Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 127


__ADS_3

“Shel, aku mau ajak kamu ke acara ulang tahun temen kelas aku, mau nggak?”


Shelina sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, dan tiba-tiba ada panggilan masuk dari Argantara yang langsung Ia terima.


Argantara mendadak ingin mengajaknya untuk datang ke acara ulang tahun teman Argantara. Shelina bingung karena tidak ada persiapan apapun, dan Shelina juga tidak mendapatkan undangan itu. Shelina tidak enak kalau tiba-tiba datang.


“Kamu serius ngajakin aku?”


“Iya, Shel. Aku pengen kamu temenin aku ke acara ulang tahun Diana,”


“Tapi aku ‘kan nggak diundang, dan aku juga nggak kenal sama Diana,”


“Ya makanya nanti kenalan aja di sana. Emang pada bawa pasangan kok, Shel. Jadi tenang aja, santai, kamu nggak akan diusir. Banyak yang bawa pasangan dan memang begitu yang Diana mau,”


“Ya kamu bawa pasangan kamu aja, Ga,”


“Siapa? Pasangan aku ya kamu, ‘kan sekarang aku dekatnya sama kamu ya walaupun belum bisa dibilang pasangan resmi sih,” ujar Argantara seraya terkekeh kecil.


Argantara disuruh Shelina untuk membawa pasangan. Argantara bingung harus membawa siapa. Karena yang dekat dengan Argantara saat ini adalah Shelina. Makanya Ia mengajak Shelina.


“Kamu mikirnya aku punya pasangan?”


“Ya kali aja gitu,”


“Aku lagi deket sama kamu, masa deket sama yang lain juga? Ya janganlah. Makanya aku ajak kamu, karena aku deketnya sama kamu. Jadi kamu mau ‘kan pergi sama aku ke acara ulang tahun Diana? Kamu nggak lagi sibuk ‘kan? Ntar malam acaranya, Shel,”


“Oh nanti malam ya? Okay, aku bisa,”


“Nggak sibuk ‘kan?”


“Nggak kok kalau nanti malam, kalau sekarang emang aku lagi ngerjain tugas,”


“Okay, nanti aku jemput kamu ke rumah ya,”


“Iya, aku izin mamaku dulu ya? Semoga dikasih izin,”


Argantara terkekeh, Ia mendekati perempuan yang apa-apa harus dengan izin orangtua dulu walaupun usianya termasuk sudah cukup dewasa. Jadi Argantara harus terbiasa akan hal itu. Dan jujur Ia tidak keberatan sama sekali. Karena orangtua Shelina, juga terbuka walaupun sekarang dalam masa kecewa padanya


“Nanti aku izin sama Tante Shefia deh,”


Tentu Argantara tidak akan melupakan kewajibannya untuk meminta izin pada Shefia sebelum mengajak Shelina pergi malam ini. Dan entah kenapa Ia percaya diri mamanya Shelina akan mengizinkan. Karena Shefia percaya padanya. Indah sendiri pernah bicara seperti itu. Indah tidak khawatir bila Argantara bersamanya.


“Iya-iya, sekarang udah dulu ngobrolnya ya. Aku mau lanjut kerjain tugas,”


“Okay, semangat nugasnya. Nanti malam aku jemput, jangan lupa siap-siap ya, Shel. Bye, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


********


“Punya Bang Arga, Bu,”


Pak Idam, security rumah datang membawa empat kotak pizza dan Ia langsung menyerahkannya kepada sang majikan, Tina.


“Oh Arga pesen pizza. Okay, makasih Pak,”


Tina langsung memanggil putra semata wayangnya itu. Argantara tengah sibuk dengan game di ruang keluarga, usai berkutat dengan tugas sebentar.


Argantara segera menghampiri mamanya di ruang makan. Argantara menatap pizza di meja makan dengan mata berbinar.


“Woah udah datang?”


“Iya, kamu pesan sampai empat kotak,”


“Iya buat di sini, Ma. Bagi-bagi aja buat Pak Idam, Bibi, jangan lupa. Terus aku mau tanya, kira-kira cocok nggak kalau itu aku beliin itu juga buat Kia. Soalnya itu ‘kan pizza baru buka ya, Ma. Aku pengen ACC rasanya dulu nih dari mama baru deh aku pesan lagi buat Argantara. Lumayan untuk temenin dia nugas,”


“Wow, anak mama makin berani maju ya,” ledek Tina dengan senyum lebarnya. Tina menjawil dagu Argantara hingga membuat Argantara tertawa dan menghindar.


