunangannya itu dan langsung dilahap oleh Argantara.


“Makasih ya,” ucap Argantara.


“Iya sama-sama,”


“Sering-sering aja nyuapin gue,”


“Emang kenapa?”


“Ya karena tangan lo itu ada penyedapnya deh kayaknya,”


“Jiahhh sa ae kang gombal,”


“Hahahaha nggak gombal ini, serius. Ternyata disuapin lo enak juga. Nyesel gue baru sekarang disuapin sama lo. Besok-besok suapin lagi ya?”


“Nggak ada besok-besok. Kali ini aja,”


“Lah kok gitu?”


“Ya—aku males nyuapin kamu,”


“Kok males sih?”


“Karena—kamu udah dewasa masa masih disuapin?”


“Ya nggak apa-apa dong,”


“Emang gue malu-maluin banget ya?”


“Ih bukan gitu, aku tuh paling males diliatin orang. Ngerti ‘kan maksud aku? Aku paking nggak mau jadi pusat perhatian orang dan entah kenapa ya kalau misal ada cewek nyuapin cowok, itu suka diliatin. Jadi aku malu. Padahal mereka tuh belum tentu pacaran gitu, maksud aku barangkali mereka udah nikah tapi kenapa diliatin ya? Bukannya wajar-wajar aja? Kan cuma nyuapin aja apalagi buat yang udah nikah,”


“Oh iya gue paham. Ya mungkin mereka nganggapnya berlebihan kali ya. Orang yang suap-suapan itu lebay, alay, sok mesra,”


“Kamu sama mantan kamu pasti sering ya suap-suapan?” Tanya Shelina dengan senyum usil dan jari telunjuknya mengarah ke Argantara. Ia sengaja menggoda Argantara.


“Nggak sih,”


“Beneran?”


“Iya,”


“Kalau kamu yang disuapin sering dong pasti?”


“Nggak sering juga, kalau lagi bucin aja,”


“Lah bukannya bucin tiap hari,”


“Ya maksud gue kalau lagi pengen disuapin aja gitu, atau dia yang pengen gue suapin. Kalau lagi bucin-bucinnya lah,”


“Terus diliatin nggak?”


“Hmm pernah sih tapi bodo amat,”


“Kalian pernah liburan berdua nggak?”


“Nggak lah, gue belum berani kalau masih pacaran. Beda cerita kalau ada teman ya, nggak cuma berdua doang,” ujar Argantara yang entah kenapa membuat Shelina senang sekali.


“Emang kenapa nanya kayak gitu? Lo pasti ngiranya gue udah pacaran bebas banget ya? Liburan berdua, satu kamar berdua, apa-ala berdua, lo ngira kayak gitu?”


“Hmm sejujurnya sih iya,”


“Nggak, Shel, lo salah kalau ngira kayak giru. Gue emang cinta banget sama mantan gue, bucin banget, liburan pernah bareng tapi ya sama teman-teman dan nggak berdua satu kamar lah,”


“Hidup kamu kayaknya menyenangkan banget ya? Maksud aku, ada jalan-jalan sama teman, kamu punya mantan alias orang yang kamu cinta, kalau aku kayaknya membosankan deh hidupnya,”


“Digaris bawahi, orang yang pernah gue cinta ya. Kata pernahnya diingat tuh,”


“Iya maksud aku, kamu pernah punya orang yang kamu cinta sementara aku nggak, aku nggak ounya mantan, jadi nggak seru kayak orang-orang,”


“Justru gue pengen kayak lo tau,”


“Kenapa?”


“Ya karena hidup lo keliatan anteng-anteng aja gitu. Hidup lo damai, lo anaknya lurus, nggak mau neko-neko,“


“Eh ngomong-ngomong gulali aku satu bungkus udah abis yeayy sisa satu buat di rumah ah,”


“Minum air putih nanti lo batuk,”


“Okay makaish udah ingetin aku. Aku udah sebesar ini masih suka diingetin gitu lho sama Mama Pala aku,”


“Iya biar nggak batuk. Bagus lah diingetin hal yang baik,”

__ADS_1


“Kamu diingetin apa sama orangtua?”


“Sama kayak lo kalau abis makan atau minum manis diingetin untuk minum air putih, terus diingetin jangan suka mabok, jangan suka ngobat, sama hamilin cewek di luar nikah,”


“Astaga serem banget yang terakhir, serius kamu langsung ditembak begitu sama ornagtua kamu?”


Argantara menganggukkan kepalanya. Kelihatannya saja Ia anak yang santai hidupnya, anak yang mungkin dianggap ornag bebas, padahal kalau di rumah Ia benar-bsnar dibentuk jadi anak laki-laki yang baik.


“Gue diajarin untuk jadi cowok yang nggak brengsek makanya pas nyokap bokap tau gue suka jahat ke lo, mereka marah banget waktu itu,”


“Kok mereka tau sih?”


“Ya karena gue ngomong ke mereka tentang lo pakai kata-kata gue yang kejam jadi udah pasti deh mereka tau. Gue beulang kali bilang benci sama lo, nggak mau nikah sama lo, gue sama lo tuh nggak cocok jadi suami istri, lo terlalu begini begitu, pokoknya gue sering ngomong yang jelek-jelek deh sama mereka. Makanya mereka marah banget ke gue, tapi guenya susah berubah,”


“Nggak, sekarang udah jauh lebih baik kok. Semangat ya jadi manusia yang lebih baik, Ga,”


“Iya makasih,”


“Terus apalagi larangan mereka?”


“Hmm intinya itu ada 3 yang barusan gue sebutin,”


“Kalau nasehatnya apa?”


