
-Halo Shel, ini aku Defan. Tolong save nomor aku ya biar gampang komunikasi kita, thanks-
-Ok-
Shelina membalas singkat pesan Defan, kemudian Ia menyimpan nomor tak dikenal yang sekarang sudah Ia kenal nomor milik Defan. Disela menemani suaminya berenang, Ia sibuk melihat-lihat postingan orang lain di Instagram dan ada pesan masuk yang langsung Ia buka, ternyata dari Defan yang akhornya bertemu lagi setelah sekian lama tak bertemu.
“Shelina sayang, kamu nggak mau berenang? Yakin nih?”
Shelina menatap suaminya yang naik dari dasar kolam dan duduk di tepi kolam menatap ke arahnya dengan badan yang basah. Argantara hanya mengenakan celana pendek saja ketika berenang. Dibawakan baju untuk berenang, tak mau dikenakan oleh lelaki itu karena katanya Ia terbiasa berenang tanpa baju. Shelina membiarkan, itu pilihan suaminya dan Ia tak ingin memaksa walaupun sebenarnya dibuat cukup terganggu karena suaminya tak memakai baju.
“Yakin,”
“Berenang aja ayo, biar kita sama-sama berenang, sama-sama basah kuyup juga. ‘Kan jarang tuh kita berenang bareng, mau ya? Mau lah pasti, ayo dong, ini permintaan suami kamu lho,” kata Argantara yang mengajak tapi sebenarnya memaksa dengan cara yang halus. Ia ingin istrinya tak hanya duduk di kursi saja, melainkan ikut bergabung dengannya di kolam renang.
“Emang harus?”
“Ya aku sih pengennya berenang sama kamu, Sayang. Emang kamu nggak mau nih?”
“Aku males basah-basahan,”
“Ya kalau berenang pasti basah-basahan, Sayang. Kalau kering-keringan jadinya ikan teri,”
“Hahahaha apa sih kamu? Nggak jelas banget omongannya,”
Argantara membujuk dengan leluconnya hingga mengundang sang istri untuk tertawa. Argantara juga mengulurkan tangan hendak mengundang sang istri supaya bersedia berenang bersamanya.
“Ayo lah, Sayang. Berenang yuk sama aku,”
“Nggak deh, besok aja pagi-pagi kita berenang. ‘Kan masih ada waktu sebelum pulang ke Jakarta,”
“Ah kamu nunda-nunda padahal ‘kan enak. Sore begini berenang, terus abis itu mandi, makan malam, peluk-pelukan deh,” kata Argantara seraya tersenyum usil menatap istrinya sambil menaik turunkan kedua alisnya bergantian.
“Lah kok peluk-pelukan?”
“Ya emang kenapa? Nggak mau pelukan sama aku?”
“Bukan gitu, tapi—“
“Buruan ayo berenang, Sayang,”
“Ya udah aku ganti baju renang dulu ya?” Tanya Shelina pada suaminya yang langsung menjawab dengan gelengan kepala.
“Nggak usah ganti baju, Sayang. Kayak gitu aja. Kamu ‘kan sekarang pakai baju biasa bukan baju pesta jadi ngapain kamu ganti baju?”
__ADS_1
“Tapi ini sayang kalau dipakai berenang,”
“Nggak usah, ayo buruan kita berenang yuk,”
Argantara beranjak menghampiri Shelina yang masih bertahan di kursi dengan payung di atas kepalanya melindungi Shelina dari panas yang masih lumayan terasa walaupun sudah menyentuh senja.
“Mau ‘kan berenang sama aku, Sayang?”
“Iya mau-mau, ayo berenang,”
Shelina menyerah, dan akhirnya menerima ajakan suaminya yang ingin Ia juga ikut berenang. Argantara senang sekali karena istrinya bersedia untuk ikut berenang bersamanya sehingga Ia tak jadi hanya sendirian di kolam renang.
Shelina berjalan lebih dulu mendekati kolam renang dan Argantara hendak menyusul tapi karena melihat layar ponsel istrinya tiba-tiba berkedip, juga bergetar, maka Ia putuskan untuk menahan kakinya agar tak melangkah dulu. Alih-alih menyusul Shelina yang sudah menghampiri kolam renang, Argantara memilih untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Ia buka pesan yang baru saja masuk ke nomor istrinya dan ternyata itu dari Defan, teman istrinya yang baru punya nomor tapi sudah berani kirim pesan bahkan minta disimpan juga nomornya. Membaca itu tentunya langsung membangkitkan rasa kesal di dada Argantara.