“Kenapa sih, Ma? Kok malah aku diledekin? Aku ‘kan mau berbuat baik,”


“Iya-iya mama paham. Coba ya mama makan dulu pizzanya,”


“Kalau enak, baru aku pesan buat Kia,”


Tina langsung mengambil satu slice pizza kemudian Ia diam sesaat untuk menilai cita rasanya. Lima detik Ia diam, kemudian Ia langsung mengangkat ibu jarinya.


“Mantap rasanya, Ga,”


“Okay, ACC berarti ya, Ma?”


“ACC kirimin juga buat Shelina supaya dia nyobain,”


“Itu pizza baru buka soalnya, Ma. Jadi aku takut nggak enak,”


“Enak kok, enak banget menurut mama. Kamu makan deh, ini mama bagiin juga ke orang rumah,”


“Nanti dulu deh, Ma. Aku mau pesenin buat Shelina,”


“Cie yang mau jadiin Shelina prioritas sebelum diri sendiri,”


Argantara menanggapi ledekan mamanya dengan tawa saja. Setelah itu Argantara memesankan pizza untuk Shelina. Tadinya ingin sekalian pesan untuk orang di rumahnya sendiri, dan juga untuk Shelina namun karena Ia ragu rasa pizzanya tidak enak berhubung pizza itu baru grand opening hari ini, jadi Ia ingin mendengar pendapat mamanya dulu sebelum memesankan pizza itu untuk Shelina.


Ternyata kata mamanya, pizza itu enak. Maka dari itu, Ia langsung memesan untuk Kia dengan harapan Shelina senang dan menyukai pizza kirimannya. Setelah memesan lewat aplikasi, barulah Argantara mengambil satu slice pizza dan melahapnya di depan Tina.


“Gimana? Enak ‘kan?”


“Iya enak, Ma,”


“Mama kalau udah bilang enak, pasti beneran enak, Sayang,”


“Mama chef terbaik emang,”


“Lah, keren banget sebutannya. Nggak lah, chef darimana? Dari negeri dongeng?”


“Ma, Shelina juga hobi masak lho, Ma,”


“Oh ya? Kamu kok tau?”


Tina tersenyum mengetahui anaknya membicarakan Shelina. Argantara tahu kalau Shelina suka memasak.


“Tau, Ma. Aku sama dia ‘kan udah banyak ngobrol,”


“Ngobrolin apa aja kalau boleh tau?”


“Banyak, Ma. Ada aja hal yang diobrolin kalau udah ketemu. Oh iya nanti malam aku mau pergi sama Kia ke acara ulang tahun temen aku, Diana,”


“Oh gitu? Kapan acaranya? Hati-hati ya bawa anak orang. Seperti biasa, pesan mama selalu itu,”


“Iya, Ma. Acara sih jam delapan, tapi mudah-mudahan sebelum jam delapan udah sampe,”


“Pesan mama, jangan terlalu malam pulangnya ya, Nak. Soalnya kamu harus antar Shelina, terus kamu juga pulang ke rumah malam-malam mama khawatir,”


“Iya, nggak sampe jam satu kok,”


“Ya janganlah! Sebelum jam sepuluh udah pulang pokoknya. Kalau kamu sendiri sih mama khawatirnya cuma sama kamu, nah ini kamu bawa anak cewek tante Indah sama Om Tama,”


“Calon istri aku juga,” imbuh Argantara seraya tersenyum tipis. Tina langsung menepuk tangannya sekali, secara tiba-tiba. Itu ekspresi senang yang ditunjukkan Tina mendengar ucapan Argantara yang dengan terang-terangan mengakui kalau Shelina itu calon istrinya.


“Buru-buru dipertegas deh hubungan kalian,”


“Aku nggak mau ngajak dia pacaran, aku mau langsung aja kalau emang udah benar-benar yakin,”


“Tapi nanti takutnya keburu diambil orang,”


“Mama jangan ngomong gitu, omongan bisa jadi doa, Ma. Aku ‘kan lagi berusaha untuk deketin Shelina ini, Ma. Sambil bikin dia yakin, dan aku juga lagi yakinin diri aku sendiri, lagian udah tunangan ini kan,”


********


“Shel, gue pinjem tugas lo boleh nggak? Asli, gue puyeng banget,”


Shelina menatap Tita dengan mata memicing. Sudah Ia duga, kedatangan sahabatnya ke sini pasti ada maksud yang berkaitan dengan tugas karena sebelum datang ke rumahnya jelas-jelas Tita mengatakan bahwa dirinya sedang dipusingkan dengan tugas, tak lama kemudian tiba-tiba Tita sudah ada di depan rumahnya.


“Udah aku tebak sih, saking puyeng sampai rambut berantakan tuh, kamu nggak sadar?”