“Jangan kasar, tanggung jawab dalam segala hal, terus—-apalagi ya? Gue lupa deh, oh ibadah, iya ibadah,”


“Keren didikan Mama Papa kamu, Ga,”


“Iya nyokap bokap gue emang keren tapi anaknya nggak ah,”


“Ih kata siapa? Anak didikan orangtua yang hebat pasti akan turun ke anaknya. Kamu jangan terlalu merendah gitu ah,”


“Nanti gue kalau punya anak cowok bakal sama sih kayak mereka. Semoga anak gue nggak kayak gue,”


“Jauh amat udah mikirin anak,”


“Ya ini ‘kan kita lagi bicara untuk masa depan, Shel, emang apa salahnya sih?”


“Hmm itu nanti aja, tapi terserah deh,”


“Gue senang bahas masa depan semoga masa depan gue sebahagia yang gue bayangin,”


“Aamiinkan doa baik,”


*****


“Aku nyariin kamu lho di kelas, ternyata kamu di sini,”


Argantara lansgung meminta salah seorang teman Shelina untuk memggeser posisinya agar menyingkir dari sebelah kanan Shelina karena Ia yang akan menempati posisi itu.


Argantara sengaja menghampiri Shelina di kelansya namun Ia tidak mensmukan Shelina. Akhirnya Ia diajak oleh teman-temannya ke kantin, barangkali Shelina dis ana dan tenryata benar. Argantara melihat Shelina bersama Ganta dan tiga teman perempuannya. Tanpa pikir panjang Argantara langsung menghampiri meja mereka berlima itu. Setelah Argantara datang, jadi ada enak orang di meja tersebut.


“Ih Arga kan masih ada kursi kosong kenapa nyuruh Ica pindah sih? Ica udah nyaman di sebelah aku,”


“Nggak apa-apa kok, Shel?”


“Dengar ‘kan? Dia aja nggak keberatan kok kalau aku duduk di sini, by the way, makasih ya, Ica,”


“Sama-sama, Ga,”


Ica akhirnya bergeser ke kursi lain karena kursinya ditempati oleh Argantara sekarang. Kedatangan Argantara tidak diundang tapi diterima cukup baik oleh teman-teman Shelina. Mereka tidak masalah ketika Argantara datang ke meja mereka.


Tapi yang kelihatan bermasalah adalah Ganta. Karena raut wajah yang smeula berbunga-bunga alias bahagia mendadak berubah menjadi datar tanpa ekspresi ketika Argantara hadir.


“Kamu nggak ngasih tau kalau udah di kantin. Aku nyariin kamu. Akhirnya aku diajak sama teman-teman aku deh ke kantin, kata mereka munhkin kamu di sini dan ternyata benar ya, kamu lagi di sinis aka teman-teman aku,”


“Iya aku lupa ngabarin, lagian aku pikir kamu lagi ada kelas sih. Jadi ya udah aku ke sini aja setelah diajakin mereka. Terus teman-teman kamu gimana?”


“Ya nggak apa-apa, itu mereka duduk di saam,” ujar Argantara seraya menunjuk teman-temannya yang menempati satu buah meja dan saat ini tampak sedang mengobrol.


“Oh nggak apa-apa kalau nggak sama kamu?”


“Ya nggak apa-apa lah, mereka ‘kan bukan anak kecil lagi dan aku bukan bapaknya mereka juga jadi santai, nereka nggak minta ditemenin kok,“ ujar Argantara sambil terkekeh. Justru teman-temannya itu semangat sekali menyuruh Ia untuk menghampiri Shelina yang sedang bersama Ganta. Mereka tidak ingin Argantara lengah.


“Gue nggak apa-apa ‘kan di sini, guys?” Tanya Argantara pada teman-teman Shelina yang langsung menganggukkan kepalanya menunjukkan bahwa mereka tidak keberatan sedikitpun.


“Serius nggak apa-apa?”


“Iyalah, Ga, santai aja. Lo boleh kok gabung sama kita. Nggak amsalah sama sekali justru snak kalau ramai,” ujar Ica.


“Ganta, nggak apa-apa ‘kan?” Kali ini Argantara bertanya pada sahabat dari tunangannya itu. Jujur Argantara penasaran apa jawaban yang akan keluar dari mulut Ganta.


“Iya dong nggak apa-apa, santai aja,”


“Serius gue nggak ganggu?”


“Nggak sama sekali,” jawab Ganta tanpa ekspresi, dan sibuk dengan makanannya. Itulah sebabnya Argantara sudah bisa menebak kalau Ganta kesal alias tidak terima kalau Ia bergabung di meja.


“Okay kalau gitu, gue happy di sini,”


“Kamu nggak pesan makanan?”


“Udah, bentar lagi siantar kali,”


“Kamu pesan apa?”


“Mie ayam, minumnya es teh,”


“Oh, kok bisa sama sih kayak aku padahal nghak janjian?”


“Ya karena jidoh kali makanya sama,”


Shelina tertawa mendengar ucapan dari tinangannya itu. Ica, Vika, dan Dini terkekeh dan menggoda Shelina yang salah tingkah.


“Cie Shelina terbang,”


“Hahaha jangan gitu, guys,”


Reaksi ketika yang lain ketika Argantara bicara seperti itu adalah terkekeh, artinya tidak keberatan dengan ucapan Argantara, neda h dengan Ganta yang malah makan saja, tidak mau gabung dalam obrolan, tertawa pun tidak.


“Cemburu banget kayaknya tapi berusaha ditahan,” ejek Argantara smabil melirik Ganta sinis dan tersenyum miring.


“Lagian aneh banget. Masa suka ssama tunangan orang? Udah dibilang cuma dianggap sahabat aja eh masih usaha keras aja,” barin Argantara.

__ADS_1


__ADS_2