Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 147


__ADS_3

"Gimana keadaan Istri saya, Dok?”


Argantara langsung menyambut kedatangan dokter dari ruangan Istrinya dengan pertanyaan yang mengandung rasa cemas.


Ia menatap lelaki parubaya berseragam putih itu dengan harap cemas. Jantungnya berdegup seiring menunggu jawaban dari sang dokter.


"Keadaannya sudah lumayan baik. Tetapi kandungannya masih sangat rentan oleh ancaman dari luar dan dalam termasuk dari Ibunya sendiri yang terlalu banyak pikiran. Sebenarnya ini sangat berbahaya untuk janin dan ibunya, oleh karena itu kejadian ini tidak boleh terulang lagi, pak Arga,”


*******


"Shel!"


Shelina menggigit bibir bawahnya takut saat mendengar suara lantang seseorang dari arah belakang.


Saat ini perempuan mungil itu sedang sibuk di dapur dengan perlatan dapur yang digunakannya untuk memasak seperti rutinitasnya setiap hari.


"Sini!"


Argantara menarik tangan Shelina sedikit kasar hingga membuat tubuh Shelina membentur dadanya.


Argantara mencengkram rahang istrinya lalu mengarahkan Shelina untuk menatapnya.


"Kamu ngapain?"


Tatapan Argantara yang mengintimidasi membuat Shelina bergetar ketakutan. Ia tak berani melihat amarah yang terpancar jelas di mata hitam legam suaminya.


"Aku--aku--"


"Masak? Iya?”


Shelina berjengkit kaget saat mendengar bentakan Argantara lagi. Seperti de javu di masa lalu Ia pernah diperlakukan cukup kasar oleh Argantara.


Argantara yang mengerti ketakutan istrinya langsung meraup wajahnya kasar. Lagi-Lagi ia tak bisa menahan amarahnya.


"Kamu sebenernya nganggep aku atau enggak sih?! Aku ini suami kamu. Seharusnya kamu dengerin semua ucapan aku selama itu baik. Aku udah bilang berkali-kali sama kamu jangan pernah lakuin aktivitas yang berat seperti biasanya, apa kurang jelas? Kamu gak ngehargai aku ya?! Hmm? Jawab sayang! Menurut aku masak itu berat,”


Argantara menatap sendu istrinya yang kini sedang berkaca-kaca.


Otaknya berputar pada kejadian beberapa hari lalu pasca dirawatnya Shelina di rumah sakit dan kejadian itu harus terulang lagi karena kecerobohan Shelina dan Argantara sebagai suami yang harusnya menjaga istrinya dengan baik.

__ADS_1


"Awwws"


Argantara terbangun dari alam mimpinya saat mendengar suara pekikan yang Ia kenal betul suara itu.


Secepat kilat Argantara berlari menuruni tangga menunu asal suara yang sepertinya berasal dari dapur.


Tebakan Argantara benar! Shelina terduduk di lantai dengan wajah pucat dan bibir yang terus menerus mengeluarkan rintihan. Mata Argantara melebar saat mendapati cairan merah yang mengalir dari celah paha istrinya.


"Ya Allah, Sayang,”


Dengan sigap Argantara membopong istrinya yang masih meringis kesakitan.


"Shel? Ya allah kenapa lagi ini, Arga?"


Argantara terus berjalan tanpa peduli Tina  yang berjalan di belakangnya dengan panik saat meliht menantunya telah berada dalam gendongan Argantara.


"Shelina pendarahan lagi, Ma. Arga mau ke rumah sakit."


Hanya itu yang Argantara ucapakan pada mama nya. Ia membuka pintu mobil dibantu oleh mamanya lalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang beberapa hari lalu di kunjungi istrinya.


"Suster! Suster!"


"Arga, sakit. Aww,”


Argantara mengecup hangat kening istrinya memberi kekuatan.


"Sabar ya, Sayang,”


"Suster! Cepat dong! Argh!"