Tita berdecak sambil mengusap kasar rambutnya ke belakang. “Iya nih, gue kelewat puyeng,”


“Kamu nggak pake helm juga kayaknya ya? Jadi kebawa angin itu rambut,”


“Iya nggak mikirin helm lagi, Shel. Gue tuh pengen buru-buru ketemu lo, pengen minta bantuan,”


“Ya udah masuk dulu yuk, aku kasih minum sama makan, terus aku bantuin tugasnya,”


“Asyikk emang lo yang terbaik deh, nggak ada yang bisa nandingin,”


Tita bersorak bahagia bahkan sampai mengangkat kedua tangannya yang terkepal ketika Shelina mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah, bahkan ingin dilayani dengan baik juga oleh Shelina.


“Duduk dulu ya di sini, aku ke dapur dulu,” ujar Shelina pada sahabatnya itu supaya duduk di sofa ruang tamu. Ia hendak mengambil minum dan makanan yang Ia punya untuk Tita. Namun belum juga kakinya melangkah ke dapur, tiba-tiba ada yang memanggil-manggil namanya dari arah luar.


“Tita, aku keluar dulu bentar ya, ada yang datang tuh,”


“Okay-okay, gebetan lo kali yang manggil,”


“Nggak deh kayaknya, mungkin kurir antar paket,”


“Oh iya bener,”


Shelina langsung cepat-cepat keluar untuk menemui orang yang sempat memanggilnya tapi sekarang tak terdengar lagi karena rupanya ketika Shelina keluar, Pak Ikhsan security rumahnya sudah menemui seseorang yang datang itu.


Shelina mengamati dari depan pintu saja tak menghampiri. Tak lama kemudian Pak Ikhsan sudah selesai bicara dengan lelaki yang datang dengan sepeda motornya. Shelina mengernyit ketika melihat Pak Ikhsan membawa plastik dan berjalan hendak masuk ke dalam rumah.


“Eh Mba Kia. Ini ada titipan, Mba. Dari Mas Arga,”


Pak Ikhsan tersenyum melihat Shelina ada di depan pintu. Langsung saja Pak Ikhsan menyerahkan kiriman yang baru saja Ia terima kepada si pemilik.


“Dari Argantara, Pak?”


“Iya, Mba. Kata pak kurirnya tadi, dari Mas Argantara untuk Mba Shelina,”


“Ini buat bapak,”


Ujar Shelina segera menyerahkan satu kotak pizza kepada Pak Ikhsan yang menerima dengan senyum. “Beneran ini, Mba?”


“Iya, Pak. Buat bapak jaga di pos,”


“Oke, makasih ya, Mba,”


“Sama-sama,” ujar Shelina seraya tersenyum lembut kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan pizza pemberian Argantara di meja ruang tamu. Tita mengernyit menatap kotak pizza itu.


“Darimana, Shel?”


“Dari Arga,”


“Kirain lo pesen,”


“Nggak, aku baru aja mau ambilin makanan sama minum buat kamu,”


“Air putih aja, Shel,”

__ADS_1


“Makan pizza mau ‘kan? Apa mau nasi? Ada lauk kok,”


“Eh nggak usah, air minum aja,”


“Ya udah kalau nggak mau nasi, makan pizza aja ya? Kamu suka ‘kan?”


“Gue mah apaan aja juga doyan, Shel. Lo tenang aja kalau punya tamu kayak gue,” ujar Tita seraya tertawa.


“Ya udah bentar aku ambilin air putih dulu ya,”


“Sip, makasih ya, Shel,”


“Okay, sama-sama,”


Shelina bergegas ke dapur hendak mengambil air minum untuk Tita yang ada di ruang tamu. Setelah itu Ia kembali ke ruang tamu, dan bergegas ke kamar untuk mengambil laptop serta bukunya.


“Ayo dimakan dulu, Tita,”


“Iya, Shel,”


“Arga tiba-tiba ada ngirim pizza. Padahal nggak bilang sebelumnya,” ujar Shelina.


Shelina baru ingat belum mengucapkan terimakasih pada Argantara, Ia segera meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan ke Argantara yang kali ini tiba-tiba mengirimkan pizza.


-Ga, makasih pizza nya. Tapi lain kali jangan repot-repot lagi ya-


Tak lama kemudian Argantara membalas pesannya. Tidak sampai dua menit, Shelina sudah mendapatkan balasan.


-Okay sama-sama, Shel. Dimakan ya, semoga kamu suka. Itu pizza baru grand opening. Kata mama aku sih enak, semoga aja cocok juga di lidah kamu. Bisa jadi temen kamu ngerjain tugas-


-Aku udah selesai ngerjain tugas. Sekarang lagi ada Tita-


-Tita ngapain ke situ? Mau nugas sama kamu?-


-Iya, Ga-


-Ya udah semangat temenin Tita nugas ya. Jangan lupa ntar malam jalan sama aku ke acara ultah Diana-


Pesan dari Argantara itu Shelina balas dengan stiker berupa ibu jari. Setelah itu obrolan mereka lewat pesan singkat sudah berakhir.