-Beneran disimpan ya nomor aku, Shel. Btw, kamu lagi ngapain?-
Argantara langsung memblokir nomor Defan sambil mencibir “Kepo amat sama bini orang. Shelina mau ngapain kek suka-suka dia, bukan urusan lo, Def!”
“Arga, ayo lah berenang. Tadi ngajakin aku, kenapa kamu masih di situ?” Tanya Shelina pada suaminya yang kali ini meletakkan ponsel Shelina di meja seperti tadi.
“Sayang,”
“Hmm?”
“Kenapa, Ga?” Tanya Shelina karena melihat wajah suaminya beda dari sebelumnya. Kelihatan kesal tapi berusaha disembunyikan.
“Defan chat kamu?”
“Oh Defan? Iya dia chat aku minta save nomor dia. Emang kenapa, Ga?”
“Terus kamu save?”
Shelina menganggukkan kepalanya. Tentu Ia menyimpan, karena yang minta disimpan nomor ponselnya itu adalah Defan, orang yang Ia kenal, bahkan berteman dengannya walaupun sudah lama tak bertemu.
“Ngapain kamu simpan nomor dia sih, Shel?”
“Ya karena dia minta, Ga, terus dia ‘kan teman aku,”
“Kamu tau ‘kan aku cemburu? Kok malah disave nomor dia?”
“Tapi cuma save aja kok, nggak yang aneh-aneh. Kamu baca chat dia ya?”
__ADS_1
“Iya barusan dia chat kamu lagi tuh,”
“Ya udah berarti kamu udah liat nggak ada yang aneh dari obrolan kami berdua, iya ‘kan?”
Argantara berdecak, dan tanpa mengatakan apapun lagi, Argantara mulai berenang meninggalkan istrinya yang terdiam dengan heran.
“Argantara kenapa sih? Dia cemburu hanya karena aku simpan nomor Defan dan ngobrol singkat sama Defan tadi? Padahal obrolannya juga nggak yang aneh-aneh. Defan cuma minta simpan nomornya aja dan aku iyain. Kenapa kayak gitu aja cemburu?”
Shelina baru kali ini dihadapkan dengan lelaki yang cemburu. Jadi Ia bingung harus bagaimana sekarang.
“Kamu cemburu beneran, Ga?”
“Ih pake tanya lagi,” batin Argantara seraya membuang muka. Selesai menghilang di dalam air, Ia kembali timbul dan mendengar ucapan istrinya tentu membuatnya semakin kesal.
“Arga, aku minta maaf ya kalau kamu kesal karena aku,”
Argantara sudah tiba di seberang Shelina yang segera menyusulnya. Setelah Shelina tiba di dekatnya, Argantara hendak berenang lagi menjauhi Shelina namun Shelina menahan lengannya.
“Kamu marah sama aku?”
“Nggak, siapa yang marah?”
“Lah ini gayanya kayak lagi marah,”
“Nggak, biasa aja. Aku nggak marah,”
“Kamu beneran cemburu?”
“Ya iyalah, kamu masih nanya juga? Emang masih kurang jelas ya kalau aku tuh cemburu?”
“Okay-okay, aku minta maaf sama kamu. Tapi sumpah, aku sama Defan nggak ngobrolin hal yang negatif kok, dia itu chat aku minta supaya nomornya aku simpan. Ya udah aku simpan. Aku pikir nggak ada masalah simpan nomor teman. Dia ‘kan teman lama aku tuh, jadi aku langsung simpan aja nomornya,”
“Nggak usah lah, ngapain kamu simpan nomor dia?”
“Ya karena dia teman aku, Ga,”
“Tapi aku curiga sama dia, Shelina,”
Kening Shelina mengernyit ketika mendengar ucapan suaminya. Ia benar-benar tidak paham kenapa suaminya merasa curiga kepada Defan.
“Bisa dijelasin alasan kamu curiga itu kenapa?”
“Dia suka tuh sama kamu, aku yakin. Dari cara dia bersikap, aku bisa nilai,”
__ADS_1
“Kamu baru ketemu dia satu kali ‘kan? Kok langsung menyimpulkan begitu?”
“Ya keliatan lah, aku ‘kan cowok. Dan aku tau gimana gelagat cowok kalau lagi naksir sama seseorang,”