Geram Argantara karena menurut Argantata suster yang sedang berlari kearahnya itu bekerja sangat lambat.


Argantara tidak di perbolehkan masuk sesuai peraturan rumah sakit untuk menjaga kenyamanan pasien dan ketenangan dokter dalam menangani pasien. Argantara dibuat geram dengan larangan itu. Tetapi ia tidak boleh egois. Saat ini keadaan istrinya yang menjadi prioritas untuk Argantara.


“Ya Allah jaga istri dan anakku. Berikanlah mereka kekuatan dalam menghadapi semuanya,”


Argantara menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Kakinya tak henti berjalan tak jelas di depan ruang dimana Shelina berada.


“Gimana keadaan Shelina, Ga?"

__ADS_1


Shefia dan Tina berlari panik kearah Argantara yang masih sibuk mondar-mandir dengan bibir yang tak henti melafal doa.


Argantara menatap kedua ibu tersebut dengan lirih. Lagi-Lagi Argantara mengecewakan kedua orangtua dan mertuanya.


“Belum tau, Ma,”


“Dok, gimana keadaan istri saya? Dia baik-baik aja kan? Anak saya gimana keadaannya, dok?"


Argantara melontarkan pertanyaan yang panjang pada dokter itu.


“Pendarahan yang cukup hebat,”


****


“Maaf,”


Shelina menangis di dalam dekapan Argantara dan itu berhasil membuat Argantara terbangun dari ingatannya beberapa hari lalu.


Cobaan yang harus di hadapai oleh Argantara dan Shelina ketika ingin memiliki keturunan sangatlah berat. Mulai dari keguguran untuk yang pertama kalinya dihadapi Shelina hingga pendarahan untuk kedua kalinya yang harus Shelina alami dalam waktu yang berjarak singkat.


Inilah bumbu pernikahan mereka. Banyak rintangan yang harus mereka taklukan demi meraih sebuah kebahagiaan di dalam bahtera rumah tangga suatu saat nanti sampai di lengkapi dengan buah cinta mereka.


"Kamu masih mau ulangi ini lagi? Kamu mau anak kita kenapa-napa? Kamu mau kehilangan anak kita? Mau, Shel?"


Air mata Shelina lolos saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya. Tidak! Cukup satu kali ia kehilangan malaikat kecilnya. Kalau sampai hal itu terjadi lagi, Shelina tak akan memaafkan dirinya sendiri.


Mata Argantara yang tadi tajam menusuk kini mulai lembut menatap istrinya. Ia hanya memberi peringaan sebelum kejadian pahit itu terulang lagi. Kehilangan bagian penting didalam hidupnya adalah mimpi buruk untuk Jino.


"Enggak! Aku enggak mau kehilangan anak aku, Jino!“


Shelina memekik histeris saat membayangkan musibah itu terjadi lagi. Sungguh ia tak sanggup.


Shelina terisak di dalam pelukan Argantara yang sedang berusaha memberinya ketenangan.


"Sttt, udah gak usah nangis, Sayang. Kalau kamu gak mau kehialngan lagi berarti kamu harus bisa menjaganya sama aku juga ya?"


Argantara mengusap punggung istrinya yang maish bergetar hebat. Hati Argantara teriris saat mendengar isak tangis istrinya yang masih terdengar keras mengoyak batinnya.


Lelaki tampan itu tak henti mengecup kepala istrinya yang berkeringat karena menghabiskan tenaga hanya untuk menangis histeris.

__ADS_1


"Janji jangan bandel lagi ya?"


Shelina mengangguk pelan di pelukan suaminya. Argantara dapat bernapas lega karena istrinya yang sedikit keras kepala ini mau mendengarkan perintahnya. Argantara terpaksa berbuat kasar demi Shelina dan buah hati mereka. Sebenarnya Argantara juga tak ingin menyakiti wanita yang ia cintai itu tetapi itu adalah satu-satunya cara agar istrinya itu patuh pada perintahnya.


__ADS_2