*******


“Ga, temenin mama ke mall mau nggak? Mama mau beli baju karena ada acara arisan minggu depan, pengen beli baju baru, udah lama nggak beli baju,”


Argantara yang sedang menikmati pizza sambil menonton film thriller di kamar, langsung menoleh ke arah pintu kamarnya yang sengaja dibuka oleh sang mama.


Argantara langsung menganggukkan kepalanya tak keberatan. Ia melahap pizza di tangannya yang tersisa sedikit kemudian Ia meneguk es teh. Setelahnya, Ia pause film yang sedang Ia nikmati.


Apa yang tidak untuk mamanya? Kalau bisa, semua keinginan sang mama, ingin Argantara penuhi, apalagi bila sekedar mengantarkan ke mal. Pikirnya, menyenangkan juga sore-sore menemani mamanya ke mall.


“Beneran nggak apa-apa?”


“Iya nggak apa-apa kok, Ma. Aku anterin ya, Ma,”


“Asyik, okay kita pergi sekarang ya,”


“Aku siap-siap dulu,”


“Mama juga,”


Tina senang sekali karena anaknya bersedia menemaninya ke mall sore ini. Ia merasa bosan di rumah makanya mengajak Argantara pergi sebentar ke mall. Dan Argantara juga di rumah saja hari ini, lebih banyak di kamarnya. Daripada cuma di kamar, lebih baik Ia ajak pergi sebentar.


Argantara berganti baju. Hanya dengan baju kaos, dan celana jeans, setelah itu Ia langsung keluar dari kamar, menunggu mamanya di ruang tamu.


Ia duduk sambil memutar-mutar kunci mobil di tangannya, tak lama kemudian Tina sudah selesai bersiap.


“Ayo berangkat sekarang,”


“Okay, Ma,”


Argantara membukakan pintu mobil mempersilahkan Tina untuk masuk kemudian Ia menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


“Ke mall ‘kan, Ma?”


“Iya, masa ke bioskop? Ngapain? Mama nggak begitu suka nonton bioskop, berisik,”


“Ya namanya juga bioskop, Ma. Kalau nggak mau berisik, kita nonton aja di rumah,”


“Mama sukanya ke mall aja kalau butuh hiburan,”


“Mama mau beli baju aja ya?”


“Iya, mama mau cari baju buat arisan. Dress code nya warna putih. Mudah-mudahan ada baju putih yang bagus dan mama taksir deh. Sekalian mama mau beliin baju untuk Kia juga,”


“Hah? Kok beli baju buat Kia? Emang Shelina mau ulang tahun?”


“Ya nggak sih, tapi mama pengen aja beliin Shelina baju. Nggak boleh ya?”


“Terserah mama. ‘Kan mama yang mau beliin Shelina baju,”


“Mama mau pilihin, semoga dia suka deh,”


“Mama kayaknya welcome banget ya sama dia, beda kalau aku deket sama cewek lain,” ujar Argantara yang paham betul bagaimana mamanya.


Ketika Ia dekat dengan yang lain, Mamanya menanggapi dengan baik dan menerima perempuan itu dengan tangan terbuka ketika datang ke rumah. Akan tetap Argantara bisa melihat perbedaan ketika Tina bersama Shelina.


Tina lebih hangat, dan lebih akrab, mungkin karena orangtua Shelina juga adalah sahabatnya. Sementara waktu itu ketika Ia membawa perempuan lain ke rumah, Tina hanya menyapa sebentar, mempersilahkan untuk menikmati hidangan, tak begitu banyak berinteraksi, dan malah kesannya menghindar. Tina lebih banyak di kamar saja. Beda cerita kalau Shelina yang Argantara bawa ke rumah. Benar-benar tak bisa lepas dari Shelina, terus mengajak Shelina mengobrol, diselingi bercanda.


“Mama klop banget sama Kia, sama mamanya juga. Mama nggak maksa kalian berjodoh sih, tapi harapannya kalian jodoh,”


“Kalau aku jodoh sama yang lain, apa mama bakal kecewa?”


“Tapi waktu itu aku deket sama cewek, aku kenalin ke mama, tanggapan mama tuh biasa aja,”


“Mama tuh sebenarnya main feeling juga, Ga. Kalau misal hati mama kurang sreg gitu, pasti kamu bisa liat dari gelagat mama,”


“Kalau sama Shelina sreg ya?”


“Woah bukan sreg lagi, udah sreg-sreg banget mama ke Shelina. Selain mama udah kenal dia, mama udah tau juga asal usulnya. Udah kenal dekat sama orangtuanya, bahkan ayah kalian ‘kan bersahabat banget dari zaman sekolah, jadi ya udah beda lah kalau ke Shelina,”


“Ya, doain aja yang terbaik buat aku ya, Ma. Belum tau juga aku bakal sama siapa, sekarang sih emang lagi dekat sama Shelina, tapi nggak tau jodoh atau nggak,”


“Pasti mama doain, Nak. Nama kamu itu selalu aja mama sebut kalau mama berdoa, nggak pernah ketinggalan lah pokoknya,” ujar Tina seraya menepuk lembut bahu anaknya berulang kali.


*******


Tita meregangkan kedua tangannya setelah berhasil menyelesaikan tugas. Ia membaringkan kepalanya di atas meja ruang tamu kediaman Shelina.


“Capek gue, Shelina,”


“Tapi Alhamdulillah selesai juga ‘kan,”


“Pokoknya abis dari rumah lo nih, gue harus puas-puasin nonton drama, bodo amat gue nggak mau tau,” ujarnya berapi-api. Ia sudah kelelahan mengerjakan tugas dan rencananya akan menonton drama sepulangnya dari rumah Shelina.


Shelina yang sedang membereskan peralatan tulisnya dibuat terkejut ketika tiba-tiba saja Tita menepuk meja.


“Apa sih, Ta? Aku kaget tau,”


“Shelina, tugas udahan nih. Lo udah bantu gue buat ngerjain tugas, sekali lagi thanks ya. Nah sekarang gue penasaran nih,”


“Penasaran apa?”


“Lo sama Argantara lagi deket ya?”


“Deket? Iya emang deket, ‘kan udah kenal dari kecil, dan orangtua aku sama dia juga berteman,”


“Tapi kalian berdua pacaran nggak?”


“Nggak, aku sama Argantara nggak pacaran, Ta,”


“Terus apa? Pengen nikah?”


“Ya ampun, sat set banget ya,”


“Iya, biasanya modelan kayak lo nih orangnya sat set. Tau-tau nikah aja. Diam-diam udah ada paksu nanti,”


“Belum, aku sama Arga emang dekat, dijodohin juga sama orangtua, cuma kita lagi sama-sama yakinin diri dulu sebelum ambil keputusan ya sambil nunggu kelulusan lah,”


“Hah?! Jadi lo sama Arga udah beneran mau nikah nih dan itu keinginan orangtua kalian? Kapan waktunya?”


“Awalnya dia nggak setuju, eh tapi sekarang dia malah mau dekat sama aku dulu katanya,”


“Udah langsung gass aja harusnya. Takutnya sama-sama digondol orang, eh nggak jadi ketemu di pelaminan nanti,”


“Ya kalau jodoh nggak bakal kemana, Ta,”


“Gue doain jodoh deh, biar lo nggak jomblo mulu,”


“Ih biarin, jomblo tuh seru lho, Ta,”


“Nggak ah, jomblo tuh nggak asyik,”


“Asyik-asyik aja? Malah lebih enak apa-apa tuh sendiri, jadi mandiri gitu ceritanya, Ta,”


“Nggak asyik kalau nggak ada pacar, nggak ada temen jalan,”


“Ada kalau aku mah. Aku ‘kan punya kamu, Ta, ada Lifa juga yang bisa jadi temen jalan aku, temen cerita aku selain mama. Aku sih nggak masalah kalau jomblo,”


“Iya deh sekarang jomblo, bentar lagi mah nikah. Duh ngeri, suaminya Arga nih,”


“Eh kamu jangan ngomong begitu. Belum tentu dia yang suami aku ya walaupun udah tunangan sih,”


“Lah orang dia lagi usaha, masa sih hati lo nggak tergerak, Shel?”


“Bukan nggak tergerak, emang lagi deket aja dulu, sambil yakinin diri mau ke jenjang yang lebih serius. Aku sama dia ‘kan harus sama-sama yakin,”


“Pokoknya kalau kalian jadian, atau bahkan sampai nikah, jangan lupa ngomong ke gue, Lifa ya, Shel. Awas aja kalau nggak cerita-cerita, kita bakal kesel sih sama lo, bisa musuhan juga,”


“Ya jangan dong, masa musuhan sama aku sih? Aku pasti cerita kok ke kalian. Tapi kalau sekarang ‘kan emang cuma deket biasa aja, bukan apa-apa,”


******


Argantara menjadi asisten dari mamanya. Ia berjalan di belakang Tina, memegang shopping bag berisi baju-baju pilihan Tina.


Tina menoleh ke belakang setelah memilih dua baju, kemudian Ia tertawa melihat anaknya yang melenggang dengan santai sambil melihat-lihat baju yang dijajakan.


“Ga, kamu jalannya sama mama dong, udah kayak bodyguard aja di belakang mama,”


“Nggak, aku tuh asisten mama,”


“Ya udah sini jalan barengan,”


“Nggak apa-apa, Ma. Mendingan mama fokus belanja aja, aku liat-liat, barangkali ada yang bagus aku mau beli,”


“Beli baju perempuan? Untuk siapa?”


“Ya untuk Shelina, Ma,”

__ADS_1


“Oh gitu,”


“Tapi aku payah deh dalam urusan milih baju, jadi mendingan mama aja yang milih buat Shelina, aku nggak bisa. Aku nggak paham gimana selera dia. Takutnya dia nggak suka sama yang aku pilih,”


“Okay serahin sama mama aja,”


Argantara menganggukkan kepalanya. Tina sudah selesai memilih baju untuk dirinya sendiri. Sekarang saatnya Ia memilih baju untuk Kia dan Argantara masih setia menjadi asistennya.


“Ga, mama mau beliin satu set buat Kia ya?”


“Ya udah terserah mama. ‘Kan mama yang paham soal baju, Ma, aku nggak tau apa-apa, aku payah soal memilih,”


“Asal nggak payah aja dalam memilih pasangan,”


“Mama nih bisa aja. Nggak kok, Ma. Lagian ada mama yang bantu filter, supaya aku nggak salah pilih,”


“Tenang, selagi masih ada mama, Insya Allah mama tau yang terbaik untuk kamu, Insya Allah mama bantu kamu dalam memilih,”


Tina mengajak anaknya ke tempat pakaian yang satu set, modelnya anak muda sekali dan ada satu yang diincar Tina. Warnanya merah muda yang lembut. Satu set yang terdiri dari celana dan cardigan itu warnanya senada.


“Kira-kira, Shel suka ini nggak, Ga?” Tanya Tina pada putra semata wayangnya itu. Ia ingin meminta pendapat Argantara. Karena Argantara sering berinteraksi dengan Shelina, barangkali Argantara tahu apa yang Shelina suka, mulai dari model baju dan, warna baju dan sebagainya.


“Suka, Ma. Dia suka baju yang cewek banget,”


“Nah ya udah mama pilih ini deh. Tapi beneran suka ‘kan? Takutnya nggak dipakai sama Shelina, karena dia nggak suka sama bajunya,”


“Dia pasti suka, Ma. Apapun yang orang kasih, Kia pasti terima dengab senang hati, dia orangnya menghargai banget kok,”


“Okay, semoga Shelina suka. Mama mau cari baju tidur buat Shelina,”


“Baju tidur?”


“Iya, nggak apa-apa ‘kan?”


“Ya nggak apa-apa, terserah mama aja pokoknya. Baju tidur yang kayak apa, Ma?” Tanya Argantara penasaran yang diincar selanjutnya oleh sang mama baju seperti apa.


“Yang kayak itu tuh,” kata Tina seraya menunjuk baju seksi berbahan satin berwarna merah merona. Argantara langsung membelalakkan matanya dan itu mengundang tawa geli Tina.


“Hahahah kamu tegang amat ngeliat baju itu, mama cuma bercanda kok. Nggak mungkinlah mama beliin itu sekarang. Kalau Shelina udah nikah boleh juga tuh kayaknya, nikah sama kamu ya,”


“Ya aku kaget, Ma. Aku pikir mama beneran mau bsli itu untuk Shelina. Kok bisa-bisanya mama kepikiran mau beli baju laknat itu,”


“Eh kok baju laknat? Kebanyakan laki-laki suka kalau istrinya pakai baju itu. Nanti kalau udah jadi suami, kamu juga paham. Nah sekarang, mama cari baju yang biasa aja dulu. Kalau yang itu nanti aja, pas mama udah punya mantu, supaya semangat kasih cucu buat mama,”


Argantara geleng-geleng kepala. Masih belum paham, kenapa baju yang Ia sebut laknat itu, malah mau dibeli oleh mamanya untuk sang menantu nanti. Padahal menurutnya ada banyak baju yang wajar, kenapa harus membeli yang tidak wajar. Tapi kata mamanya tadi, Ia akan paham setelah menikah nanti.


“Baju tidurnya yang terusan aja deh,”


“Kayak daster, Ma?”


“Iya betul, itu nyaman ‘kan dipake,”


“Dia sering tuh pake itu, sopan sih, dibawah lutut sama ada lengan, cuma ‘kan biasanya cewek-cewek yang masih muda gitu kurang suka pake yang modelan kayak gitu ya, Ma?”


“Iya, karena biasanya emang keliatan lebih dewasa kalau udah pake baju rumah yang terusan kayak daster gitu. Tapi kalau yang nyaman ya suka-suka aja, berarti Shelina termasuk yang nyaman pakai baju sederhana macam itu. Mama liat bajunya bagus-bagus sih, sopan juga,”


“Emang bajunya bagus-bagus, baju rumahannya juga meskipun sederhana tapi bagus dan sopan kok, dia tau apa yang pantes dia pake,”


“Bikin kamu jadi makin pengen deketin dia ya?”


Argantara terkekeh dan mengangguk membenarkan. Pribadi Shelina membuatnya tertarik, termasuk caranya berbusana. Ia tak menampik hal itu.


“Nah ini anggun nih,”


Tina memilih dres berwarna biru muda, yang bermotif salur-salur warna putih dan ada tali di bagian pinggang. Panjang dres itu Tina perkirakan sampai di betis Shelina, dan lengannya sampai ke siku. Tina kembali meminta pendapat anaknya yang mengangguk setuju.


“Iya itu aja, Ma,”


“Bagus ‘kan?”


“Bagus, apa yang mama pilih pasti bagus,”


“Ya udah ayo ke kasir,”


“Mama duduk aja, biar aku yang ke kasir,”


“Okay, tau aja mamanya capek. Maklum, udah faktor u, jadi gampang capek,”


“Faktor usia?”


“Iya, masa harus mama jelasin? Malu dong Mama, makanya cuma disingkat pakai huruf U aja,”


Sontak Argantara tertawa mendengar ucapan mamanya. Beginilah senangnya punya mama seperti Tina, yang bisa bercanda, kalau saatnya lagi tegas benar-benar tegas tak bisa dibantah.


*******


“Shel, kamu kenapa malah tidur, Nak? Eh ganti baju sana, katanya bakal pergi sama Argantara,”


Shefia penasaran anaknya sudah bersiap atau belum. Setelah sholat Isya bersamanya, Shelina langsung masuk ke dalam kamar, Ia pikir Shelina sedang bersiap untuk pergi dengan Argantara.


Tapi ternyata setelah Shefia datang ke kamar Shelina, Indah melihat putri tunggalnya itu berbaring di atas ranjang memeluk bonekanya.


“Emang Argantara udah datang?”


“Belum, tapi nanti Argantara datang bisa jadi dia langsung ngajakin pergi, kok kamu belum siap-siap? Jadi ‘kan perginya?”


“Jadi sih kayaknya,”


“Kok kayaknya? Terakhir kalian berkabar kapan?” Tanya Shefia pada anaknya seraya menutup pintu kamar.


“Tadi pas aku bilang makasih untuk pizza yang dia kirim,”


“Ya jadi berarti, Nak. Kalau nggak jadi ‘kan pasti dikasih tau sama Arga,”


“Ya udah deh aku siap-siap,”


“Keliatan banget anak mama ini males keluar rumah. Ayolah, Sayang. Jangan di rumah mulu. Sesekali pergi keluar,”


“Iya, emang aku males sebenarnya, Ma. Apalagi aku jarang-jarang banget pergi malam, tanpa mama,”


“Nggak apa-apa, Insya Allah aman. ‘Kan sama Arga, ya semoga dia nggak sia-siakan kepercayaan mama papa,”


“Okay, aku siap-siap sekarang,”


“Ya udah mama tunggu di bawah. Mama rasa bentar lagi Argantara datang,” ujar Shefia seraya bergegas meninggalkan kamar anak satu-satu ya itu. Ia ke lantai bawah dan benar saja tak lama kemudian lelaki yang hendak mengajak anak perempuannya pergi malam ini sudah datang dengan kemeja berwarna hitam, dan celana putih. Argantara kelihatan semakin tampan dan berwibawa dengan pakaiannya yang membalut badannya itu.


“Duduk dulu ya, Shelina lagi siap-siap,”


“Iya, Tante,”


Shefia bergegas ke dapur untuk mengambil air minum juga kue kering kemudian Ia bawa ke ruang tamu.


“Ayo minum dulu, Ga,”


“Makasih, Tante,”


“Sama-sama. Gimana jalanan ke sini? Nggak macet ‘kan?”


Shefia duduk berhadapan dengan Argantara yang datang dengan penampilan rapi. Kelihatan niat sekali ingin pergi ke pesta ulang tahun temannya bersama Shelina. Sementara Shelina malas-malasan. Tadi saja kalau Ia tidak menegur, bisa jadi Shelina sudah terlelap.


“Shelina ragu tadi, kirain nggak jadi pergi,”


“Padahal aku udah chat tadi sebelum Maghrib,”


“Oh ya? Berarti dia nggak liat-liat handphone. Malah santai di tempat tidur, hampir tidur itu kayaknya kalau Tante nggak datang ke kamarnya. Tapi dia biasanya emang nggak lama kok kalau siap-siap pergi, anaknya nggak ribet,”


Ucapan Shefia itu terbukti. Sekarang Argantara bisa melihat Shelina datang ke ruang tamu dengan dress berwarna merah muda.


“Nah udah datang nih anaknya,”


“Aku izin bawa Shelina ya, Tante. Mau langsung pergi aja. Biar tepat waktu ke sana dan nggak pulang terlalu malam juga,”


“Iya kamu udah izin tadi telepon Tante langsung. Hati-hati ya,”


“Makasih, Tante. Setelah datang ke pesta ulang tahun Diana, aku langsung antar Shelina ke rumah ya, Tan,”


“Iya, Ga. Baik-baik kalian ya,”


“Assalamualaikum,”


Argantara dan Shelina mencium tangan Indah bergantian, mengucap salam dengan kompak. Keduanya terkekeh menyadari itu.


“Kok bisa kompak sih?”


“Jodoh kali, ya semoga,” celetuk Shefia.


Shefia mengantarkan Shelina dan Argantara keluar sampai mereka masuk ke dalam mobil. Shelina menurunkan kaca jendela mobil dan melambai pada sang mama.


Setelah benar-benar meninggalkan kediamannya, barulah Shelina menaikkan kembali kaca jendela mobil hingga benar-benar tertutup supaya angin malam tak masuk ke dalam mobil yang sudah terasa dingin karena AC.


“Shelina, ada hadiah dari mama aku buat kamu. Semoga kamu suka ya,”


“Hadiah? Aku ‘kan nggak lagi ulang tahun, Ar,”


“Mama aku pengen aja ngasih itu untuk kamu, mama yang pilih sendiri,” ujar Argantara menjelaskan pada Shelina yang bingung mendapatkan kado dari Tina, padahal Ia tidak sedang merayakan ulang tahun.


“Hadiah apa?”


“Bentar, aku pinggirin mobil dulu,”


Argantara mencari tempat aman untuk berhenti sejenak. Setelah itu Ia sengaja menempatkan mobil di pinggir jalan setelah itu Ia membalik badannya ke arah belakang untuk mengambil satu paper bag berisi baju pemberian Tina untuk Shelina.


Ia segera menyerahkannya kepada Shelina yang menerima dengan senyum. Siapa yang tak senang mendapatkan kado? Semua orang pasti senang, termasuk Shelina. Tidak sedang berulang tahun, hari ini tidak ada perayaan momen istimewa tapi Ia mendapatkan kado.


“Makasih ya, bilang Tante Tina makasih banyak untuk kado ya. Aku suka banget dan pasti berguna untuk aku,”


“Belum diliat, udah bilang suka. Coba kamu buka aja dulu, aku sambil jalan lagi,” ujar Argantara meminta Shelina melihat dulu isi dari paper bag yang baru saja Ia serahkan, sementara Ia kembali melajukan mobilnya.


“Woah baju. Bagus banget, Ga. Serius, aku suka,”


“Beneran? Nanti aku sampein ke mama ya,”


“Iya ini bagus, aku suka. Warna, model, pokoknya bagus. Ini beneran Tante Tina yang pilih? Pantesan tau banget apa yang cocok untuk aku ya,”


“Iya, bukan aku yang milih. Aku nggak bisa milih, payah banget. Daripada salah pilih terus kamu nggak suka dan nggak mau pakai baju yang aku pilih mendingan mama aja yang milih,”


“Apapun yang aku terima dari orang lain, pasti aku suka dan aku berterimakasih,”


“Mama tadinya takut salah pilih. Takutnya kamu nggak suka, aku bilang ke mama kalau kamu tuh pasti suka apalagi pilihan mama tuh biasanya nggak pernah salah buat orang, kamu orangnya menghargai banget,”


“Kamu temenin Tante Tina belanja ini?”


“Temenin dong, tadi sebelum ke rumah kamu aku sama mama ke mall. Mama mau belanja baju buat arisan, terus sekalian beli buat kamu. Semangat banget mama mau milihin baju buat kamu. Buat calon mantu katanya,”


“Shel, kayaknya Mama kamu mulai mencair lagi semoga nggak ada keraguan lagi ya supaya langkah kita ke depannya dipermudah,”


“Maksudnya?”

__ADS_1


“Ya kalau dari sikap Mama kamu sih udah kayak biasanya ke aku,”


__ADS_2